Showing posts with label Cerita Persahabatan. Show all posts
Showing posts with label Cerita Persahabatan. Show all posts

Cincin Kenangan By Nadia Alzahra Humaira

Cincin Kenangan
Penulis: Nadia Alzahra Humaira

Pagi ini Dira dibuat tertawa ria oleh Ririn, sahabatnya. Ia bercerita tentang banyak hal, tentang Mas Hendra yang udah gede tapi takut sama gelap, tentang Mini mouse lucu miliknya yang sering diajaknya tidur bareng, tentang Imah (pembantuya) yang hobi nyanyi lagu dangdut setiap hari dan terakhir tentang jalinan kasihnya dengan Dirga, cowok yang ia kenal didunia maya. Katanya, mereka berjanji untuk beremu disuatu hari dan nggak akan upload foto selama mereka belum ketemu. Itu hal yang konyol sekaligus aneh bagi Dira, ia pun menertawakannya.

“aku sama Dirga mau ketemuan Dir.”
“kapan?.”
“liburan nanti, aku udah nggak sabar Ra.”
Dira nggak nyangka, ternyata Ririn dan Dirga serius ngejalanin hubungan mereka. Bahkan ia sempat kagum pada sosok Dirga yang begitu romantic pada Ririn. Dirga begitu istimewa dihati Ririn hingga ia merasa iri dibuatnya.

Sayangnya, nasib cinta Dira nggak pernah sesukses Ririn, ia harus menuai kenyataan pahit semenjak setahun yang lalu. Pacar pertamanya yang bernama Rian pergi darinya untuk selamanya. karena kecelakaan. Hari itu tepat dengan ulang tahun Dira, saat Rian sedang menuju rumah Dira dengan membawa seutas cincin untuk hadiah ulang tahun kekasihnya. Namun naas, saat didepan rumah Dira, tiba-tiba truk menabrak motornya hingga tubuhnya terbanting jauh. Dira dan para undangan berhamburan keluar rumah dan menemui Rian yang sudah terkapar penuh darah. Dira menangis sejadi-jadinya dan memeluk Rian,
“kamu harus kuat Rian, kamu harus bertahan, please” ucapnya dengan terisak.
Disaat terakhirnya, ia masih sempat memberikan cincin pada Dira dan setelah itu juga ia pergi untuk selama-lamanya dari hidup Dira. Dan hingga sekarang, cincin itu tak pernah lepas dari jari manis Dira. Bahkan sampai saat ini tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan sosok Rian dihatinya walau sudah banyak cowok yang dekat dengannya.

Kring… bel tanda istirahat berbunyi, saatnya Dira dan Ririn mengisi perutnya yang sudah menagihnya sejak pagi. Hari ini menu makan siang mereka berbeda dari kemarin. Hari ini mereka memesan soto banjar Bu Ida yang markir didepan sekolahnya. Soto yang paling enak disekolahnya itu mereka nikmati bersama ditaman sekolah walaupun Ririn masih seru dengan laptopnya dan chatting dengan Dirga. Dira hanya tersenyum melihat sahabatnya yang sedang kasmaran itu.
“ ceelah.. nie orang lagi kasmaran, gak henti-hentinya nyengir ya..” ledek Dira.
“ ah kamu ini Dir, kaya nggak pernah kasmaran aja!.” Sahut Ririn dengan meledek Dira balik.
Mereka pun tertawa sambil bergegas menuju kelas kembali karena bel sudah berbunyi.

Sepulang sekolah, Dira istirahat dikamar dan tidak sengaja matanya tertuju pada kalender yang bergaris merah dan hitam. Sebuah tanda dimana ada sebauh kebahagiaan dan kesedihan di hari yang bersangkutan. Dira baru sadar bahwa dua hari lagi usianya akan bertambah dan bersama itu pula, genap satu tahun Rian meninggalkannya. Dengan cepat ia meraih fotonya bersama Rian yang berada disamping tempat tidurnya itu, tepatnya diatas lemari kecil yang berwarna biru. Ia mulai menatap pesona Rian lagi, disaat ia tersenyum manis dan merangkulnya. Disana, mereka tampak begitu bahagia dengan tersenyum manis bersama.

Dira pun menangis dan memeluk boneka, foto, dan mencium cincin pemberian Rian hingga ia tertidur dan bermimpi. Ia bermimpi, Rian kembali hadir dalam hidupnya, ia nampak begitu tampan bak seorang pangeran. Ia tersenyum manis pada Dira, menatapnya dengan manja. Namun dalam mimpinya, saat Rian ingin memeluknya, mereka tidak bisa menyentuh satu sama lain hingga akhirnya sosok Rian mulai pudar dan menghilang.

Pagi itu begitu cerah namun tak secerah hati Dira, ia nampak begitu sedih dan murung. Ia masih mengingat mimpinya, yang seakan-kan melihat sosok Rian bak hidup kembali. Moodnya tiba-tiba hilang, disekolah ia nampak murung hingga membuat teman-temannya heran melihatnya. Karena sosok Dira pagi ini berubah, Dira yang ceria tiba-tiba menghilang dan seakan kembali seperti ia kehilangan Rian dulu padahal hari itu hasil ujiannya akan dibagikan.

Disaat pengumuman hasil ujian sekolah, Dira kembali mendapatkan peringkat pertama dikelasnya sedangkan Ririn masih tetap dibawahnya. Mungkin inilah satu-satunya jalan yang bisa membuat Dira tersenyem kembali. Ia naik keatas panggung bersama para juara lainnya. Orang tuanya bangga melihat keberhaslan anak bungsu mereka itu.
“Mungkin ini adalah kado terindah dari Tuhan untukku, hadiah teristimewa untuk ulang tahunku mekipun dulu yang menempati ini adalah hadiah Rian, tapi sekarag dia sudah pergi.” Ucap Dira dalam hati.
Cincin Kenangan By Nadia Alzahra Humaira
Cincin Kenangan By Nadia Alzahra Humaira

Dimalam ulang tahunnya, Dira tak mendapat ucapan dari orang tua, kakaknya, keluarganya bahkan teman-temannya. Dira menangis dikamarnya dan tak mau keluar kamar meskipun untuk makan sekalipun. Padahal Ibunya sudah membujuknya beberapa kali tapi tetap saja ia tidak mau. Ia menangis hingga ia teridur dan bermimpi Rian lagi. Rian berkata padanya,
“ Happy Brithday ly, aku sayaaaang banget sama kamu”
Namun tiba-tiba
buarr..
ia diguyur air oleh kakaknya dan segera bangun bersamaan dengan diyanyikannya lagu ulang tahun oleh orang tua dan kakaknya serta teman-temannya yang memang sengaja hadir untuknya. Namun ada yang aneh, Ririrn tidak hadir diacaranya. Ia menelponnya berkali-kali namun tidak juga diangkat. Hingga akhirnya ia menyerah dan merasa kesal pada Ririn.

Dipagi hari ulang tahunnya, ia dibangunkan dengan suara telpon rumahnya. Ia bangun dan menerima telpon yang ternyata dari orang tuanya Ririn,
“hello, ini Dira Septiana kan?”
“iya, ini siapa?”
“ini Ibunya Ririn nak, kamu cepat ke RSCM ya, Ibu tunggu”
Dira kaget bukan main, ia mulai merasa ada hal aneh pada Ririn, ia seakan akan menjadi takut kehilangan Ririn. Dengan cepat, ia membangunkan kakaknya agar segera mengantarnya ke Rumah sakit. Ia begitu khawatir dengan Ririn, ia takut kehilangan Ririn seperti ia kehilangan Rian dulu.

Setibanya dirumah sakit, orang tuanya Ririn telah menunggunya diloby rumah sakit dan membawanya kesebuah ruang ICU. Dira kaget melihat Ririn yang terbaring lemah dengan beberapa selang, ia bagaikan seseorang yang mengidap penyakit ganas. Dan ternyata benar, kata Ibunya, Ririn sudah mengidap kanker ganas setelah setahun yang lalu dan kemarin kankernya kambuh. Ia juga mengatakan kalau Ririn meminta Dira datang kerumah sakit karena ia ingin mengatakan sesuatu padanya. Lima menit kemudian, Ririn siuman dan meminta Dira masuk keruangan sendirian.
“Dir, sebelum aku pergi, aku pengen minta satu permintaan aja sama kamu, please!”
“Baik Rin, aku janji akan ngelakuin apa yang kamu minta!”
“kamu janji Ra?”
“Iya, aku janji, demi kamu!”
Ririn melepas cincin pemberian Dirga seminggu yang lalu, yang ia kirimkan disalah satu agen pengiriman barang.
“Please Dir, terima cincin ini dan besok, kamu temui Dirga ya, alamatnya ada di laptopku, kamu buka aja facebookku, please Dir, p…lease”
Cincin itu terjatuh dari tangannya dan ia menutup matanya untuk selamanya. Dengan cepat, Dira memanggil orang tuanya dan dokter. Dengan menangis, Ibunya memeluk Ririn yang telah terbujur kaku. Dira menangis sejadi-jadinya bahkan ia hampir pingsan tapi untunglah ada Dimas, kakaknya.

Setelah pemakaman usai, ponsel Ririn bordering yang disana tertulis “my lovely”, Dira bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Ia ingin menerima panggilan itu tapi hatinya berkata ‘jangan’ hingga akhirnya ia putuskan untuk menerimanya.
“bee, aku tunggu kamu ditaman kota ya!, aku udah nggak sabar bee ketemu kamu, aku punya surprise bee, cepetan ya!.“
Panggilan itu berakhir padahal Dira belum sempat bicara.
Dira segera pergi menuju taman kota untuk menemui Dirga, pacar Ririn. Setibanya disana, Dira mengirim pesan melalui ponsel Ririn.
“kamu dimana?”
Beberapa detik kemudian, bbmnya dibalas,
“aku didekat pohon yang dekat danau bee.”

Dira pun segera menuju tempat yang dikatakan Dirga, ia sempat penasaran dengan Dirga yang selama ini begitu baik pada Ririn. Tapi sayang, Ririn tak sempat melihat bagaimana wujud Dirga dialam nyata, bukan didunia maya.

Setelah beberapa menit berjalan akhirnya Dira menemukan tempat dimana Dirga berada. Disana, Dira melihat ada dua orang pria yang sedang menunggu. Yang satu menggunakan baju berwarna merah, rambutnya keriting, wajahnya pas-pasan, kulitnya hitam. Lantas saja Dira kaget melihatnya, ia takut kalau orang itu adalah Dirga. Tapi pemuda satunya itu tampak berbalikan dengan pemuda yang tadi. Orang itu memakai baju biru muda dan bercelana jeans hitam, rambutnya lurus dan keren, kulitnya putih seperti Dira dan yang tak ketinggalan, cowok itu ganteng. Dira harap, orang itulah Dirga, karena ia takut Ririn kecewa kalau Dirga itu seperti orang tadi.

Dira bingung, ia takut salah orang tapi untunglah, ia mendapat ide brilian. Ia mencoba miscall Dirga dan betapa ia kaget, kedua-duanya memegang ponselnya. Ia semakin bingung setelah idenya gagal total, tapi ia pantang menyerah. Ia mencoba mengingat-ngingat cerita Ririn sebulan yang lalu. Saat Ririn menceritakan apa saja yang disukai Dirga. Dan akhirnya ia ingat, Dirga paling benci warna merah dan paling suka dengan warna biru. Iapun tahu jawabannya, ia mencoba menemui pemuda tampan itu.
“ee..hay, kamu Dirga?”
Dengan tersenyum,pemuda itu menjawab
“iya.”

Mereka berdua saling diam tanpa bicara. Dira bingung harus berkata apa dulu, hingga akhirnya ia putuskan untuk mengeluarkan foto Ririn dari tasnya dan menyerahkannya pada Dirga. Walau tampak bingung, Dirga mengambil foto itu dengan sedikit ragu.
“ini foto siapa bee?, foto sahabat kamu itu ya?, tapi tenang bee cantikkan kamu ko!.”
Dira kaget dengan pernyataan Dirga, Dira bingung mau jawab apa.

“maaf, itu bukan Dira. Dira itu saya.”
“kamu becanda kan bee?”
“nggak, aku beneran Dira.”
“terus, Ririn mana?, dan foto ini..?”
“di.. dia itu Ririn, dia sudah pergi Dir!”
Dirga terlihat begitu kaget dengan apa yang dikatakan Dira. Ia nampak tak percaya hingga akhirnya Dira membawanya menuju pemakaman, tempat peristirahatan terakhir Ririn dan sekalian juga ia ingin menemui Rian dimakamnya.

Dari luar gerbang, makam Ririn sudah terlihat. Makam itu masih basah dan begitu sejuk karena dinaungi pohon melati yang cukup besar dibelakangnya. Makam itu bertuliskan ‘Maurin adelia’, Dirga nampak syok dengan kenyataan yang ada. Ia seperti ingin menyalahkan Tuhan. Tapi untunglah, Dira segera mencegahnya dan menunjukkan pada Dirga dengan makam yang bersebrangan dengan makam Ririn. Makam itu bertuliskan ‘Rian Prayoga’, seseorang yang begitu istimewa dihati Dira. Dirga pun kaget melihat kesamaan nasibnya dengan Dira, mereka pun sama-sama membeli bunga mawar putih untuk Rian dan Ririn, seseorang yang begitu special dihati mereka. Setelah setahun berlalu, Dirga dan Dira semakin dekat, merekapun juga sudah kuliah dan semakin dewasa. Tapi mereka tidak pernah lupa dengan Rian dan Ririn, yang takkan pernah tergantikan oleh waktu dihati mereka masing masing.

The End

Tentang Penulis:
Nama: Nadia Alzahra Humaira
Facebook: www.facebook.com/NadiaAlzahraHumaira
Panggil saja saya Nadia. Saya siswa SMA kelas XI IPA 1 di SMAN 1 Samboja.
Temui saya di
fb : Nadia Alzahra Humaira
Twitter : DindaPelangi52
Pin BB : 29C8B91D

Cerita Persahabatan: Sahabat Akan Selalu Ada By Rahma Richan

CERITA PERSAHABATAN: SAHABAT AKAN SELALU ADA 
Penulis: Rahma Richan

Kenalkan nama ku jesika ananta dirumah aku sering dipangil dengan sebutan sisi sampai teman teman ku tak mengenal nama asli ku siapa karna tebiasa dengan nama sisi,,sekarang usia ku 6th ,,aku sahabat dekat nama nya sella aku sangat sayang dya semua kegiatan kami lakukan bersama,pernah suatu hari aku ketiduran dirumah nya dan mama mencari ku sampai larut malam dan menemukan ku tertidur dikamar sella ,,

waktu pun berlalu begitu cepat kini umur ku 9th sama seperti sella usia kami hanya beda 1 bulan aku bulan agustus dan dy bulan july,,di usia ku sekarang aku kelas 5 sD umur 5tn kami sudah masuk Sd karena kepintaran kami tapi sayang persahabatan kami sekarang harus kami jalani secara jarak jauh karena papa ku harus pindah tugas ke paris ,,aku pun berpisah dengan sella sahabat ku,,,sebelum berangkat ku temui dy terlebih dahulu ,dan ku peluk dy ku pengang tangan nya dan ku dekat kan di detak jantung ku lalu ku ucapkan kata sahabat akan selalu ada,,,dy pun berucap dengan kata yang sama,,,aku pun mulay berpisah dengan nya.

semenjak hari itu aku berpisah dengan nya ku jalani hari hari ku dengan penuh kebosanan,,apa lagi semenjak dya tak pernah sms aku atau menelpon entah apa yang ada dalam pikiran nya sekarang sehinga dya mulay melupakan ku mungkin sibuk atau memiliki sahabat baru,,,kini aku mulay beranjak dewasa ..16th ya 16th usia ku sekarang .di usia ku sekarang aku mendapatkan hoby balap motor ini lah hoby ini yang mengobati kebosanan ku walau pun hoby ini di tentang keras oleh mama tapi ku tetap mejali nya,,aku selalu menang disetiap lomba balap di adakan,,,tapi sayang dari sekian banyak perlombaan yang ku ikuti papa dan mama tak pernah menyempatkan diri tuk menghadiri,,,

entah mengapa pada hari itu ..aku merasa papa dan mama harus hadir diperlombaan ku kali ini padahal selama ini aku tak pernah lagi membicara kan masalah lomba kepada papa dan mama karena percuma mereka tak akan hadir...
pada hari itu ku pangil papa yang sedang santai karena tak ada mitting hari ini begitu pun mama

pa ma besok aku ada perlombaan balap motor aku harap papa dan mama bisa datang untuk kali ini saja ( ucap ku dengan penuh harap )

dan tak ku sangka
papa = iya nanti papa dan mama datang ,,iya kan ma

mama = iya itu pasti sayang,,,memang nya jam berapa perlombaan nya di mulay ( tanya mama dengan senyum )

aku = jam 9 ma perlombaan nya sudah dimulay

mama= jamm 9 ya nanti papa dan mama datang lebih awal ,,
papa= iya nanti kita datang lebih awal

aku= makasih ya ma pa,,,ku peluk mereka dengan sayang

tiba waktu perlombaan ku ,,dengan motor kesayangan ku,,,aku berada dibarisan ke lima ku lihat sekeliling ku ,,ku temukan wajah papa dan mama yang memberi kan teriakan penuh semangat,,,bendera dikibar kan tanda perlombaan dimulay...ku gas motor kesayangan ku dengan penuh kekuatan dan rasa bangga..karena ku yakin aku pasti bisa menang lagi ,,,waktu pun berlalu tak ku sangka ku telah sampai garis finish aku menang ya aku pemenang nya teriak ku dalam hati 5menit sesampai nya digaris finish tabrak kan kencang terjadi lawan ku lepas kendali hingga menabrak motor ku dari belakang aku terlempar jauh hingga diri ku tertabrak oleh motor lain nya setelah itu aku tak tau lagi apa yang terjadi,,hanya ada sayup suara terdengar memangil diri ku,,,setelah itu lenyap seketika..

aku tetidur lelap entah berapa lama,,,hingga saat ku sadar aku berada ditempat yang asing dan tubuh ku terasa sakit semua dengan dipenuhi berbagai alat dan disamping ku ada seorang perempuan yang sedang tertidur dengan memegang tangan ku,,tak sengaja ku tarik tangan ku yang dipegang nya hingga ia terbangun,,

Sayang kamu sudah sadar nak ucap nya,,aku tak tau siapa dya,,aku pun tak kenal siapa aku.
aku dimana,,
ini dirumah sakit nak jawab nya,,,kamu siapa tanya ku dengan heran,,
dan dya menanggis ,,,kamu tidak mengenal mama,,ini mama nak,,,mama kamu sayang ini mama,,teriak nya untuk meyakin kan ku,,sedikit pun aku tak mengenal dya,,
tak lama kemudian dokter masuk,,dan meminta perempuan itu keluar,,
entah apa yang dilakukan dokter pada diri ku,,mungkin mengecek diri ku,,tak lama kemudian dokter itu keluar ,,dan aku masih bertanya tanya siapa diri ku..tak lama kemudian perempuan itu masuk lagi,,dan memeluk ku dengan erat,,dan berkata mama akan bantu kamu menginggat semua nya,,

2 minggu dari ke jadian itu,,ku biasakan memanggil perempuan itu dengan sebutan mama begitu juga dengan pria yang selalu mendapingi nya dengan pangilan papa,,,dan bilang kalau aku adalah jesyka ananta anak mereka satu satu nya dan aku pun berusaha percaya dengan apa yang mereka kata kan..

Cerita Persahabatan: Sahabat Akan Selalu Ada By Rahma Richan

Cerita Persahabatan Lainnya: Kumpulan Cerita Persahabatan

1 bulan berlalu kini ku telah berada dirumah dan sebagian ingatan ku pun telah kembali ,,,kini ku benar benar percaya kalau mereka memang orang tua ku,,,tapi sebagian masalalu ku,,sampai sekarang aku belum ingat,,,
sekarang usia ku 17th aku mulay kuliah di salah satu unuversitas paris tapi sayang dikampus ini aku hanya menjalani kuliah hanya sampai 6bulan karena papa dan mama sudah sepakat mengirim ku kembali ke indonesia agar terhindar dari hoby ku balap motor karena mama takut kejadia kemarin terulang lagi,,,
karena ku takut papa dan mama kecewa akhir nya kuturuti perintah mereka,,,

Kini ku sampai di indonesia,,dan diri ku telah terdaftar di universitas terbaik di indonesia,,dikampus tersebut ku dapat teman baru nama nya silvia dya baik dan perhatian ada juga nadin dya juga baik tapi sedikit cuek,,silvia adalah anak dari pengusaha terkaya tapi sayang orang tua nya tak pernah memberikan perhatian kepada nya dikarena kan sibuk berbisnis,,,sedangkan nadin tidak memiliki orang tua dari sejak kecil dya sudah mandiri hingga mendapatkan beasiswa masuk kekampus ini,,,sejak SMA silvia sudah meningalkan rumah nya dan tingal bersama nadin disebuah kontrakan yang sederhana jauh dari kemewahan.

Hari hari pun selalu kami jalani bersama,,dari mulay bermain musik hingga membentuk suatu tim basket dikampus,,nama kami pun mulay dikenal banyak orang setelah mengalahkan berbagai tim basket dari berbagai kampus,,hingga kampus kami pun menjadi semakin ternama,,,dibalik kesuksesan yang ku jalani ada seseorang yang tak menyukai ku dari mulay aku menginjak kan kaki dikampus ini siapa lagi kalau bukan marshella ya sella dy selalu dipangil dengan sebutan sella dya selalu menjadi saingan berat ku dya sangat pintar diberbagai bidang,,dya juga satu tim dengan ku tim basket dya lah kapten basket,,tapi entah mengapa apa pun yang dy lakukan terhadap diri ku ,,aku tak merasa dendam dan sedikut pun aku tak ingin membalas apa pun yang dya lakukan terhadap diri ku,,,dan tak tau apa yang ada dalam pikiran ku setiap kali dya ada masalah aku selalu berusaha melindungi nya,,sering kali ku menyelamatkan nya dari berbagai masalah,,,tapi setiap kali ku melindungi nya aku selalu memakai helm karena aku selalu takut menampak kan diri dihadapan nya,,,sehingga dya tak pernah tau siapa seseorang yang selalu melindungi nya.

Sampai satu ketika sahabat terdekat nya keyna hampir ditabrak mobil depan mata ku,,,ku selamatkan dy dengan cepat dan tak ku sangka saat kudorong dy dari tabrakan mobil itu dya terlempar dan terjatuh hingga kepala nya membentur batu pada saat kejadian sella menyaksi kan apa yang ku lakukan shella mengira aku sengaja mendorong keyna hinga jatuh dan pingsan,,,
shella mendekati aku yang sedang memeluk keyna

aku= bangun key bangun key,,,lo denger suara gw kan key ( teriak ku dengan rasa cemas )

shella = keyna sadar key,,awas lo biar gw bawa keyna ke rumah sakit
( ucap shella )
ditarik nya tubuh keyna dari peluk kan ku,,dan di angkat nya msuk ke mobil ,,mereka pun pergi menuju kerumah sakit,,,
dengat cepat ku berlari mengambil mobil ku,,,
sesampai nya ku disana,,ku lihat ada cindy,,rizky,,abel,shella,,dan reysya sepupu keyna.
belum sempat ku tanya ke adaan keyna,,shella sudah menarik ku,,dan membawa ku kebelakang rumah sakit,,
dengan emosi yang tinggi dipukuli nya aku hingga puas tapi ku sedikit pun tak ingin membalas pukulan nya atau berpikir tuk pergi menghindari nya,,,dan dy meminta ku agar menjauhi keyna dan diri nya,,semenjak kejdian itu aku menjauhi nya dan keyna,,,aku bejanji pada diri ku suatu saat nanti akan ku buktikan kalau aku tak bersalah,,

Tentang Penulis:
Nama ku rahma arahman tapi lebih dikenal dengan sebutan rahma raichan aku asli palembang dan aku ingin menjadi penulis terkenal dan bila teman teman ingin kenal lebih jauh diri ku bisa kunjung alamat facebook ku disini : raichanaja

Kumpulan Cerita Persahabatan Terbaru 2017

Cerita persahabatan adalah kumpulan dari beberapa cerita anak bangsa Indonesia yang senantiasa membudayakan menulis, dan menceritakannya serta berbagi kepada orang lain. Cerita persahabatana ini kami rangkum dari cerita kiriman sahabat dejavu yang terbaik. Kami publikasikan hanya untuk semata-mata mengabadikan sastra Inonesia lewat budaya menulis dan berbagi pengalaman yang dengan menulis sehingga bisa memberikan pelajaran dan hikmah yang terwakilkan dengan kata-kata.

Setiap dari kita pasti memiliki sahabat yang selalu menemani kita dikala kita sedih, senang, lapar, kenyang, banyak duit, tidak banyak duit, dan kala apapun sahabat selalu menemani kita. Tentunya di dalam diri kita pun begitu kepada seseorang yang sudah mengganggap kita sahabat baginya, yang senantiasa saling berbagi.

Kumpulan Cerita Persahabatan Terbaru 2016

Di dunia ini banyak sekali cerita persahabatan yang membuat kita mungkin menjadi sadar betapa berharganya sahabat kita ini, betapa pentingnya kekuatan persahabatan ini, dan lewat cerita ini betapa banyak kisah mereka yang berbeda-beda kala dengan sahabatnya:


Kata-kata indah untuk sahabat:
Sahabat adalah seseorang yang mau menunjukkan di mana letak kesalahanku, bukan seseorang yang membicarakanku di belakang dan membiarkanku tetap dengan kesalahan yang ku buat tanpa tahu apa yang salah..

Sahabat adalah seseorang yang tidak menumbuhkan perasaan negatif dalam hati dan pikiranku.. Sahabat adalah seseorang yang menegurku manakala aku membicarakan orang lain.. 

Sahabat adalah seseorang yang tidak membiarkanku menghabiskan waktu dengan sia-sia untuk sekedar mengobrol tanpa makna.. 

Sahabat adalah yang seseorang tidak pernah berbicara kasar dan mempengaruhiku untuk ikut bicara kasar.. Sahabat adalah seseorang yang ingin aku menjadi lebih baik.. 

Sahabat adalah seseorang yang membuatku berpikir positif dan tidak berprasangka buruk.. 

Namun, yang pasti Sahabat adalah manusia biasa yang tak lepas dari salah dan lupa..

Semoga cerita persahabatan ini menjadi pelajaran penting untuk kita dan tidak lagi kita kesepian karena disamping kita sebenarnya ada sahabat yang menemani kita. Untuk sahabat dejavu yang mempunyai cerita persahabatan seperti ini, silahkan kirim cerianya dan berbagilah kepada kita semua dengan menjadikan cerita sahabat menjadi pelajaran yang kita semua bisa pelajari. Caranya di menu KIRIM CERITA, isi fromnya dan kirim.

Jangan lupa share ceritanya dan berbagilah kepada orang lain

Cerita Persahabatan: Tak Untuk Selamanya By Siti Husna

CERITA PERSAHABATAN: TAK UNTUK SELAMANYA 
Penulis: Siti Husna

Berawal dari sebuah candaan dan berakhir dengan semua diluar dugaan. Persahabatan dua orang kawan karib harus terlerai akibat rasa takut dan takdir yang tak pernah bisa ditaksir. Kematian, kata yang paling menakutkan bagi semua makhluk yang bernyawa. Hal ini membuat aku dan Mahira menjauh bahkan tidak untuk mendekat lagi. Semua kejadian ini seakan menjadi mimpi buruk untukku yang sama sekali tidak bisa lari dari kenyataan bahwa sahabatku satu-satunya harus pergi. Mau tidak mau, terima tidak terima aku harus menelan kenyataan pahit yang benar-benar mengiris hati. 
***

Kicauan beberapa ekor burung berhasil membuatku terjaga dari alam bawah sadarku delapan jam lalu. Ku lihat si Hellokitty milikku yang berdetak santai diatas meja sebelah tempat tidurku telah menunjukkan jarum pendek ke angka tujuh. Dengan secepat mungkin aku mempersiapkan diri untuk bergegas ke sekolah. Sepertinya mama mulai bosan dengan ulahku yang sulit dibangunkan setiap paginya, sehingga si Hellokitty menjadi jalan terakhir ketika mama telah resmi menyerah. 
***

Teng..teng..teng!!!
Si besi berdering itu langsung berbunyi saat aku baru menginjakkan kaki digerbang sekolah. Aku berlari secepat yang kumampu agar aku dapat masuk kelas lebih dahulu dari guru mata pelajaran pertama yaitu pak Arfat. Ia seorang yang bijaksana dan banyak disukai oleh siswa/i SMPN 4 BANDUNG namun ia selalu berkata tidak pada “ketidakdisiplinan”. Ketegasannya itu membuat aku kalang kabut saat mengingatnya. 

Plak!, aku berhasil masuk lebih cepat darinya. Beruntung kali ini dewi fortuna sedang menaungiku. Aku duduk disebelah sahabatku,Mahira. Akan ku ceritakan sedikit tentangnya. Ia adalah seorang yang berkulit putih dan cantik namun dari semua karakternya aku sering dibuat pusing dengan sikapnya yang gengsian. 
“Tina, dari mana ajasih kamu? Untung hari ini pak Arfat tidak masuk secepat biasanya. Kalau gak kan berabe”, omelan Mahira menambah kepanikan diriku.
“Aduuuch, udah deh Ra ngedumelnya. Aku udah gak tau lagi mau bilang apa. Kamu taukan kebiasaan buruk pagiku?”, kujelaskan semuanya dengan degup jantung yang masih sangat kencang.

Beberapa menit kemudian, pak Arfat pun akhirnya masuk kekelasku. Semua murid serentak diam dan tak ada lagi yang berani bergeming. Begitu juga aku, segera ku perbaiki posisi duduk dan kuatur nafas agar aku tidak terlihat panik. 
“Tinaaa!”, tiba-tiba suara pak Arfat terdengar ditelingaku.
“I..iya pak?”, sungguh aku takut dengan apa yang akan pak Arfat katakan selanjutnya.
“Besok jangan lari-lari lagi masuk kelasnya dan cobalah untuk mengubah kebiasaan burukmu”, pak Arfat mengingatkanku.
Perkataan pak Arfat seakan menjadi cambuk untuk diriku. Ternyata keterlambatanku tak lepas dari pandangannya. Wajahku mulai memerah saat kusadari seisi kelas sedang melihat kearahku dan Mahira.
“Heheh, iya pak”, aku hanya bisa mengangguk seraya menundukkan kepala.
***

Les malam, informasi yang paling menarik perhatianku dari semua tutur kata pak Arfat semalam. Les malam ini adalah les yang diadakan pihak sekolah untuk seluruh murid kelas Sembilan yang akan mengikuti Ujian Nasional, tentu saja didalamnya terdapat mata pelajaran favoritku yaitu Bahasa Inggris. Mata pelajaran inilah yang menjadi penyemangat aku dan Mahira dalam mengikuti les itu. Awalnya ku pikir les ini akan sangat menyita waktu istirahat, belum lagi les tambahan disinag dan sore harinya. Semua itu benar-benar membuat aku kelelahan tingkat dewa. Tapi bagaimana pun harus kusadari bahwa perang yang sebenarnya sudah didepan mata dan tentu saja aku tidak akan membiarkan diriku kalah disana. Lagipula les malam ini akan diadakan minggu depan jadi aku masih punya waktu senggang untuk beristirahat.
***

Malam ini adalah malam pertama les malam diselenggarakan. Aku sangat antusias mengikutinya karena malam ini adalah les Bahasa Inggris. Kebetulan aku mendapat kelas yang sama dengan Mahira jadi tentu saja aku memutuskan untuk duduk semeja dengannya. Aku mulai mencium ada keganjilan terhadap Mahira malam ini. Entah mengapa dari awal les dimulai sampai les berakhir ia belum mengucapkan satu katapun padaku. Tiba-tiba ia menyodorkan secarik kertas kepadaku saat ia ingin pulang. Dengan tanpa berkata apapun segera kuterima kertas yang lebih terlihat seperti surat. 

Keesokan harinya, aku berangkat ke Sekolah dengan hati yang gusar. Semalaman aku terus menerus berfikir apa maksud surat yang Mahira berikan tadi malam. Mengapa didalam surat itu menjelaskan bahwa ia bersalah dan seakan-akan akan pergi jauh dariku. Sejauh ingatanku, semua baik-baik saja antara aku dan Mahira semuanya terkendali. Atau mungkin… ah segera ku buang jauh-jauh apapun hal negative yang hinggap dipikiranku. 
Setelah sampai disekolah, segera ku cari Mahira. Rupanya hari ini ia tak hadir, hal ini menimbulkan kebingungan yang semakin menjadi-jadi. Kulihat absensi kelas, disana tercantum bahwa Mahira sedang sakit. Benarkah? Apa yang terjadi? Degup jantungku semakin tak karuan. 
***

Tak seperti biasanya, hari ini pulang sekolah aku tidak langsung pulang kerumah. Ku coba hampiri Mahira dirumahnya. Kebetulan rumahnya satu arah dengan jalan rumahku. 
Tok..tok..tok!!! setelah beberapa lama menunggu, keluarlah seorang wanita setengah baya yang dari penampilannya bisa dipastikan ia adalah Omanya Mahira. Aku pernah melihatnya dialbum foto keluarga Mahira saat liburan ke Thailand namun sebelum ini, belum pernah sekalipun aku bertemu dengannya. Ia seorang lansia namun wanita itu terlihat sangat terawat, wajar saja karena Mahira adalah anak pejabat di daerah Bandung. 
“Cari siapa nak?”, wanita itu membuka pembicaraan
“Eee, Mahira buk eh Oma”, aku malah jadi kebingungan harus memanggilnya apa. 
“Oh Mahira, sebentar Oma panggilkan. Masuk nak!”, tawarnya sambil membenarkan sapaanku.

Cerita Persahabatan: Tak Untuk Selamanya By Siti Husna

Cerita Persahabatan Lainnya: Kumpulan Cerita Persahabatan 

Sekitar 10 menit aku menunggu diruang tamu dengan dekor ruangan yang sangat menarik, Mahira akhirnya menampakkan kembali batang hidungnya padaku. 
“Eh Tina, ada apa Na? tumben mampir kesini”, Tanya Mahira santai kepadaku.
“Kamu kok gak sekolah? Aku lihat diabsensi kamu sakit karena aku khawatir jadi aku putuskan untuk kesini terlebih dulu”, tanyaku kembali padanya.
“Ohh, iya aku agak enggak enak badan ni tapi kamu gak perlu khawatir aku baik-baik ajaakok”, jawab Mahira enteng. Aku kembali merasakan perubahan sikap Mahira, ia sudah tak sedingin semalam. Aneh, sikapnya mulai labil sekarang.
“Aku punya salah ya sama kamu Ra?”, aku kembali bertanya karena rasa penasaranku kini telah memuncak.
“Enggak kok, kalaupun ada aku pasti sudah memaafkannya. Kamu ini kenapa sih? Aneh-aneh aja nanyaknya”, Mahira menjawab pertanyaanku dengan mudah dan dengan air muka yang ramah.
“Kenapa ya Ra aku ngerasa kamu berubah dan masalah surat semalam, apa maksudnya Ra?”, akhirnya kuutarakan semua keganjilan di diri ini.
“Hahah, surat itu! Gak kok itu hanya iseng untuk melatih kemampuan berbahasa Inggrisku. Kamu liat dong acakkadul gitu dan tentang perubahan sikap yang kamu maksud mungkin hanya perasaan kamu ajaa Na”, Mahira berusaha menjelaskan semuanya dan aku? Tentu saja tidak semudah itu percaya.
“Oh gitu, yaudadeh aku pulang dulu ya Ra. Cepat sembuh yaa, banyak isitirahat. Besok kamu sekolahkan?”, aku mengakhiri percakapan yang sengit untukku ini.
“Heheh, oke boss. Aku pasti datang kok, kamu taukan lusa hari apa? Aku harus menyebarkan undangan”, jawab dan Tanya Mahira yang kubalas dengan senyuman dan anggukan.
“Hati-hati ya Na dijalan. Byebyee!”, petuahnya untukku, aku hanya mengacungkan jempol tanda mendengarkan ucapannya itu. 
***

Lusa adalah hari ulang tahun Mahira, tentu saja aku tak pernah lupa akan hal itu. Ia selalu mengadakan perayaan disetiap tahunnya namun kali ini entah mengapa aku tidak begitu tertarik untuk menghadiri pesta tersebut. Aku tak tau setan apa yang merasuki diriku, aku terus menyakinkan diri bahwa Mahira telah berbohong. 
***

Hari ini adalah hari yang benar-benar membuat moodku kandas. Bayangkan saja, orang mana yang tak sakit hati melihat pengkhianatan sahabatnya didepan matanya sendiri? Dari pagi aku belum melihat Mahira yang janjinya akan hadir dihari ini. Tanpa pikir panjang segera ku cari Mahira disetiap sudut sekolah. Deg! Seakan disambar petir disiang bolong, hatiku hancur saat melihat layar belakang dari kebaikan dan keanggunan Mahira selama ini. Ia sedang bersama Juno, seorang pria tampan yang lama ku idam-idamkan dan hanya kepada Mahira lah aku mengungkapkan semua perasaanku terhadap Juno. Aku tak langsung pergi saat melihat mereka, ku intip sejenak apa yang sedang mereka lakukan. Ternyata Mahira hanya ingin memberinya undangan tapi mengapa harus berdua?mengapa mereka terlihat begitu dekat? Jelas saja peristiwa ini menjadi alasan kebencianku kepada Mahira. Aku langsung berlari ke kelas saat beribu prasangka buruk mulai mengepul kepalaku. Yang aku tahu, Mahira telah berkhianat. 
***

“Hai Na, ini undangan untuk sahabatku. Seharusnya tanpa undangan juga kamu taukan kehadiranmu penting dipesta ini”, Mahira menyapaku seakan tak terjadi apapun dipagi ini. Wajar saja ia tak tau bahwa tadi aku sudah mendengar semua percakapannya dengan Juno digudang.
Ku sambar undangan itu dan kumasukkan ke laci. Aku tidak mengarahkan wajahku padanya, aku kini muak dengan perangainya.
“Hei kamu kenapa? Kok diem ajaa? Kamu marah yak karena aku telat kasi undangannya?”, Tanya Mahira.
“Gaak!”, baru kali ini aku membentak Mahira dan tentu saja aku tak kuasa menahan air mataku. Mahira langsung meninggalkanku, aku tak tau ia kemana dan aku tidak perduli.
***

Jam delapan malam adalah waktu yang telah Mahira tentukan untuk acaranya. Kini sudah jam delapan kurang lima belas sementara aku masih duduk disudut tempat tidurku. Berkali-kali telepon genggamku berdering, pesan dan panggilan dari Mahira ku abaikan serta dengan sengaja ku nonaktifkan hapeku. Aku tak tau bagaimana caranya aku melupakan kejadian di Gudang itu, bersikap biasa saja dan hadir ke pestanya. Tidaktidak, aku tak sanggup untuk melihat Mahira saat ini dan pasti Juno juga hadir di pestanya. Akhirnya ku putuskan untuk pertama kalinya aku tidak hadir ke pestanya. 
***

Seperti biasa aku ke Sekolah dengan terburu-buru tapi hari ini aku tidak lagi berusaha mencari Mahira yang lagi-lagi kembali tidak hadir. Semua orang yang ku lalui bercerita tentang pesta Mahira mulai dari kemewahannya, keunikannya dan tunggu aku mendengar sesuatu “Mahira pingsan”. Ah sudahlah mengapa aku harus perduli? Bukannya saat ia mengkhianati ku ia juga tak pernah perduli perasaanku, tapi bagaimanapun aku masih sangat menyayanginya bahkan ia sudah ku anggap seperti keluargaku. Akhirnya ku tegarkan hati dan aku akan membesuknya dirumah sakit tempat ia dirawat sepulang sekolah. Untuk mendapatkan alamat rumah sakit tempat ia di rawat bukan hal sulit untukku karena pasti seisi sekolah juga tau. 

Setelah jam mata pelajaran terakhir berakhir aku segera bergegas ke RS tempat Mahira dirawat. Langkahku gontai saat ku ketahui bahwa Mahira berada diruang ICU, aku terus menangis dan menyesal dengan apa yang telah terjadi. Aku merasa menjadi sahabat terburuk didunia. Aku kembali teringat dengan surat yang ia berikan di les malam itu. Aku tak ingin isi surat itu menjadi kenyataan, seburuk apapun dirinya dan sebesar apapun salahnya dihati yang paling dalam aku tetap ingin ia menjadi sahabatku. Tiba-tiba ditengah kesedihanku, datanglah Hanni. Ia adalah adik bungsu Mahira. Ia memberiku sebuah bingkisan yang terbungkus rapi. Aku duduk dikursi dekat ruang ICU dan ku buka bingkisan itu. Didalamnya terdapat sebuah album foto yang berisi foto aku dan Mahira juga selembar kertas yang berisi “Aku sedih kamu gak datang ke pestaku tapi aku sudah menaksir semuanya. Aku tau kamu telah melihat aku dan Juno digudang beberapa hari lalu.

Kamu tau apa yang aku lakukan setelah kamu membentakku? Aku pergi kekelas Juno dan segera ku akhiri semua ikatan antara aku dan Juno. Aku ingin kamu tahu bahwa aku telah menyayangi Juno jauh sebelum kamu menyukainya dan aku baru menjalin hubungan dengannya sebulan lalu. Sebenarnya aku tak bermaksud membuatmu sedih dan membenciku, aku mengidap satu penyakit yang telah membuat rapuh hidupku. Aku hanya ingin disisa-sisa hidupku aku dapat menghabisinya bersama Juno. Aku tak pernah ceritakan tentang penyakit ku ini karena aku tak ingin kamu mengkhawatirkan ku lebih dari kekhawatiran mu saat kamu datang kerumahku.

 Aku memang egois karena aku mengorbankan perasaan sahabatku sendiri demi kepentingan pribadiku. Album foto ini sudah lama ku siapkan untuk kamu agar kamu bisa selalu melihat aku disaat kamu benar-benar rindu aku. Tentang surat dimalam les itu, aku hanya ingin mengatakan secara tersirat bahwa aku adalah sahabat yang terburuk didunia. Aku minta maaf untuk semuanya dan aku juga udah maafin semua salah kamu ke aku. Aku maklum kalau kamu jadi begitu membenciku tapi sekali lagi aku minta maaf dan aku ingin kamu jaga Juno untuk aku. Kamu harus kuat karena saat kamu membaca surat ini sepertinya aku sudah pergi dan sekali lagi jaga Juno demi aku dan persahabatan kita. Bye bye Tina” 

Tak terasa, kini pipiku telah basah karena air mataku terus mengucur deras. Ku coba intip Mahira dari kaca ruang ICU. Dia benar-benar pergi meninggalkan aku. Aku menyesal, aku sudah kehilangannya bahkan sebelum aku minta maaf langsung padanya. 

Pemakaman Mahira akan segera dilakukan dihari ini juga, setelah semua orang pulang dari tempat terakhirnya aku masih tetap saja terpaku dibatu nisannya. 
“YaAllah, maafkan aku atas semua keegoisanku terhadapnya selama ini. Tak bisakah kau kembalikan ia kepadaku? Aku sangat ingin ia berada disisiku saat ini. Berilah ia tempat terbaik disisimu, Aamiin ”, aku berdo’a namun percuma semua yang ku pinta adalah sesuatu yang mustahil. Tiba-tiba hujan turun dan aku memutuskan untuk membiarkan Mahira tenang ditempat terakhirnya ini. 

Haaaabiiiiiss


Tentang Penulis:
Nama : Siti Husna
Kelas : XI
Alamat : Aceh Tamiang
TTL. : Sungai Iyu, 29 oktober 1998
Sekolah : SMAN 2 PATRA NUSA RANTAU

Cerita Pesahabatan: Trapped By Sandi Salma

CERITA PESAHABATAN: TRAPPED 
Penulis: Sandi Salma

Namaku Willy Brian Haner, umurku 21 tahun, aku mahasiswa teknik mesin di ITB, aku termasuk orang yang memiliki IQ di atas rata-rata. Hari ini seperti biasa aku bangun jam 8 pagi dan bersiap untuk pergi kuliah, turun dari kamar aku lansung menyambar roti lapis yang telah disiapkan dan lansung pergi sampai lupa pamit.

Sampai di kelas aku langsung mengeluarkan buku, bukan buku yang sesuai sama mata kuliah tapi buku catatan yang coret moret tentang rancangan dari eksperimen yang sedang aku kerjakan bersama dua orang teman yaitu, Diana dan Johan.
“Gimana perkembangan mission impossible kita ini?” sapa Johan yang sudah duduk disebelahku.
“semua beres” jawabku cuek.
“jadi kita bisa mencobanya nanti malam?” desak Johan padaku.
“emangnya kamu mau jadi kelinci percobaannya?” sambil memasukan kembali buku rancangan eksperimen yang disebut mission impossible oleh Johan tersebut.
“hey, ini misi kita bertiga, jangan lupakan aku dong” sela Diana yang duduk didepan kami.
“tenang saja, aku pasti ngk kan lupain kamu kok sayang” jawab Johan menggoda.

Tiba-tiba terdengar suara aneh yg bikin kami bertiga kaget, suara itu dari dosen kami yg sedang mengajar, dosen kami ini termasuk dosen killer yg ganas, namanya pak Roni, postur tubuhnya saja sudah menggambarkan ke garangannya, tubuhnya besar, berjambang dan memiliki tangan yg kekar.

Akhirnya kuliah yg menegangkan itu selesai, lalu kami bertiga pergi ke kantin untuk makan siang.
“Jadi, apa yg ingin kalian katakan padaku?” pancing Diana.
“soal apa? Perasaanku padamu?” sela Johan sambil tersenyum manis seperti bayi yg sedang dihibur.
“kita akan menyelesaikannya nanti malam” jawabku dengan nada serius.
“akhirnya… It’s show time!!” kata Diana girang, “nanti malam kan? Jadi aku harus kabur lagi lewat jendela, huh merepotkan sekali tinggal sama orang tua super posesif”.
“tenang saja, aku akan selalu ada buatmu darling” jawab Johan sambil mengedipkan mata kepada Diana.
“oke, aku dan Johan bakal nunggu di depan jendela kamar kamu jam 9 malam” kataku sambil berdiri dan mengemaskan barang-barangku. “aku pergi dulu, masih ada kuliah nih, see ya!”
“oke jam 9, see ya!” jawab Diana setuju.
Ohh iya, mission impossible yang dimaksud Johan itu adalah menciptakan mesin teleportasi, bisa memindahkan seseorang ketempat yg ditentukan dalam radius 25Km, mustahil ya? Maka Johan sebut itu impossible.

Sekarang sudah jam 9 malam, dan akupun pergi menemui Johan yg menunggu di perempatan dekat rumah kami dan kamipun hanya perlu berjalan kaki ke rumah Diana, ternyata Johan membawa adiknya Daniel, Daniel 2 tahun lebih muda dari kami, tapi dia memiliki tubuh yg lebih tinggi dari Johan, dan wajah yang gagah, lebih gagah dari kakaknya Johan.

Sampai di rumah Diana, kami menunggu sekitar 15 menit di dekat jendela kamar Diana, tempat yg telah dijanjikan, dan akhirnya Diana keluar dari kamarnya lewat jendela yg kami tunggui, kami lansung pergi mengendap-endap menuju laboratorium kami bertiga, sesampai disana aku lansung membagi tugas yg akan kami kerjakan.

Jarum jam di laboratorium menunjukan hari jam 2 pagi, kami telah menyelesaikan eksperimen kami tersebut.
“akhirnya… inilah ciptaan kita! MaTeInci!” kata johan girang.
“MaTeInci?” Tanya Diana heran.
“Mesin Teleportasi Dalam Kota” jawab Johan sambil tertawa terbahak-bahak.
“terselahlah apa namanya, sekarang siapa yg mau mencoba terlebih dahulu?” selaku.
“aku!” jawab Daniel yg dari tadi cuma duduk diam di pojok ruangan mendengarkan ocehan kakaknya.
“kamu berani? Aku nggk punya jaminan lho” tanyaku ke Daniel.
“aku yakin, kita kan sudah mencobakannya tadi menggunakan sebuah buku, dan buku itupun berpindah tempat ketempat yg kita tentukan” jawab Daniel. Raut wajah Daniel memang terlihat tampak yakin dan serius untuk mencobanya, dan memang kami sudah melakukan percobaan terhadap sebuah buku. akupun meminta izin Johan dan Johan pun setuju.
“kamu mau dipindahkan kemana?” tanyaku pada Daniel.
“aku mau pulang, pindahkan aku lansung kekamarku” jawab Daniel tersenyum.
“oke, silahkan masuk ke box itu dan jangan bergerak” perintahku.

Kami pun mulai melakukan percobaannya, aku menentukan koordinasi letak kamar Daniel, lalu akupun memencet tombol pengirimnya dan mesin itupun mulai bekerja, Daniel yg awalnya berada didalam box mesin teleport itupun sudah tidak ada lagi.
“aku akan pulang dan menemui Daniel disana” kata Johan tergesa-gesa.
“kami akan menunggu disini, kabari kami hasilnya secepatnya” kataku sesaat sebelum Johan pergi.
“bagaimana kalau kita gagal?” Tanya Diana setelah Johan pergi. “kemana akan kita cari?”.
“pertanyaan yg bagus, sampai sekarang aku masih memikirkan jawabannya” jawabku dengan nada cemas.
“jadi kamu tidak tau cara mengantisipasinya?” bentak Diana.
“yang jelas kita tunggu aja hasilnya”jawabku asal.

Cerita Pesahabatan: Trapped By Sandi Salma

Cerita Persahabatan Lainnya: Kumpulan Cerita Persahabatan

20 menit kami menunggu, kami mendengar suara orang berlari, ternyata itu Johan.
“dia nggk ada dikamarnya!! Aku sudah mencoba menghubungi hp-nya tapi nggk aktif” teriak Johan.
Akupun lansung terbangun dari tempat duduk, kaget sama kabar tersebut
“apa?! Lalu dimana Daniel?” Tanya Diana khawatir. “Willy, tolong jelaskan!!”
“aku juga nggk ngerti, brarti dia masih terhenti di dimensi pembatas waktu” jawabku bingung.
“apa maksudnya itu? Dimana kita bisa menemukannya?” desak Johan dengan wajah yg menggambarkan kekhawatiran dan amarah.
“jadi dia terkunci?” sela Diana dengan wajah pucat.
“ya dia terkunci, lebih tepatnya ‘terjebak’ di dimensi lain yg waktunya tidak bergerak, kita akan mencari cara untuk mengeluarkannya”jawabku tenang.
“masalah kita sekarang, gimana cara mengembalikan Daniel?” Tanya Diana yg berusaha bersikap tenang.
“mungkin kita bisa mengembalikannya”jawabku. “mungkin ada yg salah dengan mesin ini, menurutku daya transfernya masih kurang, ukuran tubuh Daniel berbeda dengan ukuran buku yg berhasil kita pindahkan tadi, jadi itulah yg menjadi kendala kita, spertinya begitu. Jadi kita akan menambah daya transfernya tanpa mematikan mesin, karna jika mesin mati dia pasti lenyap” jelasku.

Daasshh.. pukulan Johan tepat mengenai mata sebelah kiriku. “kamu tau apa masalahnya, tapi kenapa kamu tetap melakukan percobaan ini kepada adikku?” amarah Johan pun meluap-luap.
“heyy.. santai dong, aku baru menyadarinya! Lagipula adikmu sendiri yg ingin jadi bahan percobaan dan kamu menyetujuinya” akupun mulai terpancing emosi.
“jangan kayak anak kecil gini dong” bentak Diana. “ini eksperimen kita, jadi ini masalah kita, jangan saling menyalahkan begini”
“aku nggk peduli, pokoknya kamu harus mengembalikan adikku bagaimanapun caranya atau nyawamu dan semua orang yg kamu kenal akan terancam!” gertak Johan dengan serius.

Johan pun pergi meninggalkan kami. Aku terduduk lesu memikirkan masalah ini dan Diana menenangkanku sambil mengelus-elus pundakku.

Keesokan paginya Diana pun pulang tapi aku masih tetap di laboratorium dan memikirkan jalan keluar dari masalah ini. Satu minggu pun berlalu dan aku masih tetap dilaboratorium untuk memperbaiki mesin teleportasi tersebut, setiap sore Diana datang menemaniku dan pulang jam 8 malam, tapi Johan nggk pernah datang ke laboratorium, Diana bilang Johan juga nggk pernah ke kampus, Diana pun menyarankan aku untuk mendatangi Johan ke rumahnya.

Besoknya akupun pergi kerumah Johan dengan ditemani Diana, sampai disana kami bertemu ibu Johan yg sudah cukup tua tetapi masih terlihat kuat. Namanya ibu July.
“Permisi bu, johan nya ada?” tanyaku pada bu july
“johan dan Daniel belum pulang dari seminggu yg lalu, tenang saja mereka pasti balik kok, ibu tau kamu anak yg pandai Willy” jawab ibu july sabil tersenyum.
“begitu ya bu.. ya sudahlah kalau begitu, kami akan mencari mereka, kami pamit dulu bu” kataku pada bu july.

Perkataan ibu july tadi masih terfikirkan olehku, aneh rasanya… dia seperti tau apa yg terjadi semuanya. Apa johan menceritakannya? Tidak mungkin, dia kan belum pulang-pulang.
“jadi, malam itu Johan tidak pulang dan nggk pernah pulang sampai sekarang” kata Diana sesaat setelah kami meninggalkan rumah Johan.
“Daniel menghilang, dan Johan pun juga ikut menghilang, masalah kita bertambah” kataku dengan wajah bingung. “kita harus mencari Johan, kita akan mengembalikan Daniel bersama, Johan harus ada ketika Daniel kembali”.

Aku dan Diana lansung mencari Johan, jam 9 malam akhirnya kami menemukan Johan disebuah rumah kosong di pinggir kota, rumah itu adalah rumah Johan sebelum keluarga mereka pindah kerumahnya yg sekarang.
“aku menyesal Jo”. Kataku lansung ketika bertemu Johan.
“Lebih baik kalian pergi” Johan memalingkan muka.
“astaga Johan… tangan kamu kenapa?” Tanya Diana dengan wajah pucat melihat tangan kanan Johan yg terluka di bagian jari-jarinya
“ini bukan urusanmu na, mau apa kalian kemari?” Tanya Johan yg mulai menatapku dengan tatapan yg tajam. Tapi aku tetap tak menyurutkan tekatku, aku harus mendapat maaf darinya, itulah tujuanku.
“aku benar-benar minta maaf Jo, dan aku butuh bantuanmu, aku bersumpah akan membawa adikmu kembali tapi aku butuh bantuanmu, juga krn ini proyek kita, aku nggk bakal mampu walaupun dibantu Diana. Bersama kita bakal bawa Daniel pulang Jo, kamulah orang pertama yg bakal melihat Daniel kembali, kamu harus ada ketika Daniel kembali Jo”
“kalian tahu kenapa aku disini?” wajah Johan terlihat murung, terpancar jelas ketika cahaya samar samar dari jendela menggambarkan kesedihannya. “itu karna aku malu sama semua orang, aku malu karna sudah bertengkar dengan kalian, terutama dengan kamu wil, bahkan aku menghukum tanganku yg telah memukulmu ini” mendengar perkataan Johan itu kami berdua jadi terdiam dan terharu mendengarnya.
“sekali lagi aku minta maaf Jo, sehebat apapun aku, sepintar apapun aku, aku tetap membutuhkan teman. Yaa… sahabat satu jalan, aku butuh kalian berdua, aku butuh kamu sobat”.

Akhirnya Johan memelukku dan dia juga minta maaf atas emosi yg tidak bisa dikontrolnya, begitu katanya dan akhirnya kami pun bersama pergi ke laboratorium untuk mengembalikan Daniel, kami nggk peduli lagi proyek ini berhasil atau tidak, yg penting Daniel kembali dengan selamat.

3 hari kami di laboratorium dan akhirnya kami selesai memperbaikinya, yaaa bisa dibilang begitu walau belum mencobanya.

Kamipun lansung mencoba mesin tersebut, tapi tidak terjadi apa-apa, 30menit kami terdiam menunggu reaksi mesin tersebut, lalu kami mendengar langkah orang dari luar, orang tersebut mulai membuka pintu dan masuk. Ternyata orang tersebut adalah Daniel, dan Johan pun bersorak girang.
“hey, tadi aku lihat jam dirumah sudah jam 5 sore, memangnya butuh berapa jam mesin itu memindahkan aku?” Tanya Daniel dengan wajah polos.
Kami bertigapun terdiam dan saling memandang satu sama lain dan akhirnya kami bertiga tertawa terbahak bahak.
“sekarang giliranku….

End

Tentang Penulis:
Nama : sandy selma
Ttl : padang, 5 maret 1996
Pekerjaan : mahasiswa sastra inggris unand
Hoby : menulis
Facebook : matthewhaner

Cerita Persahabatan : Persahabatan di Pondok Pesantren By Nurul Rizki Rahmania

CERITA PERSAHABATAN : PERSAHABATAN DI PONDOK PESANTREN 
Penulis : Nurul Rizki Rahmania

Di sebuah pondok pesantren terkenal bernama “Pondok Pesantren An-Nuur”, terdapat 3 anak bersahabat yang akan mendaftarkan diri untuk belajar di pondok tersebut.Mereka adalah Diana , Dinda , dan Rahma (Rara) . Diana adalah seorang anak yang suka membantu teman , tetapi mudah terpengaruh . Dinda mempunyai watak yang egois dan juga iri hati . Sedangkan Rara memiliki sifat yang baik , ramah , selalu rendah hati tetapi juga pemalu .

Waktu itu , azan asar pun berkumandang . Mereka bertiga pun segera memberangkatkan diri menuju pondok pesantren . “Teman teman,siapa yang akan menanyakan tentang hal hal yang diajarkan di pondok kita nantinya? ” Tanya Dinda serius . “Rara kan pemberani . Pasti dia mau . Ya kan , Ra? ” Ujar Diana . “Em , iya sudah . Aku mau.” Jawab Rara.

Setibanya mereka disana , kegelisahan pun dirasakan mereka bertiga . Rara pun memberanikan diri untuk bertanya kepada petugas yang berada di halaman lantai 1 . “Assalamu’alaikum , permisi , apakah saya boleh bertanya ? ” Tanya Rara kepada salah satu petugas . “Iya , silahkan . Apa yang dapat saya bantu ?” Jawab petugas itu . “ Apakah kami dapat memasuki pondok ini?” Tanya Rara . “Iya,silahkan anda bertiga langsung menuju ke lantai 3 saja. ” Sahut petugas itu sembari memberi tahu arah jalan menuju lantai 3. “Terima kasih. ” Ujar Rara sambil mengucapkan rasa terima kasih kepada petugas tersebut .

Pada saat tiba di lantai 3, Rara dan salah satu guru pondok tersebut berbincang bincang dengan lancar. Ternyata , pada saat itu juga Diana , Dinda , dan Rara langsung diperbolehkan mengikuti kegiatan belajar mengajar . Mereka bertiga tampak sangat senang sekali karena bisa diterima dengan baik dan terhormat di pondok pesantren tersebut .

Kebetulan sekali , Diana , Dinda dan Rara ditempatkan di kelas yang sama dan mempunyai banyak teman baru dikelas mereka tersebut . Pelajaran demi pelajaran selalu mereka ikuti dengan baik . Tampaknya mereka bertiga merasa betah berada di pondok pesantren tersebut . Hari demi hari mereka lalui tanpa rasa lelah dan bosan dengan apa yang ada di sekitar mereka . Malah mereka semakin merasa betah , karena hal hal yang baru selalu mereka temukan di pondok tersebut.

Seiring berjalannya waktu , guru di pondok pesantren “An-Nuur” itu mengadakan sebuah ujian tengah semester . Seluruh santri di pondok wajib mengikutinya . Ujian tersebut akan dilaksanakan esok lusa dan akan berlangsung selama satu minggu .

Sementara , pelaksanaan ujian berbeda dengan pelaksanaan KBM . Jika pelaksanaan KBM berlangsung pada setiap kelas ,maka pelaksanaan ujian tengah semester ini berlangsung pada seluruh santri . Sehingga pada saat mengikuti ujian , para santri di jadikan satu dalam sebuah ruangan ujian yang luas dan cukup untuk menampung jumlah seluruh santri.

Selama satu minggu penuh mereka melaksanakan ujian dengan suasana hikmat dan penuh dengan keseriusan . Setelah usainya ujian tersebut , para guru di pondok pesantren berencana akan mengadakan sebuah acara yang akan diikuti oleh seluruh santrinya . Satu per-satu dari seluruh santri diberi pertanyaan oleh guru mereka , Pak Nafis . Dan bagi santri yang berminat,nantinya akan diseleksi dan diambil beberapa anak yang terbagus penyampaiannya , dan juga penampilannya .

Cerita Persahabatan : Persahabatan di Pondok Pesantren By Nurul Rizki Rahmania

Para santri pun bergantian menjawab pertanyaan . Sekarang , giliran Diana untuk memberi jawaban kepada Pak Nafis . “Diana , apakah kamu sanggup membawakan acara pada.....? ” belum selesai beliau bertanya,tapi Diana sudah menjawab dengan tidak sopan. “Apa ? Tidak sudah, terima kasih.” Diana menolak secara tidak sopan . Sekarang tiba waktunya Dinda menjawab pertanyaan . “Dinda , apakah kamu mau menjadi pembawa acara pada penerimaan raport tengah semester ini?” tawar beliau kepada Dinda . “Maaf , saya tidak bisa.” Ujar Dinda .

Dan Pak Nafis pun langsung menanyakan hal itu kepada Rara . “Apakah kamu sanggup untuk membawakan acara penerimaan raport tengah semester?” Tanya Pak Nafis kepada Rara . “Iya , Pak . Jelas saja saya mau . Tetapi , Apakah ada anak lain yang berminat seperti saya ?” Tanya Rara . “ Tentu saja ada , Rara . Dan , nanti saya dan para guru akan merundingkan siapa yang layak untuk membawakan acara tersebut ,karena acara ini resmi . Tentunya kami tidak akan memilih santri secara sembarangan . Dan kami juga menanyakan apakah dia siap ataukah tidak .”

Dengan senang hati Rara mencoba untuk mendaftarkan diri . Tetapi itu semua dilakukannya bukanlah ada niat untuk melebih-lebihkan kemampuannya . Kegiatan seleksi pun telah dilaksanakan dan ternyata sesuai dengan keputusan , Rara dan tiga anak santri lain telah terpilih untuk membawakan acara penerimaan raport tersebut.

Kini saatnya acara penerimaan raport tengah semester di pondok itu diselenggarakan . Rara sebagai pembawa acara telah siap dengan mengenakan pakaian sederhana namun rapi . Meskipun dengan rasa malu yang terselip dihatinya ,Rara yakin jika dia mampu menampilkan yang terbaik .Acara penerimaan raport pun telah dimulai . Rara membawakan acara dengan lancar dan memberi senyuman indah pada teman temannya dan juga wali santri yang turut hadir dalam acara tersebut . Acara demi acara pun telah mereka lewati bersama . Dan tiba-lah saatnya pembacaan peringkat terbaik di pondok “An-Nuur” tersebut yang akan dibawakan oleh Bu Syafa.

Tak disangka , ternyata Rara mendapatkan peringkat pertama di kelasnya . “Alhamdulillah...” Ucap syukur Rara karena mendapatkan peringkat pertama . Tetapi dibalik semua itu , kedua sahabatnya memperbincangkan Rara . “Aku heran dengan Rara yang semakin hari semakin terkenal . Aku kan juga mau terkenal. Aku juga mau dipuji orang karena aku cantik dan pintar . Tidak seperti Rara yang hanya unggul dalam kepandaiannya saja . ” Sahut Dinda karena iri dengan Rara . “Iya Din . Aku juga heran dengan dia . Kenapa selalu dia yang disanjung sanjung ? Padahal kita jauh lebih baik dari pada dia .” Tambah Diana karena dia terpengaruh dengan perkataan Dinda.

Rara pun menghampiri kedua sahabatnya tersebut . “Selamat ya Rara, kamu memang sahabatku yang hebat . Kamu pintar , tetapi kamu tidak sombong .” Sambut Diana sembari memuji Rara . “Iya , Terima kasih Diana . Kamu juga hebat. ” Ujar Rara . “Selamat ya Ra . ” Sahut Dinda dengan rasa iri . “Terima kasih Dinda . ” Jawab Rara . “Ra,aku boleh tanya ke kamu tidak ?Apa sih rahasianya agar kita berbakat dalam hal apapun seperti kamu saat ini ?” Tanya Dinda kepada Rara . 
“Tidak Dinda , masih banyak anak yang lebih hebat dari pada aku . Tetapi kunci untuk mencapai sebuah keberhasilan adalah belajar dari pengalaman , berusaha dalam hal kebaikan , dan selalu percaya diri serta selalu berdoa kepada yang Kuasa .” Jelas Rara kepada Dinda . “Kalau usaha yang kita lakukan itu curang , boleh tidak ?” Tanya Diana . “Jelas tidak boleh Diana. Usaha kita akan sia sia jika itu kita lakukan dengan cara yang salah .” Tambah Rara .

Diana dan Dinda pun menyadari bahwa selama ini mereka selalu ingin lebih unggul dari Rara . Mereka selalu iri terhadap keberhasilan Rara . Mereka sadar jika selama ini Rara adalah anak yang pintar , baik , dan tidak sombong , serta bisa menjadi inspirasi karena kecerdasan dan sifat sifat baik yang dimilikinya .

Setelah mereka berdua menyadari kesalahan mereka selama ini , mereka pun segera menghampiri Rara . “Rara , aku minta maaf ya selama ini aku selalu iri kepadamu . Aku selalu ingin lebih unggul darimu . Ternyata aku salah , aku sadar kamu adalah sahabatku yang paling hebat , pintar , baik , dan tidak sombong . Bahkan kamu selalu merendahkan diri jika ada orang yang memujimu . Aku ingin sekali bisa menjadi yang terbaik seperti kamu , Ra . ” Kata kata panjang kali lebar dari Dinda pun muncul dari mulutnya .
“Iya Rara . Aku juga minta maaf kalau selama ini aku selalu berbuat salah kepadamu . Terima kasih Ra,kamu adalah sahabat terbaik bagi kami . Kamu bisa menjadi inspirasi kami . ” Ujar Diana . “Iya , sama sama Diana dan juga Dinda . Kalian adalah sahabat terbaikku yang pernah ada . Aku tidak ingin kehilangan kalian .” Ujar Rara kepada kedua sahabatnya tersebut .

Dan sejak saat itu , mereka bertiga pun kembali bersahabat dengan baik dan tidak ada satu pun rasa iri yang terpendam dalam hati kecil mereka . Bahkan kini , Diana dan Dinda pun selalu memberikan dukungan penuh terhadap apa yang menjadi keunggulan sahabat terbaiknya , yaitu Rara .

Tentang Penulis:
Nama lengkap saya Nurul Rizki Rahmania , dan biasa dipanggil Nurul . Saya lahir di Kota Malang pada tanggal 01 Januari 2000 . Umur saya 14 tahun dan saya duduk di kelas 9 SMP dan tepatnya saya bersekolah di SMP Negeri 02 Kota Batu,Jawa Timur . Saya beragama Islam . Hobi saya adalah belajar , mengaji ,dan membuat cipta karya seperti cerpen , puisi , dan juga lukisan . Cita cita saya adalah menjadi seorang guru . Nama akun Facebook saya adalah Nurul Rizki , sedangkan nama akun twitter saya @Rul_Rahma_Nia

Cerita Persahabatan: Sahabatan Dulu Aja By Yova Liani Putri

CERITA PERSAHABATAN: SAHABATAN DULU AJA 
Penulis : Yova Liani Putri

Hari ini adalah hari pertama diselenggarakannya lagi Masa Orientasi Siswa (MOS) untuk kegiatan penerimaan siswa baru dimana para murid baru dibimbing oleh kakak senior dari OSIS dan para guru yang juga ikut mengawasi dari kejauhan saja. Salah satunya Kanya, siswi yang dikenal cewe cantik, lugu, pendiam dan juga pintar. Hari pertama mos dan sampai jam istirahat ini pun ia hanya terlihat diam saja dikelas, berbeda dengan murid lain yang kerjanya mengobrol dan ada juga yang keluar masuk kelas. Fani yang dikenal cewe imut, asik, humoris, dan kadang juga lebay itupun tertarik untuk mendekati dan mengajak Kanya mengobrol.
“Hai Kanya, kenalin gue Tiffany Dwizky panggil aja Fani. Kalo lo Kanya apa? Gue lupa tadi” seru Fani dengan ekspresi senyum pepsodent.
“Hai juga Fan, kamu tau nama gue Kanya? Nama panjang aku Kanya Naelea” jawab kanya dengan senyum tipis.
“Ya iyalah, kan tadi diabsen disebutin nama Kanya Naeeee apalah itu dan lo nunjuk tangan kan? Haha” seru Fani. 
“Kanya Naelea, N-A-E-L-E-A fan. Haha iya sih. Tapi ya gue kira lo ga peduli nama orang atau ya ga dengerin gitu.” Jawab kanya sambil nyengir akibat tingkah fani.
“Yaelah gini-gini yah gue dengerin nama-nama sambil ngeliatin muka-muka kalian lah biar lebih gampang ngenalin dan cepet akrab gitu.” Seru Fani.

Setelah asik mengobrol tak lama kemudian bel tanda masuk kelas pun berbunyi. Sepulang sekolah, Fani mengajak Kanya untuk pulang bareng, walaupun berbeda arah tapi mereka berjalan bersama sampai didepan gerbang sekolah saja. Menurutnya Fani orangnya sangat asik dan juga humoris. Semenjak ia berkenalan dengan Fani hari demi hari terisi dengan canda tawa. Walaupun baru beberapa hari kenal dan berteman dengannya. 
***

Hari ke-7 MOS. Pemilihan King & Queen pun dilakukan. Tak disangka Fani menjadi Queen di SMA Cempaka itu dengan didampingi King yang bernama Yoga yang memang mempunyai banyak bakat, baik dan juga keren itu sampai-sampai banyak disukai oleh kakak-kakak senior dan bahkan termasuk angkatannya sendiri.
Setelah pemilihan King & Queen. Kanya dan Fani berbaris bersampingan dengan perasaan sangat deg-degan, jantung yang merasa ingin copot ketika pembagian kelas sebentar lagi diumumkan. Mereka berharap ingin sekelas lagi dan bisa sebangku. Setelah diumumkan oleh Bu Femia kelas 10.1 sampai 10.4 nama mereka belum disebut juga dan mereka meyakinkan agar bisa satu kelas. Dan saat diucapkan nama Kanya dikelas 10.5, Fani makin deg-degan dan berharap bisa satu kelas dan sebangku dengan Kanya. Sudah sampai huruf depan S, Fani makin deg-degan serasa ingin pingsan. Setelah menunggu lama, akhirnya diucapkan juga nama nya masuk dikelas 10-5. Ia pun berteriak dengan perasaan sangat senang sekali. Fani bukan hanya satu kelas dengan Kanya tetapi dengan Yoga juga. 

Fani berbeda dengan siswi yang lain dan juga Kanya, siswi lain sangat senang bisa sekelas dengan Yoga akan tetapi Fani tidak. Hari demi hari telah dilalui, Bangku Dicky dan Yoga bersebelahan dengan bangku Fani dan Kanya. Hampir setiap hari mereka berdua selalu bertengkar. Terkadang anak-anak lain berpikir datangnya jodoh biasanya awal-awalnya kayak gitu, bertengkar mulu lama kelamaan ujung-ujungnya nanti jadi cinta. Hal itu Yoga rasai ketika Fani tidak masuk karena sakit. Yoga yang biasanya tiada hari tanpa bertengkar dengan Fani, akan tetapi tidak untuk hari ini.
Dia hanya diam dan menggambar yang tak jelas dibuku tulis bagian belakangnya. Hal itu membuat Kanya penasaran dan mendekati untuk bertanya langsung padanya. 
“Tumben lo diem, terus sendirian disini. Dicky mana? Oh iya biasanya lo berantem terus sama Fani. kangen gak sehari ga berantem sama Fani? Haha” tanya Kanya sambil tertawa.
“Dicky ke kantin sama yang lain. Ngapain kangenin tuh anak, bisa gila gue” jawab Yoga dengan raut muka jutek dan masih menggambar.
“Lo ga ikut? Ah masa sih? Yakin ga kangen sama Fani?” seru Kanya sambil menebak-nebak
“Ga, gue ga nafsu. Apaan sih lo! Lo sendiri ngapain disini? Kesepian? Ga ada temen ngobrol? Kasian banget ya.” jawab Yoga dengan raut muka yang nambah jutek dan mengejek
“Ga nafsu ga ada Fani? Yaelah gitu aja ngambek. Kesel gua, bete gua” jawab kanya dan meninggalkan Yoga.

Yoga memang merasa kesepian ketika Fani tidak masuk. 
(Apa mungkin ya gue suka sama Fani? Ah tapi masa sih, gue suka sama model cewek kaya orang yang suka cari gara-gara itu. Bisa gila kalo gue emang beneran suka sama dia) begitu dalam hati Yoga sambil bengong dan raut muka yang sinis dan mulut seperti komat kamit.
“Woy Ga! Ngapain? Sinis sendiri, ngomong sendiri gila lu ya?” saut Dicky dan teman-teman lainnya sambil mengejutkan Yoga. 
“Ah apaan sih, orang lagi enak-enak bengong malah diganggu” jawab Yoga dengan raut muka yang masih jutek.
“Eleh ntar kesambet setan baru tau rasa lu!” jawab Gerry dari kejauhan.
“Nih anak malah ikut-ikutan, mau dapet sepatu melayang dari gue?"" jawab Yoga dengan wajah sinis.
“Mau dong, kalo bisa sih dua-duanya aja. Biar bisa gue jual.” Canda Gerry.
“Haha udahla, lo kenapa sih Ga? Hari ini kayak sensian banget? Lagi ada masalah? haha.” Seru dicky
“Gue lagi Badmood malah kalian ajak becanda, yaudah deh gua mau ke Toilet dulu.” 
Yoga pun pergi meninggalkan mereka dan pergi ke Toilet. Baru beberapa langkah keluar dari kelas, sekilas ia seperti melihat sosok perempuan cantik dan anggun berdiri tersenyum tipis kearah Yoga dan mengenakan tas merah dan membawa buku berwarna biru ditangannya. Ntah itu halusinasinya/hayalannya saja atau memang adanya perempuan itu. Jelasnya ketika Yoga mengucek mata, perempuan itu sudah hilang ditempat ia berdiri tadi.
***

Akhir-akhir menjelang semesteran ini pun Fani selalu membuat seisi kelas tertawa riang mendengar lelucon dan betapa lebay dan heboh dirinya. Dan termasuk juga tidak bertengkar dengan Yoga. Dipikirannya ia tidak ingin membuat kekacauan ataupun kesedihan dikelas ini terutama untuk Kanya. Ia hanya berpikir untuk membuat orang yang ia sayangi merasa senang selama bersama dirinya. Karena tak lama lagi ia akan meninggalkan sekolah, kelas dan terutama sahabatnya Kanya. Ia pindah ke luar kota karena ke dua orangtua nya pindah tugas disana.

Tak terasa pembagian raport semester 1 pun tinggal 3 hari lagi. Fani baru menceritakan bahwa setelah semester 1 nanti ia tidak akan ada lagi disini. Teman-temannya malah tertawa dan tidak percaya apa yang dikatakan Fani. Ia makin sedih dan bimbang untuk meninggalkan semua yang sudah ada disini. Setelah 1 hari lagi pembagian rapot, Fani mengundang semua teman-temannya untuk datang kerumahnya untuk acara perpisahannya. Teman-temannya pun baru mempercayai apa kata Fani. Kanya dan teman Fani yang lain pun sangat sedih harus berpisah dengan sahabat dekatnya walau baru beberapa bulan mereka saling kenal. Tetapi tidak dengan Yoga. Ntah apa kabarnya dengan Yoga, yang jelas ia tak datang ketika acara perpisahan itu. 

Esok hari saat pembagian raport pun, Setelah mendapatklan raport dan mengetahui bahwa Fani peringkat ke-4. Ia masih ingin menunggu Yoga dan berharap ini adalah pertemuan terakhir untuknya. Akan tetapi Yoga tak kunjung datang juga. Fani sangat menyesal karena selama ini ia dengan Yoga hanya bertengkar dan bertengkar saja. Karena mendapat kabar dari orangtua Yoga bahwa Yoga tidak bisa datang hari ini, Fani sangat-sangat sedih dan langsung diajak pulang dan berangkat oleh kedua orangtuanya dan tak lupa menitipkan pesan dan barang berupa jam tangan dan gelang untuk Yoga pada Kanya 
“Bilangin ke Yoga, Walaupun hampir tiap hari kita berantem, gue harap ini bisa jadi kenangan dan lo ga lupain momen-momen gila saat kita berantem terus. Kita bisa jadi sahabat ya walaupun sekarang kita udah jauh. Dan gue harap lo pake jam tangan dan gelang ini. Gue seneng banget kalo lo pake jam dan gelang ini, makasih buat selama ini. Mungkin lain hari kita bisa ketemu lagi.” Kata Fani sambil memberikan rekaman tadi ke Kanya untuk disampaikan ke Yoga.
“Oh iya dan untuk lo Nya, jadilah pribadi yang terbuka dan lebih berinteraksi ya bergaulah sama temen-temen yang lain. Makasih ya Nya untuk beberapa bulan ini, see you next time. Gue sayang banget sama lo Nya sayang banget.“ kata Fani sambil menganis dan memeluk erat sahabat tersayangnya itu.
“Iya Fan, gue bakal bilangin nanti ke Yoga. Makasih juga ya Fan buat beberapa bulan ini. Lo adalah sahabat terbaik yang pernah gue miliki. Dan lo juga yang buat gue jadi lebih percaya diri dan bisa bergaul lebih baik lagi dengan orang lain. Makasih banyak ya Fan. Gue juga sayang banget sama lo. Lo jangan lupain gue ya.” Seru Kanya sambil memegang dan menghapus air mata yang membasahi pipi Fani.
“Iya Nya sama-sama, lo juga ya jangan lupain gue. Bye nya dan semua.” Seru Fani dengan tersenyum lebar dan melambaikan tangan kearah Kanya dan teman-temannya yang lain juga.

Cerita Persahabatan: Sahabatan Dulu Aja By Yova Liani Putri

Liburan semester 1 pun sudah terlewatkan, Kanya masih saja merasa sedih setelah kehilangan sahabat terbaiknya itu. Ia duduk sendiri di Bangku nya. Hari-hari yang biasanya dilalui dengan canda tawa kini sudah berubah menjadi seperti dulu menjadi pendiam dan ga banyak bicara. Dan Yoga pun juga ikut merasakan sedih setelah ditinggal oleh Fani. Ia baru menyesal dan menyadari betapa bodoh nya ia tak ikut melewati hari-hari terkahir bersama Fani. Bagi Kanya, Fani datang hanya sementara untuk merubah Kanya agar lebih baik dan merasakan hari-hari dengan canda tawa tanpa harus merasa sedih / duka bersama seorang sahabat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. 

Sebelumnya, Kanya tidak pernah mempunyai seorang sahabat yang tulus menyayanginya dari hati seperti Fani. Sekali datangnya sahabat sebaik dan setulus Fani, tetapi harus ditinggal pergi dan pindah ke kota lain. Dulu ia selalu tersiksa, diejek dan tertekan oleh teman-temannya ketika masih SMP. Maka dari itu, baginya Fani sahabat terbaik yang pernah ada dalam hidupnya saat ini.

Di semester II ini Kanya terpilih menjadi Wakil Ketua Kelas dan Yoga masih tetap menjadi Ketua Kelas. Ia sekarang merasa lebih dekat dengan Yoga dibanding dulu sampai-sampai ia merasa bahwa ia kali ini benar-benar menyukai Yoga. Dan ia juga merasa kalau Yoga juga menyukainya tapi dia tetap optimis dan tidak ingin terlalu berharap karena takutnya apa yang ia ingin dan pikirkan malah tak kesampaian. 

Seminggu kemudian, dikelas 10.5 kedatangan siswi baru dengan rambut panjang, dengan bando biru, berkulit putih halus, tas merah, anggun, bibir tipis yang merah merona yang bernama Tania Dwistari. Ia sangat cantik sampai seluruh mata hanya terpandang untuk melihat dirinya. Termasuk juga Yoga, Yoga sempat memandang Tania. Ia seperti pernah melihat sosok perempuan itu tapi ia tidak ingat. Tania duduk di sebelah Kanya. Tania sangat berbeda dengan Fani, Tania bersifat lugu dan pendiam seperti Kanya dulu. Kanya berpikir “apakah aku harus menjadi seperti Fani dan Tania seperti aku dulu yang akan ku ubah menjadi Kanya yang sekarang lebih aktif dan berinteraksi dengan orang lain?”. Itu yang ia pikirkan sekarang tapi menurutnya itu tidak mungkin. Karena jelas Kanya mana mungkin bisa mengikuti hal yang seperti biasa Fani lakukan. 
***

Perasaan Kanya pada Yoga saat ini hanya bisa dipendam. Karena menurutnya Yoga tak mungkin menyukainya. Jelas-jelas, ia merasa tersaingi oleh Tania yang memang banyak dikagumi oleh orang-orang dan mungkin orang tersebut termasuk Yoga. Ia bingung ingin menceritakan hal ini pada siapa, jadi menurutnya mungkin memang lebih baik memendamnya sendiri. Ntah mengapa sifat Yoga sekarang menjadi lebih cuek dan tak peduli dengan hal apapun yang orang lain lakukan. Tapi tak lama itu juga, ia mendengar dari temannya yang bernama Tya dan Sacha sepertinya Tania dan Yoga menjadi dekat karena mereka sering chatting dan curhat tentang kepribadian mereka. Kanya hanya bisa memendam cemburu itu dan terlihat biasa saja dimata orang agar tidak terlihat kalu Kanya memendam rasa pada Yoga. Tak lama itu, mungkin karena ia lelah memendam rasa yang terlalu numpuk di hatinya itu. Ia menceritakan semua tentang rasanya pada Tya dan Sacha. Ia yakin mereka sahabat yang baik setelah Fani, karena akhir-akhir ini mereka bertiga sangat dekat juga semenjak Kanya menjadi Wakil Ketua Kelas. 

Setelah bercerita dengan Tya dan Sacha, Kanya selalu meminta bantuan mereka berdua untuk mencari info-info yang menyangkut tentang Kanya. 
“Kanyaaaa Naeleaaaaaa!!!” teriak Tya didepan telinga Kanya
“Ih apaan sih yak? Bisa rusak nih gendang telinga gue.” Jawab Kanya sambil mengusap telinga nya yang habis diteriakin Tya tadi.
“Nya, gue ada berita terbaru!!” bisik Tya
“Emang apaan? Sacha mana? Tumben jam segini belum dateng.” Tanya kanya
“Dia kaga masuk terus Tania juga tuh suratnya udah ada di Yoga. Hari ini gue duduk sama lo yah? Gue mau cerita banyak sama lo!!” seru tya
“Oke yaudah ambil dulu gih tas lo.” Pinta kanya dan tya pun mengambil tas nya.

Bel pun berbunyi, Tya tak peduli apapun itu yang terpenting menceritakan apa yang mesti diceritakan pada Kanya. Ternyata Yoga sering cerita dengan Tania masalah cewek yang ia sukai dikelasnya. Yoga sering update status di socialmedia tentang cewek gitu. Ntah cewek itu Kanya atau Tania. Tapi yang jelas Tya yakin kalo yang dibicangin sama Tania itu Kanya. Tapi setiap Yoga bercerita tentang cewek tersebut, Tania slalu bertanya-tanya siapa cewek yang ia maksud. Yoga tidak pernah memberitahukannya sehingga Tania malah berpikir apa mungkin yang dimaksud itu dia? Makanya dia ga pernah ngasih tau ke Tania. Tania makin penasaran dan mencoba slalu mencari tau. Setelah Kanya mendengar cerita tersebut dari Tya, Kanya malah tambah merendahkan diri dan tidak mungkin yang ia maksud itu Kanya. Mungkin memang benar yang dimaksud Yoga itu Kanya. Tapi Tya tidak pernah berhenti untuk mendukung Kanya agar tetap percaya diri. Tya dari dulu sebenarnya ingin sekalian mencomblangi Yoga dengan Kanya dengan bantuan Dicky, Gerry dan teman-teman Yoga yang lainnya. Mereka padahal sudah hampir selesai nyusun rencana, akan tetapi keceplosan oleh Sacha dan akhirnya gagal misi itu. Teman-teman Yoga sudah mengetahui bahwa Kanya menyukai Yoga, bahkan mereka juga ikut meyakinkan Kanya kalau Yoga juga menyukai Kanya. Tetapi Kanya tetap tidak yakin apa yang dikatakan mereka. Menurut Kanya, mereka hanya membuat Kanya makin GeeR (Gede Rasa) dan agar Kanya makin menyukai Yoga dan membuat Kanya makin panas. 
“Panggilan kepada perangkat kelas 10.5 harap menemui Ibu Femia di perpustakaan. Sekali lagi, panggilan kepada perangkat kelas 10.5 harap menemui Ibu Femia di perpustakaan. Terima Kasih” begitu pendengaran Kanya dan Tya dari pengumuman yang diumumkan di Ruang TU tersebut.
“Lo dipanggil tu, gih kesana mumpung bisa sama pujaan lo tuh haha.” Usir tya sambil nyengir.
“Hm iya iya ih.” Jawab kanya jutek.
***

Pagi itu Yoga dan teman-temannya sedang merumpi, Tya dan Sacha penasaran dengan apa yang di bincangkan mereka dan ternyata ... 
“Kanyaaa, ntar pulang sekolah temenin gua potokopi bentar di toko depan ya bentarrrr aja.” pinta Sacha pada Kanya. Kanya tidak pernah menolak tawaran Sacha sebelumnya. Karena menurut nya Sacha selalu baik & terlalu jujur baginya walaupun sedikit lemot jadi ia tidak tega untuk menolak tawarannya. 

Ketika bel istirahat pun berbunyi, Tya dan Sacha mengajak Kanya ke kantin dan tidak terduga mereka berdua mengajak Kanya untuk makan semeja bersama Yoga dan teman-temannya. Tangan Kanya mendingin, wajahnya pun memerah dan salah tingkah seketika tapi ia mencoba untuk menahannya agar tidak membuat Yoga dan yang lainnya jengkel dengannya. Ketika istirahat pun selesai ia kembali ke kelas dengan ditemani Yoga. Ia makin salah tingkah dan senang sekali. Akan tetapi bahagianya sedikit memudar akibat Tania bersikap perhatian dengan Yoga. Tya bukannya malah menenangkan Kanya tetapi malah membuat Kanya semakin memanas. Hal ini sangat lucu bagi Tya dan Sacha karena ia belum tau apa jadinya saat pulang sekolah nanti. Tya dan Sacha juga menahan dan mencoba mengalihkan pembicaraan yang hampir masuk dalam misinya nanti. Tya & yang lainnya ingin misi kali ini berjalan sempurna. 

Bel pulang sekolah pun berbunyi, Sacha langsung menarik dan mengajak Kanya ke Toilet terlebih dahulu. Sacha sengaja berlama-lama di toilet agar Tya dan yang lain sudah sampai di tempat tujuan. Hal ini membuat Kanya makin kesal dan emosi karna menunggu Sacha terlalu lama di dalam toilet. Setelah mendapat kode dari Tya, Sacha langsung keluar dari toilet dan langsung menarik tangan Kanya untuk segera cepat ke taman belakang kelas.
“Lah bukannya lo ngajak gue ke toko potokopi di depan sekolah, kok lo malah ngajak gue kesini sih?” tanya Kanya yang kebingungan.
“Ya gapapa, bentar ya tunggu bentarrr disini gue lupa kalo buku gue ketinggalan dikelas.” Seru sacha dengan wajah melas.
“Yaelah kenapa gua malah disuru nunggu sendirian disini? Apa salahnya kalo gue ikut?” jawab Kanya dengan wajah cemberut
“Salah banget, kan lo udah capek. Gue kasian liat lo ngikutin gua terus muter-muter. tunggu bentar aja disini ya? Ga sampe 5 menit kok yayaya?” pinta sacha dengan wajah yang makin melas dan membuat Kanya semakin tidak tega dan langsung lari meninggalkan kanya.
“Hm yaudah cepet ya.” Teriak Kanya.

Tiba-tiba Yoga datang menghampiri Kanya sehingga membuat Kanya terkejut. Tak disangka, Yoga menyatakan perasaan yang dia rasakan saat ini padanya. Kanya semakin bingung dan kenapa bukan Tania orang yang Yoga suka selama ini? Yoga pun menjelaskan memang dulu ia pernah menyukai Fani akan tetapi Fani hanya datang sementara untuknya. Semenjak Yoga dekat dengan Kanya, Yoga yakin bahwa Kanya orang yang tepat baginya. Tania terlalu baik menurutnya, ia sempat dekat dengan Tania karena ia pernah melihat sosok perempuan seperti Tania berdiri melihat Yoga. Tetapi itu hanya hayalan Yoga yang menjadi kenyataan akan perginya Fani dan datangnya Tania. 
Setelah Yoga menceritakan semua secara detail, Yoga tinggal menunggu jawaban Kanya. Kanya makin bingung, menurutnya Tania menyukai Yoga. Ia tidak ingin bahagia sementara temannya sakit hati. Kanya menjelaskan kalau Kanya memang menyukai Yoga dari dulu, tapi bukan berarti Kanya harus memiliki Yoga. Kanya hanya ingin mengetahui apa isi hati Yoga dan mengungkapkan isi hatinya pada Yoga. Baginya, itu saja sudah cukup. Kanya minta pada Yoga kalau sebaiknya bersahabatan dulu saja. Ia belum memikirkan untuk menjalani hubungan. Jadi, menurutnya lebih baik bersahabat agar tidak ada perselisihan, masalah ataupun sakit hati diantara mereka. Yoga pun mencoba untuk mengerti keadaan dan perasaannya. Dan tiba-tiba muncul sesosok Tya dan teman yang lain.
“Yah kenapa lo ga bilang kalo lo cuma pengen gitu doang ga lebih. Jadi kan percuma kita semua buat rencana kalo endingnya bakal ginian.” Kata Tya dengan wajah sinis.
“Ya kan gue udah bilang gue ga mau di comblang-comblangi kayak gitu-gituan. Dan sekarang masih aja bandel. Rasain tuh akibatnya haha.” Ejek kanya dengan wajah merah menjahili Tya.
“Yaudahla sekarang kan kita udah tau kayak gini yaudah terima aja yak.” Ujar Dicky.
“Lo enak cuma modal ngomong doang, gue yang mikirin gimana caranya itu yang ga enak. Sakitnya tuh disini.” Jawab Tya sambil menunjuk ke hatinya dan beraut muka sedih.
“Yaudahla sekarang kan permintaan Kanya ya gitu, pengennya kita semua juga sahabatan. Sekarang kita mulai persahabatan kita kalo bisa sih sampe kita tua dan selamanya.” Usul Yoga dengan merangkul sahabat-sahabatnya.
“Iya, yaudah kita pulang yuk. Ntar dicariin my mommy belum pulang jam segini.” Usul Sacha dengan wajah dan senyum pepsodent gitu.

Selesai mereka berbincang-bincang, mereka pun berjalan bersamaan ke sampai ke depan gerbang dan segera pulang kerumahnya masing-masing.

*SELESAI*

Tentang Penulis :
Hai. Aku Yova Liani Putri. Aku tinggal di Palembang. Masih bersekolah di SMK NEGERI 1 PALEMBANG. Facebook : https://www.facebook.com/yvlnptr97
Path : Yova Liani Putri
Twitter/ask.fm/Intagram : Yova_Lnp. 

FANSPAGE