Showing posts with label Cerita Inspiratif. Show all posts
Showing posts with label Cerita Inspiratif. Show all posts

Positif Kecanduan By Ana Rifqi Jamil

Positif Kecanduan
Penulis: Ana Rifqi Jamil

“An, dicari Alwi tuch. Ditungguin di perpustakaan.”
“Kok dia engga sms aja, Ly?”
“I don’t know..”
“Ya udah. Makasih ya, Lely.”
Aku mengikuti langkahnya ke perpustakaan. Karena jujur saja aku khawatir dengannya. Hari ini dia bukan Ana yang kukenal. Sambil pura-pura meminjam buku dan akan membacanya di perpustakaan, aku mencari posisi yang tepat supaya bisa melihat dan (siapa tau) bisa mendengar pembicaraan Ana dengan pacarnya, Alwi.
“Tapi kamu engga bilang sama aku, Wi. Aku punya salah apa sama kamu? Apa aku selingkuh? Atau gara-gara aku lupa hari ulang-tahunmu kemarin?”
“Kamu engga punya salah apa-apa, An. Cuma, sebenarnya aku engga benar-benar sayang sama kamu, An. Aku engga mau terus-terusan bohong sama kamu. Maaf ya.”
“Kalau engga benar-benar sayang, kenapa pacaran kita bisa bertahan dari kita SMP sampai sekarang? Empat tahun, Wi. Dan kamu bilang kamu cuma iseng? Atau jangan-jangan kamu mutusin aku karena kamu sudah mau lulus dan kuliah di luar kota? Sebenarnya ada apa sih, Wi?”
“Maaf ya.”

Lalu Alwi meninggalkan Ana sendirian di perpustakaan. Kejadian di bangku belakangku barusan membuatku terpaku. Apa yang harus aku lakukan? Pura-pura tidak tau dan tidak mendengar? Sedangkan saat ini Ana sangat membutuhkan dukungan dan sandaran, mungkin untuk menangis dan protes atas sikap pacarnya.
Belum juga selesai aku berpikir, Ana sudah berada di depanku dengan mata berkaca-kaca. Seolah-olah dia mengatakan kalau dia memang membutuhkan teman, sekarang juga. Aku pegang tangannya dan aku tarik dia keluar dari perpustakaan. Aku ajak dia ke lapangan basket di belakang sekolah.
Begitu sampai lapangan basket, Ana langsung memelukku dan menangis.
“Aku engga salah apa-apa, Ky. Tapi dia mutusin aku. Aku sayang banget sama dia. Tapi dia cuma iseng. Aku engga terima, Ky.”
“Menangislah semaumu, An. Pundak ini ada untuk kamu bersandar. Keluarkan semua kesedihanmu sekarang.” kataku berusaha menenangkan dan membelai rambutnya.
***

Hari pembagian raport.
“Ciye… Ciye… Yang juara II paralel.”
“Ah kamu apaan sih? Selamat ya, An. Sang juara I paralel. Aku salut sama kamu. Aku belum berhasil mengalahkan kamu dari SMP. By the way, kamu jadi masuk jurusan Bahasa, An?”
“Jadi donk! Aku khan calon ahli bahasa! Kalahkan aku di kelas XI Bahasa nanti!”
“Siapa takut? Makan, yuk! Aku yang traktir deh.”
“Asyiiik!!”
Entah dia sudah lupa dengan masalah kemarin, atau dia memang pandai menyembunyikan kesedihannya. Aku semakin khawatir padanya. Tapi aku juga tak tega untuk bertanya tentang masalah itu. Kenapa aku jadi banyak pikiran begini ya?
Akhirnya kami berdua makan dengan tanpa ngobrol barang satu topik. Dan aku sudah cukup puas melihat senyumnya hari ini.
***

Empat tahun lalu, hari pertama masuk sekolah. Kelas satu SMP.
“Hai, kenalin. Aku Ana. Kamu?” ternyata ada cewek dengan senyum yang sangat indah menghiasi paras cantiknya di kelasku ini.
“Aku Lucky.”
“Melamun aja? Ntar kesambet lho. Hihihi.. Ke kantin, yuk!”
Mulai saat itu, aku kecanduan senyumnya, kecanduan mendengar suaranya, kecanduan keaktifannya di kelas, aku kecanduan dia. Aku juga lah orang yang menyarankan untuk menerima pernyataan cinta Alwi, kakak kelas kami. Sampai sekarang, naik kelas XI, akupun memutuskan untuk memilih kelas jurusan bahasa, kelas yang sama dengan Ana. Selain aku juga sangat menggilai bahasa, karena aku tak mau kehilangan waktu tanpa melihat Ana.
Karena rasa kecanduanku itulah, aku jadi sangat khawatir saat dia punya masalah dengan (sekarang mantan) pacarnya itu.
***

“Halo. Ky, you know? Aku menang lomba English Speech Contest di Untag Banyuwangi!”
“Wow, congratulation! Ya aku tunggu traktirannya ya! Hehehehe”
“Iya, aku dapat voucer makan juga kok. Ntar kita makan bareng di sana ya! Eh, udah dulu ya. Bye..”
Bikin hatiku kepanasan sampai kepala ini terasa berasap dan kebakaran karena keikutsertaan dan kemenangannya. Sebenarnya aku juga ikut, tapi naskahku tidak lolos seleksi. Keesokan harinya, saat aku mengajak Ana berdiskusi tentang puisi-puisi ciptaan Sutarji Kalsum Bachri.
“Ana san.”
“Iya, Sensei (panggilan untuk guru dalam bahasa Jepang)?”
“Ana san belum beruntung tahun ini dalam benrontaikai (lomba speech contest dalam bahasa Jepang) tahun ini. Tapi tetap mendapatkan sertifikat dan souvenir kok. Ana san bisa mengambilnya di meja saya. Tahun depan, motto ganbatte ne (lebih semangat ya)!”
“Hai, ganbarimasu (iya, saya akan berjuang). Terimakasih, Sensei.”
Arang sisa kebakaran kemarin masih berasap, terkena hembusan berita itu, hatiku kebakaran lagi! Bahasa Jepang, aku akan menaklukkanmu!
“Teeeeett.. Teeeeett..” bel sekolah tanda sastra Indonesia dimulai.
“Selamat siang.” Pak Affan menyapa kami.
“Selamat siang, Pak…” seruku dan teman-teman sekelas dengan semangat, karena hari ini Pak Affan akan mengumumkan cerpen siapa saja yang akan dibukukan dalam buku kumpulan cerpen siswa kelas XI.
“Kalian semua memang pantas masuk kelas Bahasa. Saya salut pada kalian, karena semua cerpen karya kalian dinyatakan lolos dan akan dibukukan.”
“Tapi, ..” lanjut Pak Affan. “.. yang menjadi favorit tim teaching Bahasa dan Sastra Indonesia adalah cerpen yang berjudul ‘Memulihmu’.”
Keributan seketika melanda kelasku karena tidak ada seorangpun yang tau judul tersebut karya siapa, dan tidak ada yang mengaku. Aku langsung mencurigai satu orang. Yupz! Siapa lagi kalau bukan teman sebangkuku yang super pintar, Ana.
“Kenapa ngeliatin aku kayak gitu?”
“Cerpen kamu ya?” selidikku.
“Hehehe.. Alhamdulillah..” jawabnya dengan muka datar.
Lama-lama aku bisa gosong dibuatnya. Anak ini dikasih makan apa ya oleh orangtuanya? Atau melakukan ritual tertentu?
“An, sepulang sekolah, aku main ke rumahmu ya!”
“Boleh. Tapi tumben banget tiba-tiba mau ke rumahku. What’s up?”
“Nothing. Hehehe.”
***
Positif Kecanduan By Ana Rifqi Jamil
Positif Kecanduan By Ana Rifqi Jamil

Sesampai rumahnya, kami disambut oleh ibunya.
“Eh, ada tamu to? Siapa ini, An? Pacar baru?”
“Ibu, apaan sih? Ini yang namanya Lucky, Bu.”
“Owalah.. Ini to yang namanya nak Lucky. Ana sering cerita tentang kamu lho!”
Aku hanya tersenyum lebar mendengar hal itu. Senang, tidak percaya, surprise, campur aduk tak karuan. Setelah bersalaman dengan ibunya, lantas kami masuk rumahnya.
Rumah yang sangat sederhana. Di ruang tamu ini hanya terdapat meja yang ditata rapi di atas karpet sederhana dan sudah jebol di beberapa bagian. Dinding ruangan yang menghadap pintu berhiaskan foto Ana dan kakak laki-lakinya waktu masih TK (terlihat dari seragam yang mereka kenakan) sedang membawa piala. Ada juga dua lukisan, kucing hutan dan induk burung yang sedang memberi makan anak-anaknya dalam sarang di atas pohon. Terdapat bekas rembesan air di beberapa titik plafonnya. Tebakanku mengatakan kalau pasti ruangan ini bocor di sana-sini saat hujan. Bersebelahan dengan tempatku sekarang bertengger alias duduk, terdapat dua rak buku yang tersusun rapi dan bertanda ‘Ana’ di salah satu rak, dan ‘Afiq’ di rak yang lain.
“Sebentar ya, Ana masih ganti baju.” Kata ibu sambil membawakanku segelas air putih dan mi goreng. Mi goreng? Ya, mi goreng.
“Ini cuma ada mi goreng. Ndak apa-apa ya? Buat mengganjal perut. Karena ibu tidak masak nasi hari ini. Silahkan dimakan dulu, sambil menunggu Ana. Ibu tinggal dulu ya.”
“Iya, Bu. Terimakasih. Ini makanan favorit saya kok, Bu.”

Beberapa menit kemudian mi goreng buatan ibu sudah ludes masuk lemari penyimpanan makananku beserta segelas air putihnya, dan Ana pun muncul.
Aku mengikuti kegiatan demi kegiatan yang Ana lakukan. Yang pertama adalah duduk-duduk di samping rumahnya sambil mengejakan PR dan tugas yang diberikan guru-guru tercintaku hari ini. Menurut cerita Ana, kursi kayu yang lengkap dengan mejanya ini adalah her and her brother’s request. Katanya sangat nyaman bila belajar di sini. Menghadap kebun singkong dan tanaman kebutuhan dapur yang terhampar di samping rumahnya ini, membuat suasana belajar menjadi sejuk dan hijau yang menenangkan sejauh mata memandang. Benar saja, tanpa terasa kami berdua sudah mengerjakan PR, tugas, sekaligus latihan soal-soalnya selama dua jam! Padahal biasanya aku hanya sanggup berkutat dengan buku paling lama 30 menit. Sugoi (awesome)!
Setelah itu, Ana mengajakku ke sebuah ruangan di belakang rumahnya.
“Gudang?” komentarku saat Ana membuka pintu ruangan itu.
“Ini bukan sembarang gudang, Ky. Ini bengkel kakakku. It’s time to play. Have fun!”
“Bengkel, dengan aroma cat yang sangat pekat? Tempat bermain?” Kataku dalam hati.
“Hei, bawa teman hari ini?”seorang pria berkacamata menyapa kami.
“Iya, kak. Sudah siap?”
“Siap donk!”
“Kakak duluan.”
“Ok!”

Mereka setor hafalan kosakata dalam tiga bahasa secara bergantian! Oh my god, Ana menyebut ini bermain? Kalau melihat ekspresi kakak beradik ini hafalan, memang terlihat seperti sedang bermain kuis. Setelah mereka selesai dengan kegiatan ‘bermain’nya, kak Afiq mengajak kami belajar melukis di atas kanvas. You know? Bukan pemandangan atau hewan yang Ana gambar, tapi dia menulis huruf kanji! Dasar calon ahli bahasa!
“Eh, tadi kita belum kenalan ya. Aku Afiq, kakaknya Ana.”
“Lucky, teman sebangkunya Ana.”
“Kak, Ky. Aku kebelet nih. Sebentar ya. Hehehehe.”
Kak Afiq bercerita banyak padaku tentang dirinya dan Ana. Dari ceritanya baru aku tau bahwa foto mereka yang dipajang di ruang tamu adalah foto saat menang lomba di kecamatan. Kak Afiq menang lomba menggambar, dan Ana menang lomba baca puisi. dan dua lukisan yang mengapit foto itu tentu saja hasil coretan kak Afiq.
“Bapak ibu sudah mengajarkan keberanian pada kami sejak kecil. Berani berbicara dengan guru, berani bertanya bila tidak memahami sesuatu, berani tampil di depan orang banyak, dan berani berkompetisi. Selain itu, belajar dan berlatih adalah kegiatan yang diprioritaskan di rumah ini. Apa pun kegemaran kami, kami diijinkan melakukannya, asalkan dengan ketekunan, keseriusan dan disiplin. Karena aku suka menggambar sejak kecil, aku menekuninya sampai sekarang dan telah memenangkan berbagai lomba dan pernah mengadakan pameran tunggal. Dan kamu pasti tau apa yang disukai Ana. Jadi jangan kaget bila seharian melihat Ana berkutat dengan bahasa dan selalu membawa notebook ijonya itu kemana-mana.”
Aku tak dapat berkomentar. Inilah ritual yang Ana lakukan setiap hari sehingga dia bisa selalu menjadi nomor 1. Tapi, pertanyaan masih mengusikku. Apa isi notebook ijonya? Apakah di dalamnya terdapat mantra-mantra yang bisa membuatnya tetap menjadi nomor 1?
“Hei, kok bengong? Mau ikut engga?” Ternyata Ana sudah kembali ke bengkel seni ini.
“Kemana?”
Tanpa menjawab, dia menggeretku ke ruang tamu.
“It’s about my lovely green notebook. Tadi aku mendengar kak Afiq cerita tentang bukuku ini. Kalau kamu penasaran isinya, kamu boleh membawanya pulang kok. Tapi besok harus kamu kembalikan lagi. Bagaimana?”
“Deal.”
Tak terasa siang sudah tergantikan oleh petang. Akupun berpamitan pulang. Tak ada bungkusan yang kubawa sebagai oleh-oleh dari rumahnya. Ilmu? Jangan ditanya, jika ilmu memiliki berat, mungkin aku tak sanggup memikulnya sampai rumahku.
***

Bahkan saat tak bersamanya, aku tetap mendapatkan ilmu baru darinya. Ini mengenai kitab ijo miliknya. Buku itu berjudul ‘My Diary’ pada halaman terdepan, dan berisi daftar kosakata tiga bahasa (bahasa Inggris-Jepang-Arab) yang sudah dia pelajari. Di pojok kanan atas setiap lembar tertulis tanggal secara berurutan tanpa jeda, pertanda bahwa dia mempelajari kosakata baru setiap hari.
Dan terdapat semacam curahan hati di lembar paling belakang,
Alwi sudah terhapus dalam hatiku.
Aku harus fokus untuk masa depan dan cita-citaku.
Tiada detik tanpa belajar dan berlatih.
Ganbatte, Ana!
Ingat pesan Bapak,

“JADILAH NOMOR SATU DIMANAPUN DAN KAPANPUN”

You know? Aku malu pada diriku sendiri. Selama ini aku sombong dan sangat puas dengan prestasi yang telah aku raih. Rasanya sangat tidak pantas bila dulu aku merasa terbakar oleh pencapaian-pencapaiannya. Karena aku sama sekali tak melakukan apapun, hanya berlagak sombong dan yakin, tapi dengan kekosongan di dalamnya. Apa yang sudah aku lakukandan usahakan? Motto itu sekarang menjadi motto hidupku juga.

Joni dan Galah Istimewa By Muhammad Labib Naufaldi

Joni dan Galah Istimewa
Pemulis: Muhammad Labib Naufaldi

Di sebuah desa kecil di suatu kerajaan, tinggallah empat bersaudara yang hidup tanpa orangtua. Dani adalah anak sulung yang paling bijaksana dan menjadi pemimpin bagi adik-adiknya, Samsul adalah anak kedua yang paling pandai dan berotak cerdas, kemudian Rudi, anak ketiga yang serakah, namun ambisius dan memiliki kemauan kuat, dan terakhir, anak bungsu dari empat bersaudara tersebut adalah Joni. Ia dilahirkan dalam keadaan cacat dimana matanya mengalami kebutaan. Ia hanya dikandung selama tujuh bulan oleh ibunya yang meninggal dalam sebuah kecelakaan saat mengandung Joni. Beruntung, Joni selamat meski lahir dengan ketidaksempurnaan itu.

Untuk hidup, keempat kakak beradik itu bekerja di perkebunan buah milik kerajaan. Mereka selalu rajin dan kompak dalam bekerja. Namun upah kerja mereka sangatlah minim dan hanya cukup untuk makan. Oleh karena itu, mereka hidup dalam kondisi miskin di sebuah rumah sederhana.

Suatu hari, mereka sedang bekerja di kebun. Sekarang adalah musim mangga. Mereka bekerjasama memanen mangga.
“Huh! Kak, aku lelah. Bolehkah aku beristirahat sejenak?” keluh Rudi sambil menyeka keringat di dahinya. Tahun ini, perkebunan mangga diperluas sehingga panen pun melimpah ruah. Para pemetik buah harus bekerja keras untuk memanen mangga dari setiap pohon.
“Baiklah, kakak juga lelah. Kita bekerja keras sejak pagi, kita butuh istirahat sejenak.” ujar Dani. “Samsul! Joni! Berhentilah bekerja! Mari beristirahat sejenak!” panggil Si sulung. Ia mengambil empat buah mangga dari keranjang dan membawanya ke sebuah pohon mangga tua yang berdaun lebat dan teduh. Rudi mengikutinya dari belakang.
“Sebentar lagi, kak! Nanti aku akan menyusul.” sahut Joni sambil tetap meraba-raba pohon, mencari buah mangga sementara Samsul turun dari pohon dengan melompat, kemudian berjalan menuju kedua saudaranya.
“Aduh, kak! Capek aku kalau terus begini. Aku sudah bosan dengan pekerjaan memetik buah. Kita bekerja sepanjang tahun, tetapi hanya mendapat upah sedikit. Andai aku menjadi seorang pangeran. Hidupku pasti tidak susah seperti ini” Rudi kembali mengeluh.

“Adikku, memang benar yang kau katakan, tetapi kita tidak memiliki pilihan. Ini juga karena kesalahan kita di masa lampau. Seharusnya kita tidak menghambur-hamburkan harta warisan ayah dan ibu.” kata Dani sambil mengupas kulit mangga dengan pisau.
“Ini semua karena kau Rudi! Kalau saja dulu kau tidak membeli kuda, kita pasti masih memiliki uang banyak. Sekarang, kudamu pun kabur entah kemana.” sahut Samsul.
“Tapi kakak juga dulu membeli banyak buku, hingga sempit rumah kita penuh buku-buku. Sekarang pun kakak sudah tidak menggunakannya lagi bukan? Buku-buku itu sudah menumpuk seperti sampah, kak!” ujar Rudi.
“Apa katamu? Buku itu sumber ilmu. Kudamulah sampah sebenarnya!” bentak Samsul.
“Sudahlah, adik-adikku! Janganlah kalian bertengkar! Toh dengan bertengkar uang kita tidak akan kembali. Lebih baik kita ambil pelajaran dari kesalahan kita, untuk tidak menghambur-hamburkan uang.” kata Dani bijak. “Mangga ini sudah selesai kukupas. Sekarang makanlah!”

Joni belum beranjak dari pohon. Ia masih berusaha mencari mangga di sebuah pohon mangga yang rendah.
“Hei, Joni! Apa yang kau lakukan di pohon itu? Sudah tidak ada satupun mangga tergantung disitu. Kemarilah, istirahat sejenak sambil menikmati mangga yang manis!” seru Dani memanggil Joni.
“Dasar bodoh! Mengapa dia repot-repot menjangkau ranting-ranting pohon, padahal sudah tidak ada mangga tergantung disitu?” celetuk Rudi.
“Hush! Joni lebih baik daripada kau yang kerjanya lamban.” sindir Samsul kepada Rudi. Rudi hanya menggerutu dalam hati.
Joni pun menghampiri ketiga kakaknya yang sedang asyik menyantap buah mangga. Ia duduk di sisi luar bayangan pohon. Kemudian Dani mengangkat tubuh mungilnya mendekati batang pohon.
“Duduklah disini! Lebih sejuk dan teduh.” kata Dani. “Jon, mangga yang tersisa hanya yang berukuran kecil. Tunggulah sebentar sementara aku mengambilkan buah mangga yang lebih besar.”
“Tidak usah repot-repot, kak! Sedikit buah mangga pun sudah cukup untuk mengganjal perutku.” kata Joni.

Kemudian Dani mengupas mangga untuk Joni. Joni pun menyantap buah mangga kecil itu dengan riang. Setelah beristirahat, mereka berempat kembali bekerja hingga petang.
Keesokan harinya, raja mengumumkan tentang penyelenggaraan sebuah perlombaan bagi para pemetik buah. Tiga orang pemetik buah yang paling banyak memetik mangga akan mendapat hadiah. Perlombaan dilakukan secara perorangan dan dimulai lusa nanti selama seharian.
Dani, Samsul, Rudi, dan Joni pun tertarik untuk mengikuti perlombaan ini. Dani pun menyusun strategi bersama adik-adiknya untuk memenangkan perlombaan. Mereka berharap dapat memperoleh hadiah demi memperbaiki hidup mereka.
“Adik-adikku, ini adalah kesempatan kita untuk mendapatkan kehidupan seperti dulu. Kita harus berjuang untuk memenangkan lomba itu. Besok kita harus berlatih memetik mangga dengan cepat.” kata Rudi.
“Benar, kak! Kita harus memenangkan lomba. Aku akan berusaha sekuat tenaga!” ujar Rudi semangat.
“Iya, kak! Aku juga akan berjuang dengan seluruh kemampuanku!” ujar Samsul menimpali perkataan Rudi.

Hanya Si bungsu Joni yang membisu. Karena tidak dapat melihat, ia akan kesulitan memetik mangga dengan cepat. Tetapi dalam hatinya, ia juga bertekad untuk bekerja dengan sebaik-baiknya.
Sebagai kakak yang baik, Samsul berniat membantu Joni. Samsul pun berpikir keras untuk menciptakan alat yang dapat memudahkan Joni dalam memetik mangga.

Di hari berikutnya, Samsul tidak ikut bekerja memetik buah mangga. Ia tinggal di rumah untuk menciptakan alat bantu untuk adik bungsunya. Joni yang sadar kakak keduanya sedang berusaha membantu dirinya pun berusaha keras memetik mangga dengan cepat untuk mendapat upah harian lebih banyak dari biasanya. Uang itu nantinya akan diberikan sebagian untuk kakaknya, Samsul.
Kebanyakan para pemetik buah hanya bekerja setengah hari. Mereka memiliki pekerjaan lain dan menjadikan pekerjaan ini sebagai kerja sampingan. Namun Dani, Samsul, Rudi, dan Joni menggantungkan dirinya pada pekerjaan ini. Mereka pun sangat terampil dan cekatan dalam memanjat pohon, memilih buah yang sudah masak, dan memetiknya dengan cepat.

Joni yang mengalami kebutaan hanya dapat memetik buah mangga dari pohon yang agak rendah. Ia telah mengenal kebun secara detail, mulai dari letak pohon-pohon mangga yang tinggi dan rendah, pohon yang berbuah lebat, pohon yang buahnya masam dan berbagai karakteristik pohon mangga yang berbeda-beda. Ia mengenali pohon dengan indera penciumannya yang peka. Aroma harum buah mangga begitu dikenalinya. Kualitas buah mangga pun dapat diseleksi dengan mencium aromanya. Meski memiliki modal berupa kepekaan penciuman, Joni tetap kesulitan karena penglihatan merupakan syarat utama untuk memetik buah.

Hari itu, Dani, Rudi, dan Joni bekerja hanya sampai sore hari. Mereka menyimpan tenaga sebagai persiapan untuk perlombaan esok hari. Malam harinya, mereka berkumpul untuk berdoa bersama. Di malam itu pula Samsul menyelesaikan alat bantu untuk Joni, berupa galah yang terbuat dari pipa lebar yang tidak terlalu panjang. Di ujungnya terdapat corong logam dengan bagian pinggir mulutnya diasah hingga tajam. Dengan alat ini, Joni hanya memasukkan mangga yang menggantung di pohon ke dalam corong, kemudian memiringkan galah hingga tangkai buah menyentuh pinggiran corong, dan mangga pun jatuh masuk ke dalam corong yang selanjutnya masuk ke saluran pipa dan diarahkan masuk ke keranjang. Joni pun begitu senang atas bantuan kakaknya, Samsul. Ia juga kagum atas kecerdikan kakaknya itu.
Joni dan Galah Istimewa By Muhammad Labib Naufaldi
Joni dan Galah Istimewa By Muhammad Labib Naufaldi

Pada hari perlombaan, empat bersaudara itu datang dengan bersemangat. Mereka datang paling pagi ke perkebunan. Mereka pun menunggu dimulainya lomba yang bertepatan dengan terbitnya matahari.
Para pemetik buah lain mulai berdatangan. Ratusan orang berkumpul di gerbang kebun, menunggu terbitnya matahari. Pengawas lomba yang terdiri dari pengawal kerajaan pun bersiap di belakang pintu gerbang.

Cahaya mulai tampak di ufuk timur. Semua orang di kebun mulai berdesakan ingin bergegas masuk. Kini Sang Surya mulai menampakkan wajahnya. Pengawas mulai membuka pintu gerbang dengan perlahan. Para pemetik buah yang tidak sabar pun menerobos celah gerbang dan berlarian menghampiri pohon-pohon mangga di kebun luas itu. Dani, Samsul, dan Rudi pun demikian, namun Joni terpisah dari mereka. Ia terdorong-dorong dalam kerumunan yang berlarian memasuki kebun.
Ratusan peserta lomba langsung memetik buah mangga dengan cepat, bahkan daun-daun pun berguguran karena pohon ditunggangi beberapa orang sekaligus, diguncang-guncang, dan disabet-sabet dengan galah.

Joni berlari melewati orang-orang yang bersusah payah memetik mangga menuju lahan perkebunan bagian belakang. Pepohonan mangga di situ belum tersentuh pemetik mangga lain. Buah-buahnya pun masih banyak dan harum. Joni dengan mudah mendeteksi letak buah mangga dengan penciumannya, kemudian memetiknya dengan galah istimewa miliknya.
“Kedengarannya semua orang bekerja sangat gigih. Aku harus bekerja lebih keras dari mereka!” pikirnya dalam hati.

Mentari telah sampai di puncak langit. Siang hari yang panas menjadi tantangan bagi para peserta lomba. Satu persatu mereka kelelahan dan memilih berhenti bekerja untuk beristirahat di bawah pohon.

Joni yang bermandi peluh menghiraukan teriknya matahari. Ia tidak melihat peserta lain yang beristirahat, ia hanya konsentrasi pada pohon mangga yang sedang dihadapinya.

Hari menjelang sore, jumlah pemetik buah yang tersisa semakin berkurang. Dani, Samsul, dan Rudi masih bekerja. Mereka belum puas dengan belasan keranjang berisi buah mangga yang mereka kumpulkan masing-masing. Namun akhirnya mereka dilanda kelelahan.
“Kakak! Aku sudah tidak kuat lagi. Aku lelah setengah mati!” keluh Rudi. Ia duduk di antara keranjang-keranjang penuh buah.
“Hanya itukah kemampuanmu? Janganlah menyerah secepat itu! Kehidupan yang lebih baik sudah menanti kita.” kata Dani dari atas pohon mangga.
“Aku juga capek, kak! Aku hampir kehilangan napas. Lebih baik aku menyudahi ini.” ujar Samsul dengan terengah-engah.
“Kak, lihatlah peserta lain! Jumlah mangga yang mereka dapat hanya beberapa keranjang. Aku rasa mangga yang kita dapat jauh lebih banyak.” Rudi menunjuk ke keranjang-keranjang para pemetik buah lain.
“Baiklah, kalau begitu kita istirahat sambil menunggu sampai proses penghitungan dimulai.” Dani pun turun dari pohon dan duduk di samping Rudi.
“Oh, iya. Joni dimana, kak?” tanya Samsul sambil melihat sekitar.
“Hah? Aku baru sadar, sejak tadi Joni tidak bersama kita! Kemana dia, ya?” Dani balik bertanya.
“Sudahlah, mungkin saja dia sedang istirahat di tempat lain, atau pergi membeli minuman.” sahut Rudi.

Mereka pun beristirahat di pohon hingga matahari mulai terbenam. Sementara itu, Joni yang berada jauh dari mereka masih giat memetik mangga. Tanpa disadarinya, ia telah mengumpulkan sekitar tiga puluh keranjang buah mangga.

Mega merah mulai datang menghiasi langit senja. Mentari pun terbenam di balik pepohonan mangga. Pengawas lomba mengumumkan bahwa perlombaan telah berakhir dan akan dimulai sesi penghitungan buah mangga. Penghitungan dilakukan berdasarkan jumlah buah mangga yang mereka dapat.

Petugas penghitung mendatangi perkebunan dan menghampiri setiap keranjang yang berlabel nomor sesuai nomor masing-masing peserta lomba. Peserta lomba dikumpulkan ke aula istana untuk menunggu pengumuman pemenang. Joni datang terakir dan duduk paling belakang karena perjalanan yang ditempuhnya lebih jauh, namun ia beruntung karena seorang pengawas lomba baik hati bersedia menuntun pemuda buta tersebut.
.Penghitungan membutuhkan waktu cukup lama karena banyaknya jumlah peserta. Sampai larut malam, mereka masih menunggu sambil bercakap-cakap.

Beberapa waktu kemudian, Sang Raja datang dengan dikawal dan kemudian naik ke mimbar yang tingginya sekitar dua meter. Ia menyampaikan beberapa patah kata sebagai sambutan, selanjutnya ia akan mengumumkan pemenang lomba memetik buah.
“Sebelum mengumumkan pemenang, aku ingin berterimakasih kepada kalian atas pengabdian kalian kepada kerajaan. Kalian telah bekerja dengan sangat keras, aku menghargai kegigihan kalian. Untuk itu, aku akan menaikkan upah pekerja kebun sebesar dua kali lipat!” kata Sang Raja lantang.

Seluruh hadirin di aula pun bersorak girang. Mereka begitu senang atas keputusan Raja. Dengan ini, kesejahteraan mereka akan membaik.
“Baiklah, sekarang aku akan menunjukkan hadiah yang akan diperoleh oleh tiga pemenang lomba. Ini dia!!!”
Kemudian tiga orang pelayan kerajaan membawakan tiga kotak misterius yang diletakkan di atas meja di depan mimbar. Tiga kotak itu ada yang besar, ada yang kecil, dan ada yang berukuran sedang.
“Siapakah tiga orang beruntung yang akan mendapatkan hadiah-hadiah ini?”

Raja kemudian mengambil selembar kertas dan membacanya. Seluruh peserta lomba menjadi tegang. Mereka berharap menjadi pemenang.
“Hadirin sekalian, pemenang lomba ini ternyata dari tiga bersaudara. Pemenangnya adalah peserta nomor 142, 143, dan 144 yaitu Dani, Rudi, dan Joni dari keluarga Bapak Darman!”

Dani, Rudi, dan Joni sangat gembira. Mereka berteriak kegirangan. Joni yang duduk di belakang berulang kali mengucap syukur. Dani maju ke hadapan Raja. Postur tubuhnya yang kekar dan tinggi memukau peserta lain. Rudi yang berjalan di belakangnya pun tidak henti-hentinya melompat riang, sedangkan Joni berjalan perlahan dari belakang sambil membawa galah miliknya.

Ketiganya berdiri sejajar di depan meja, menghadap mimbar.
“Aku bangga kepada kalian, tiga bersaudara yang mengabdi dengan sepenuh hati. Sekarang kalian akan mendapatkan penghargaan atas pengabdian kalian. Di depan kalian ada hadiah berupa barang-barang berharga. Silakan kalian ambil hadiah yang kalian suka!” Raja mempersilakan Dani, Rudi, dan Joni mengambil kotak di depan mereka.

Dengan seketika, Dani dan Rudi menyambar kotak itu. Tangan Joni meraba-raba meja mencari kotak terakhir. Akhirnya ia pun mendapat kotak yang paling kecil. Dani memilih kotak hitam yang berukuran sedang, tetapi paling berat. Sedangkan Rudi mengambil kotak warna-warni yang ukurannya paling besar.
“Baiklah, masing-masing dari kalian telah memegang hadiah. Dani sebagai juara pertama, boleh membuka hadihnya terlebih dahulu.” perintah Sang Raja.

Dani membuka kotak berat itu, kemudian ia terkejut karena isi kotak itu adalah sebuah peti berisi ratusan koin emas. Ia pun sangat gembira.
Kini giliran Rudi sebagai juara dua untuk membuka hadiah. Namun ia bingung karena di dalam kotak besar itu masih terdapat kotak yang di dalamnya ada kotak pula. Akhirnya setelah membuka lima lapis kotak yang membungkus hadiahnya, ia menemukan sebuah peti berukuran lebih kecil dari milik kakaknya yang berisi ratusan koin perak.

Terakhir, Raja memerintahkan Joni membuka kotak hadiah kecilnya. Dengan sabar Joni membuka kotak itu, dan didapatinya sebuah gulungan kertas. Karena buta, ia tidak dapat membaca kertas tersebut. Kemudian dengan cepat Rudi menyambar kertas itu.
“Hahaha… Apa yang kau dapat ini? Secarik kertas tak bergunakah?” ejeknya.
Rudi pun membuka gulungan kertas kecil itu dan membacanya.
“Ada tulisan di kertas ini, isinya ‘SELAMAT, ANDA MENDAPAT SEBIDANG KEBUN BUAH MANGGA SELUAS 5 HEKTAR!’ Apa? Mengapa hadiahnya lebih besar? Ini tidak adil!” Rudi tidak terima karena adiknya mendapat hadiah yang jauh lebih besar dari hadiah yang ia dapat.
“Baginda, sebenarnya dia telah berbuat curang! Dia tidak pantas menerima hadiah ini! Lihatlah galah yang dibawanya! Itu berbeda dengan galah yang dipakai peserta lain!” bentak Rudi.
“Tetapi peraturan tidak melarang peserta menggunakan galah seperti itu,” kata Raja tegas.
“Apa? Kau ini Raja yang tidak adil!” Rudi kembali memprotes.
“Apa katamu? Penjaga, kirim anak kurang ajar ini ke penjara!” Sang Raja mmenjadi marah.

Dani dan Joni tidak berkata apa-apa. Mereka tidak berani menentang perintah Raja. Begitu pula dengan Samsul. Ia hanya tertunduk sedih.
Penjaga istana pun membawa Rudi keluar istana. Rudi memberontak, namun ia tidak dapat keluar dari cengkeraman tangan penjaga yang memegangi lengannya.
“Hei, anak yang sedari tadi menunduk. Namamu Joni, benar?” tanya Raja.
“Benar, Baginda.” jawab Joni singkat.
“Mengapa engkau menggunakan galah yang berbeda dari peserta lain?”
“Sebenarnya hamba ini buta, Baginda.” Joni mengangkat kepalanya, hingga Raja dapat melihat matanya yang buta. Sejenak kemudian Raja menitikkan air mata.
“Aku terharu atas kegigihanmu dalam bekerja, walau mengalami kekurangan fisik.” kata Raja sambil mengusap air matanya. “Sebenarnya aku memiliki putri yang tidak bisa melihat sepertimu. Namun selama ini aku merahasiakannya.”
Segenap hadirin kaget, mereka tidak percaya pada ucapan Raja. Selama ini mereka mengetahui bahwa Sang Raja hanya memiliki satu orang putra.
Kemudian datanglah seorang Putri ke ruangan itu. Dialah Putri Luna! Dengan hati-hati ia menaiki mimbar dan berdiri di samping Raja. Ia sangat cantik dengan mengenakan gaun berwarna putih.
“Wahai Joni, aku belum menemukan jodoh untuk putriku. Maukah engkau menikahinya?” pinta Sang Raja.
“Ampuni hamba, Baginda Raja. Sesungguhnya aku bersedia menikahi Tuan Putri, namun dengan satu syarat.” tutur Joni sopan.
“Apa yang kau minta? Katakanlah!”
“Tolong bebaskan kakak hamba, Rudi. Maafkanlah ia!” pinta Joni

Sang Raja berpikir sejenak. Kemudian ia mengangguk tanda setuju. Rudi akan dibebaskan.

Raja pun menutup acara itu, dan peserta yang hadir bergegas pulang. Joni, Dani, Samsul, dan Rudi tinggal satu malam di istana untuk perencanaan pernikahan Joni dengan Putri Raja. Akhirnya diputuskan, Joni dan Putri Luna akan menikah minggu depan.
Joni merasa sangat senang. Ia akan tinggal di istana, dan kakak-kakaknya akan dibuatkan rumah besar dan diberikan sebidang kebun dan peternakan. Rudi pun berubah menjadi lebih baik. Ia tidak lagi dengki, sombong, dan meremehkan orang. Keempat bersaudara itu pun hidup bahagia dalam lindungan kerajaan.

Cerita Inspiratif, 12 Tahun Baru Bertobat Seorang Pencuri Mengembalikan Uang 4,7 Juta

Kesalahan yang terjadi pada diri kita sebagai manusia biasa adalah kodrat kita karena kita lemah dan makhluk yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Ketika kita melakukan kesalahan mungkin karena kelamahan itu lah yang nampak pada diri kita, dan itu wajar jika kesalahan itu kita perbaiki dengan kebenaran dengan tindakan melakukan kebaikan.

Cerita inspiratif ini menggambarkan betapa luar biasanya tatkala orang melakukan kesalahan dan itu sudah dilakukan berpuluh-puluh tahun, dan masih ingat akan kesalahan itu bahkan sampai menyesali kesalahannya akhirnya ia bisa bertobat.

“Lebih cepat meminta maaf lebih baik, dan Lebih cepat bertobat lebih baik”, memang benar, namun perlu kita ketahui bahwa setiap orang punya masa perenungan (hidayah) yang berbeda-beda. Dan Cerita Inspiratif, 12 Tahun Baru Bertobat Seorang Pencuri Mengembalikan Uang 4,7 Juta. Menandakan hidyah adalah sebuah rahasia,tidak tahu kapan ia akan turun.

Cerita Inspiratif, 12 Tahun Baru Bertobat Seorang Pencuri Mengembalikan Uang 4,7 Juta 

Dan bagaimana cerita inspiratifnya, berikut ceritanya:

Dilansir elitereaders.com, Rabu (20/4/2016). Akhir-akhir ini Abubakar Lorgat  seseorang sopir taksi asal Blackburn, Lancashir. Menerima kiriman email dari pengirim tidak di ketahui,  ia mengaku yang merupakan penjahat yang melakukan pencurian dompetnya kira-kira 12 tahun silam. Dan mengejutkannya terdapat sebuah amplop yang berisi uang sejumlan  4,7 Juta Rupiah yang di sampaikan ke rumahnya. Tidak cuma itu, sang pencuri pun mencantumkan surat permintaan maaf dan penyesalannya sebab sudah membawa uang haram yang bukan miliknya. 

Cerita Inspiratif ini bermula di tahun 2004, disaat sopir taksi berumur 49 tahun ini sudah menyelesaikan tugasnya dan meninggalkan taksinya di pusat kota Blackburn, kemudian pulang menggunakan bus angkutan umum. Setibanya di rumah, dirinya baru sadar bahwa dompetnya sudah hilang. Hari itu, ia menyatakan telah kehilangan SIM-nya dan uang lebih dari Rp 3,7 juta untuk membayar tagihan dan membeli makanan.

Meski sudah lebih dari satu dekade telah berlalu dan ayah dari empat anak itu telah melupakan kejadian tersebut, tapi tak disangka ia mendapatkan surat dan uang melalui pos. Surat tersebut berbunyi.

Untuk Abubakar Lorgat,

Saya memang mencuri dari kamu sekitar 10-15 tahun lalu. Saya benar-benar menyesal tentang hal ini dan saya harap kamu bisa memaafkan saya dalam hati.

Saya lampirkan beberapa uang, mudah-mudahan dapat mengganti uang yang dicuri dari kamu.

Mohon maafkan saya.

Lorgat pun tersentuh dan heran dengan tindakan pencuri yang bertobat itu. "Saya benar-benar terkejut, setelah bertahun-tahun uang saya dapat kembali. Saya berharap akan ada lebih banyak orang yang melakukan hal serupa," jelasnya.

Selain untuk membeli kebutuhan anak-anaknya, Lorgat juga akan menyumbangkan sebagian uang kepada orang-orang miskin di komunitasnya. Dia juga akan menggunakan beberapa untuk mendanai perjalanan tahunan untuk mengunjungi orang tuanya di Gujarat, India.

Semoga cerita inspiratif ini mengingatkan kita akan kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat dan kita bertobat dengan cara yang sungguh-sungguh untuk tidak melakukan perbuatan salah itu lagi. Dan semoga dari cerita ini sahabat dejavu termasuk orang yang selalu mendapatkan hidayah dengan masa yang cepat sehingga kesalahan tersebut tidak berlarut-larut untuk kita perbaiki dengan kebaikan.

Cerita Inspiratif Tentang Ayah

Cerita Inspiratif Tentang Ayah
Tidak ada yang kuat selain kekuatan ayah. Kepala rumah tangga yang senantiasa bertanggungjawab terhadap keluarganya, ia rela menanggung beban istri dan anak-anaknya dan menafkahi kehidupan keluarganya, ialah ayah, bapak, dadi, bokap, papih, papah, dan banyak lagi kita memanggilnya. Cerita inspiratif tentang ayah, ini menggambarkan betapa hebatnya ayah yang baik, dan seperti apakah sosok ayah yang baik itu, dari cerita ini akan di gambarkan sebagian kecil ayah yang sebenarnya ayah.

Mari simak ceritanya dan sebagai bahan renungan khususn untuk ayah dan calon ayah kelak, bagaimana menjadi ayah yang baik. Dan bahan referensi untuk ibu atau calon ibu agar mencari calon ayang yang benar-benar ayah. Dan dalam mengenai cerita ayah mari kita merenung bersama, sudahkah kita membalas kebaikan ayah? sudahkah kita berterima kasih kepadanya atas segala pemberiannya? Sudahkah kita membahagiakan ayah dan membuat ayah bangga kepada kita? Jika belum, mulailah dari sekarang katakan kepada ayah dan curahkanlah segenap cinta untuk ayah.

Cerita Inspiratif Tentang Ayah

Suatu ketika, ada seorang anak wanita bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya. Anak wanita itu bertanya pada ayahnya: Ayah , mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk?" Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda. Ayahnya menjawab : "Sebab aku Laki-laki." Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu berguman : " Aku tidak mengerti."

Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki."

Demikian bisik Ayahnya, membuat anak wanita itu tambah kebingungan. Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya :"Ibu mengapa wajah ayah menjadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?"

Ibunya menjawab: "Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar–benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian." Hanya itu jawaban Sang Bunda.

Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran. Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini. "Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi. "

"Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya. "
"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya. "

"Kuberikan Keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya."

"Ku berikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerap kali menyerangnya. "

"Ku berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam kondisi dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan mengasihi sesama saudara."

"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan, bahwa Istri yang baik adalah Istri yang setia terhadap Suaminya, Istri yang baik adalah Istri yang senantiasa menemani. dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi."

"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya bisa hidup di dalam keluarga bahagia dan badannya yang terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya. "

"Ku-berikan Kepada Laki-laki tanggung jawab penuh sebagai Pemimpin keluarga, sebagai Tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung jawab ini adalah Amanah di Dunia dan Akhirat."

Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut dan berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayahnya. " aku mendengar dan
merasakan bebanmu, ayah." Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ayah...

Cerita Inspiratif Kerja Usaha Tambal Ban Miliarder

Cerita Inspiratif Kerja Usaha Tambal Ban Miliarder
Setiap orang menginginkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya dan memiliki pendapatan yang stabil bahkan sampai meningkat setiap tahunnya. Namun apa yang terjadi di era modern ini, banyak orang yang mengeluh untuk membangun pekerjaan, bahkan untuk mencari pekerjaan pula terasa sulit dan tidak mudah kita menemukannya apalagi pekerjaan sesuai dengan yang kita impikan.

Kalau kita tahu sosulisinya mungkin saat ini kita sudah memiliki pekerjaan yang layak dan pendapatannya meningkat. Nah, bagaimana menemukan solusinya?. Melalui cerita inspiratif tantang pekerjaan kali ini semoga dapat memberikan gambaran bahwa untuk meraih pekerjaan yang kita inginkan haruslah terus di perjuangkan dan tidak ada yang menyangka bahwa pekerjaan kecil sekalipun akan menguntungkan besar.

Cerita Inspiratif Kerja Usaha Tambal Ban Miliarder

Andri Firmansyah, pria lulusan Universitas Airlangga tahun 2008 mulai bisnis tambal ban sejak 1,5 tahun lalu. Terus apa yang membuat omset usaha tambal ban miliknya ini bisa sampe 1 MILYAR yah? Ternyata bisnis tambal ban yang dijalaninya berbeda dengan bisnis tambal ban yang ada di pinggir-pinggir jalan. Dengan berbekal kemampuan yang didapatkannya semasa di bangku kuliah dan ketekunannya mengikuti seminar-seminar tentang peluang usaha, ahirnya Andri menciptakan bisnis Tambal Ban Otomatis. Tambal ban otomatis ini menggunakan cairan yang diisikan ke dalam ban motor ataupun ban mobil.

Cara kerjanya, roda itu saat jalan berputar, cairan ini nantinya secara otomatis akan menutup pori-pori dari karet ban tersebut, termasuk jika saat itu ada lubang akibat terkena paku atau semacamnya tambah Andri. Cairan ini bukan cairan biasa, melainkan berbentuk cairan kimia yang di dapatkannya dari kerjasama dengan salah satu Pabrik Kimia di wilayah Jawa Tengah. Cairan tambal ban otomatis ini jika sudah di masukkan ke dalam roda, akan mampu bertahan untuk mencegah kebocoran ban hingga 1,5 tahun lamanya. Untuk pemakaian pada motor, cairan itu cukup di masukkan ke dalam ban sebanyak 150-200 mililiter (ml) , sedangkan untuk mobil sebanyak 500 ml. Terlebih dahulu ban itu dikempesin, kemudian cairan dimasukkan melalui lubang pentil, selanjutnya dipompa kembali, dan sudah siap digunakan. Mengenai pemasarannya, saat ini produk yang dinamakan Vionseal ini sudah dijual di 30 dealer yang tersebar di kota-kota besar di Pulau Jawa. Saat ini produk sudah ada di 30 dealer yang sudah kerjasama dengannya, yang tersebar di kota-kota besar di pulau jawa, cairan itu dijual 70 ribu per kemasan. Ardi mengungkapkan bisnis ini terinspirasi saat dia makan di sebuah rumah makan di salah satu Mal di Surabaya, dan dia melihat sebuah parkiran motor yang penuh dengan motor.

"Awalnya saya itu makan di sebuah mal di sini (Surabaya), lalu saya melihat di tepi jalan itu parkiran motor penuh banget dsripada parkiran mobilnya, di situ saya mulai berpikir bisnis apa yang berhubungan dengan motor dan tidak membutuhkan waktu lama dalam memperoleh untungnya," ujar Andri. "Kalau bisnis jual helm, helm itu rata-rata baru bener-bener rusak setelah tiga tahun, jadi lama, lalu saya terus berpikir, akhirnya sampe rumah saya browshing internet, akhirnya ketemu lah tambal otomatis ini. Jadi tambal ban otomatis ini sebenarnya sudah ada di luar negeri," ucap Andri. Mengenai pesaing bisnisnya untuk di Indonesia sendiri, saat ini sudah ada 3 hingga 4 merek yang menjual pruduk dengan tipe yang sama, namun Andri menilai semua itu masih kurang dalam segi pemasarannya. Andri memululai bisnis ini dengan modal yang cukup besar, yaitu Rp 500 juta yang diperolehnya jadi usaha penjualan Ikan nya. Dan hingga saat ini yang masih menjadikannya kendala adalah pola pikir masyarakat indonesia itu sendiri. Untuk menguji ketahanan dari produknya ini, pada akhir tahun 2011 lalu Andri telah melakukan uji coba 125 motor jalan di atas paku, dan acara ini telah masuk dalam rekor MURI.

Cerita Inspiratif Keluarga, Keunikan Profesi Suami Istri

Cerita Inspiratif Keluarga, Keunikan Profesi Suami Istri
Membangun bahtera rumah tangga dalam keluarga memang harus memiliki dasar cinta, kasih sayang dan saling melengkapi satu sama lain, rela berkorban dan selalu berusaha sekuat tenaga untuk menghidupi kebutuhan keluarganya. Cerita inspiratif keluarga ini menceritakan tentang bagaimana perjuangan sepasang suami dan istri dalam keluarganya yang saling membahu dan menggambarkan hal kecil apa yang terjadi dalam sebuah ikan keluarga.

Dari pengalaman Shally seorang mahasiswi yang berangkat menuju kampusnya menggunakan kendaraan umum yaitu bis, menemukan cerita inspiratif keluarga dibalik perjalannya menuju kampus, dimana sorang istrinya menjadi kondektur dan suaminya menjadi supir bis angkutan umum. Ia melihat betapa inspiratifnya seorang wanita yang menjadi kondektur bis, karena tak jarang profesi seperti itu di emban oleh kaum hawa.


Bus berjalan perlahan meninggalkan terminal. Di tengah jalan, tidak seberapa jauh dari pusat perbelanjaan besar, bus berhenti. Kami para penumpang biasa menyebutnya dengan istilah “ngetem” yakni berhenti cukup lama untuk mencari penumpang. Tidak beberapa lama setelah penumpang memenuhi bangku-bangku kosong, bus mulai berjalan perlahan, perlahan, perlahan hingga akhirnya bergerak menjauh. Dengan mantap, sang supir pun menginjak pedal gas dalam-dalam. Tak terasa bus sudah berjalan jauh, tanpa komando dari kondektur.

Hingga suatu ketika penumpang yang duduk di kursi belakang berteriak “Pir, kondekturnya ketinggalan, tuh! Kasihan!! Lumayan jauh. ”

Kami, penumpang yang ada di dalam bus, semua tertawa geli mendengar ucapan itu. Supir buru-buru menghentikan bus, menepi dan menunggu kondektur wanita yang ketinggalan. Cukup lama bus menunggu, kira-kira hampir sepuluh menit-an.

Tiba-tiba dari arah belakang bus, sebuah bajaj meluncur kencang dan berhenti persis di depan bus. Dari dalam Bajaj keluarlah sang wanita yang menjadi kondektur tadi, dengan wajah panik dan ketakutan. Ia segera menghampiri supir bus dan menangis sejadi-jadinya. Sambil mennguncang-guncangkan tubuh sang supir.
“Kamu jahat, jahat sekali! Tinggalin begitu aja! Tau nggak, saya takut, saya panik waktu tahu bus sudah nggak ada. Padahal saya kan lagi bantu nyeberangin penumpang. Apa kamu nggak lihat, gimana sih kamu jadi supir nggak peduli amat?” Kalimat-kalimat itu terus meluncur dari bibir tipis si wanita.

“Sudahlah, ma….! Maafkan saya, saya nggak lihat kalau kamu ada di seberang. Ya udah nggak usah nangis, malu dilihat orang. ” ujar sang supir.

Dari dialog mereka, Shelly dan penumpang lain baru mengetahui bahwa ternyata supir dan kondektur itu adalah pasangan suami isteri. Seorang penumpang yang duduk paling depan dekat supir segera menjadi penengah pertengkaran tersebut.

“Sudah-sudah tidak usah diperpanjang, maafkan saja Bapak, dia mungkin khilaf tidak melihat.” Lerai bapak itu pada si kondektur wanita. “Ibu juga nggak usah dendam, sama-sama cari uang sama-sama kerja untuk anak, pasti ada susah senangnya. ”

“Pak supir juga harus peduli sama isteri jangan cuek, harus lihat keadaan sekitar, jangan main tancap gas aja!” ujar si bapak tadi menasehati supir.

Akhirnya pertengkaran pun berakhir, mereka saling bersalaman dan berpelukan. Kami semua para penumpang segera bertepuk tangan dan terharu melihat sikap mereka. Dalam hati Shelly merasa bahwa mereka benar-benar pasangan yang cukup kompak, bahu membahu dalam mencari nafkah untuk keluarga dan mudah memaafkan satu sama lain, mau mengerti keadaan masing-masing dan tidak pantang menyerah.

Satu lagi pelajaran hidup yang bisa dipetik oleh Shelly sebagai calon ibu muda adalah bahwa siapa pun dirinya, kelak jika ia telah menikah nanti ia harus bisa bersikap tenggang rasa, tolong menolong dan saling memahami dalam setiap situasi apa pun. Jangan pernah sombong, egois dan merasa lebih tinggi dari pasangannya. Segala upaya untuk menafkahi keluarga harus dilakukan dengan kerja keras, pantang menyerah, disiplin dan ikhlas. Itu kunci utamanya., bisik Shelly dalam hati.

Ia sangat salut kepada pasangan supir dan kondektur tadi, karena meskipun kehidupan mereka, kemungkinan sering diwarnai dengan pertengkaran-pertengakaran kecil, namun hal itu tidak mengurangi rasa kompak mereka sebagai pasangan suami isteri. Justru pertengkaran kecil itulah yang menjadi bumbu-bumbu manis dalam menciptakan bangunan rumah tangga.
Dengan begitu, masing-masing pasangan akan lebih memahami karakter, kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga di masa mendatang mereka bisa lebih memperbaiki diri. Membuat diri lebih siap menghadapi masalah-masalah kehidupan yang serius, mendidik anak-anak yang berbakti pada orang tua dan menciptakan masyarakat yang sejahtera.

Ibarat pepatah, rumah tangga yang datar-datar saja dan tidak diwarnai dengan sedikit pertengkaran-pertengkaran kecil layaknya sayur tanpa garam.

Demikian cerita inspiratif keluarga istri yang terlupakan, semoga apa yang terkandung dalam cerita tersebut menjadi inspiratif untuk kita semua. Baca juga yang cerita inspiratif lainnya, dan kisah inspiratif, cerita motivasi di cerita dejavu.

Cerita Inspiratif Tentang Ibu

Cerita Inspiratif Tentang Ibu
Ibu bagi kami adalah bidadari terindah yang tidak bisa di gantikan dengan perhiasaan dunia, walaupun di kumpulkannya banyak perhisan indah seisi dunia, tak bisa menyamai berharganya ibu di mata kami, karena dejarat ibu yang luar biasa berkorban demi anaknya dari mulai ia mengandung, melahirkan samapai mebesarkan anaknya dan mendidik anaknya agar bisa hidup mandiri kelak. Kami akan menggambarkan lewat cerita inspiratif tentang ibu dan bagaimana pengorbannanya terhadap anaknya.

Lewat cerita ini menggambarkan betapa besar pengorbanan ibu terhadap anaknya, walaupun anaknya sudah bisa hidup mandiri sekali pun tetapi rasa sayang ibu terhadap anaknya masih kuat melekat di dalam hati, cerita inspiratif tentang ibu yang bisa disimak dibawah mesipun fikitif namun betapa besar drajat ibu diantara mahluk lainnya.

Sekalipun kehidupan anaknya buruk namun bagi ibu tetap saja ia anaknya, sekalipun detik-detik terakhir anaknya akan menghadapi kematian, seorang ibu akan rela berkorban dan berjuang untuk menolong anaknya semampunya walau pun secara akal itu tidak mungkin di lakukan namun bisa saja hal itu terjadi atas peruang seorang ibu. Ibu akan rela mengorbankan hidupnya demi anaknya, ia rela mengganti nyawanya demi menyelamatkan anaknya.

Cerita inspiratif tentang ibu :

Di sebuah kerajaan, hiduplah seorang ibu dan anak laki laki satu satunya, sementara suaminya telah lama meninggal karena sakit. Anak lelaki itu sayangnya mempunyai perilaku buruk, tukang bikin onar, melakukan berbagai tindak kriminal dan semacamnya. Sang ibu beberapa kali menasehati agar anaknya tidak melakukan berbagai hal buruk lagi, namun sayang semua itu tidak didengar.

Sampai suatu saat, si anak melakukan perampokan dan pembunuhan secara sadis. Masyarakat yang sudah geram dengan tingkahnya segera menangkapnya dan menyerahkan pada sang raja untuk diberi hukuman. Setelah berbagai pertimbangan dan laporan dari masyarakat, akhirnya diputuskan si anak akan dihukum mati.

Mendengar anaknya akan dihukum mati, sang ibu langsung menemui raja, walau seburuk apapun prilaku anaknya, kasih sayangnya tak pernah hilang.

Dihadapan raja, sang ibu bersimpuh dan bersujud memohon pengampunan. raja bukannya tak kasihan atau iba pada ibu itu namun kesalahan anak sang ibu sudah terlalu besar, oleh karena itu dengan meminta maaf pada ibu itu, raja mengatakan tak bisa memberi pengampunan, anak sang ibu tetap akan dihukum mati besok pagi tepat saat lonceng kerajaan pertama kali berbunyi.

Keesokan pagi semua orang sudah berkumpul dilapangan untuk menyaksikan jalannya hukuman mati mereka hanya tinggal menunggu lonceng kerajaan dibunyikan.

Namun aneh, sudah lewat beberapa menit dari waktu seharusnya, tetapi lonceng tak juga berbunyi. Maka raja dan beberapa orang segera memeriksa kenapa lonceng tak juga berbunyi.
Di menara lonceng, petugas yang seharusnya membunyikan lonceng juga merasa heran, ia sudah menarik tali lonceng beberapa kali namun tak ada suara nyaring yang keluar. raja kemudian memerintahkan seseorang untuk naik memeriksa lonceng.

Belum juga lonceng diperiksa, tiba tiba dari tali lonceng mengalir darah segar. Dan ketika diperiksa ternyata darah itu berasal dari ibu si terhukum mati, ia mengikatkan diri di bandul lonceng, sehingga ketika tali ditarik, kepalanya lah yang menghantam dinding lonceng. ia melakukan itu semua sebagai upaya terakhir untuk menyelamatkan anaknya walalupun hanya beberapa menit.

Sang anak meraung raung menangis menyesali semua perbuatannya, dan besarnya kasih sayang ibunya walaupun ia sering berbuat jahat.

Hari itu tak ada seorangpun yang tak meneteskan air mata.

Semoga cerita inspiratif tentang ibu ini menumbuhkan rasa cinta kita kepada Ibu, betapa besar pengorbanannya kepada kita selaku anaknya. Dan lewat situs cerita dejavu, kami akan selalu mnyajikan cerita inspiratif lainnya, juga cerita motivasi dan kisah inspiratif lainnya.

Cerita Inspiratif Cinta Aku Apa Adanya

Cerita Inspiratif Cinta Aku Apa Adanya
Pernikahan adalah idaman untuk sepasang kekasih, sebuah langkah menuju bahtera rumah tangga yang indah di hadapan meraka. Cerita inspiratif cinta ini meceritakan bagaimana keindahan cinta mereka setelah menikah. Kala itu, seroang pria melamar kekasihnya. Dengan penuh bahagia kekasihnya berbunga-bungan hatinya dan meluap kebahagiaannya karena apa yang telah di idam-idamkan kini akan terjadi.

Setelah lamaran, berlangsunglah acara sakral pengikat dua insan manusia yang saling mencintai satu sama lainnya yaitu pernikahan. Dan orang-orang yang hadir pun turut serta merasakan kebahagian saat itu. Memang sungguh indah detik-detik dimana berlangsungnya pernikahan dengan ikatan cinta, yang membuat rasa haru, sedih, bahagia dan semua perasaan bercampur aduk yang dirasakan bukan hanya kedua mempelai namun orang-orang yang hadir dan menyaksikan acara pernikahan.

Pria tersebut telah menjadi sorang suami dan kekasihnya kini telah menjadi istrinya.

Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, "Sayang, aku baru membaca sebuah artikel tentang cerita inspiratif cinta di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan," katanya sambil menyodorkan majalah tersebut. "Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia" Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikkan mereka bersama.

Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing.

Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya sesuai dengan panduan dalam majalah cerita inspiratif cinta untuk pernikahan. "Aku akan mulai duluan ya", kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman.

Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai mengalir. "Maaf, apakah aku harus berhenti?" tanyanya. "Oh tidak, lanjutkan" jawab suaminya. Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia "Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu".

Lalu suaminya menunjukan kertas kepada istrinya, “Lho ko kosong? Mana catatannya?” tanay istri. Dengan suara perlahan suaminya berkata "Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang"

Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya, Ia menunduk dan menangis.

Demikian cerita inspiratif cinta aku apa adanya. Semoga dapat memberikan pelajaran dari cerita tersebut dan mampu menambah motivasi dan menghadirkan cinta yang selalu bersemi antara suami dan istri. Baca pula cerita inspiratif lainnya di cerita dejavu.

Cerita Isnpiratif Islami, Supir Pengasuh Puluhan Anak

Cerita Isnpiratif Islami, Supir Pengasuh Puluhan Anak
Islam mengajarkan tentang amanah sebagaimana yang di ajarkan oleh Rosulullah SAW lewat akhlaknya yang sempurna, salah satunya tentang amanahnya. Bagi saya amanah adalah bisa dipercaya dan menjaga urusan tersebut, contohnya karena saya seorang muslim dan amanah saya yang di serahkan kepada saya yaitu Islam, dan Islam itu bagi saya adalah kasih sayang, karena saya selalu bersyukur kepada Allah SWT atas kesempatan yang diberikan kepada saya.

Cerita inspiratif Islami saya adalah meskipun saya seorang supir, dengan penghasilan yang tidak seberapa, saya di amahin untuk ngurus empat orang anak saya di tambah satu anak angkat saya dan terus bertambah dua anak yatim yang di asuh saya pada waktu itu. Bahkan sampai pernah saya mengasuh empat puluh dua anak di tempat namun sekarang ini tempat pengasuhan saya ada sekitar dua puluh tujuh anak.

Kalau dilihat dari penghasilah saya untuk mengasuh anak-anak saya itu tidak masuk akal karena penghasilan saya hanya seorang supir tetapi karena saya percara Allah maha kaya, Allah maha kuasa, semua anak-anak asuhan saya bisa terurus.

Pernah waktu itu saya sempat putus asa dalam mengasuh anak, karena ada lima anak asuhan saya yang bandelnya minta ampun, disuruh mandi susah banget, dan akhirnya saya berfikir untuk mengembalikan ke keluarganya, namun disinilah cerita inspiratif islami saya yaitu sebelum rencana pengembalian itu terlaksana, malah saya di titipin lagi tujuh anak sekaligus. Lalu saya merasa dan mendapat hidayah bahwasanya sekarang Allah masih percaya kepada saya untuk mengasuh anak-anak, dengan buktinya belum sempat saya mengembalikan kelima anak malah Allah mengirimkan kepada saya tujuh anak sekaligus dan inilah saya merasa amanah yang Allah berikan kepada saya harus saya pertahankan dan menjaganya.

Semakin anak-anak asuhan banyak ternyata membutuhkan biaya yang banyak pula, sementara penghasilan saya pas-pasan, akhirnya saya sama istri menjual aset keluarga, awalny istri merasa keberatan namun saya bujuk terus dengan cerita inspiratif islami untuk menggugah hati istri saya. Setelah terbujuk istri saya akhirnya mau menjual aset keluarga yaitu tanah, dan setelah terjual ternyata itu masih tidak cukup juga untuk menghidupi anak asuhan saya sehingga banyak aset-aset keluarga yang terjual demi menghidupi anak asuhan saya namun tetap tidak henti-hentinya biaya pengeluaran untuk hidup anak asuhan saya. Lalu disaat aset kami mulai habis dan tidak ada lagi yang bisa kami jual, disinilah kemurahan Allah yang maha kaya. Kala itu, saya berjumpa dengan H. Ahmad pengusaha matrial  ia membiayai semuanya kehidupan anak-anak asuhan kami dan ia pun yang membantu saya untuk mendirikan lembaga “Panti Asuhan”.

Alhamdulillah akhirnya dengan kebesaran Allah panti asuhan saya semenjak di jadikan lembaga banyak donasi yang mau membantu kami, dan aset-aset keluarga kami pun perlahan-lahan mulai kembali, seperti tanah, rumah, perabotan dan lain sebagainya. Dan sekarang ini, anak asuhan kami sudah ada yang bisa sekolah samapi kuliah dan sudah ada yang bekerja. Dan semoga cerita saya ini menjadi cerita inspiratif untuk anda, dan percayalah ketika Allah SWT telah mengamahkan kepada kita maka pertahankanlah dan peganglah sekuat-kuatnya amanah tersebut.

Baca juga cerita inspiratif lainnya di cerita dejavu. Semoga bermanfaat!!!

Cerita Inspiratif Terbaru

Cerita dalam hidup itu memang perlu, karena dengan bercerita baik kita mendengarkan ataupun menceritakan cerita kita sendiri dalam hidup ini ternyata kita akan sadar dan membuat kita selau bersyukur karena anugrah kita bisa hidup dan saling berbagi cerita antara kita dengan orang lain bahkan orang-orang yang kita cintai karena cinta mereka yang selalu membuat cinta kita semakin tumbuh dan menjadi cerita inspiratif untuk kita.

Dengan kita berbagi cerita, kita akan hidup selalu dalam kebersamaan, karena dalam hidup kita selalu berdampingan dengan orang lain. Mungkin ketika kita merasa sedih padahal kesedihan itu bukan hanya kita yang merasakan namun ada orang lain yang memiliki kesedihan pula, begitu pun kebahagiaan kita, bukan hanya diri kita sendiri, orang lain pun memiliki kebahagian pula.

Kali ini, kami mencoba mengumpulkan cerita inspiratif yang dapat menggugah hati sahabat dejavu, dan bisa menyimak dari carita mereka dengan penuh inspirasi dan semangat untuk hidup kita. Mari kita simak cerita mereka:

Cerita Inspiratif Terbaru
Cerita Inspiratif Terbaru

Islam mengajarkan tentang amanah sebagaimana yang di ajarkan oleh Rosulullah SAW lewat akhlaknya yang sempurna, salah satunya tentang amanahnya. Bagi saya amanah adalah bisa dipercaya dan menjaga urusan tersebut, Baca Selengkapnya.............. 

Pernikahan adalah idaman untuk sepasang kekasih, sebuah langkah menuju bahtera rumah tangga yang indah di hadapan meraka. Cerita inspiratif cinta ini meceritakan bagaimana keindahan cinta mereka setelah menikah. Kala itu, seroang pria melamar kekasihnya, Baca Selengkapnya.................

Ibu bagi kami adalah bidadari terindah yang tidak bisa di gantikan dengan perhiasaan dunia, walaupun di kumpulkannya banyak perhisan indah seisi dunia, tak bisa menyamai berharganya ibu di mata kami, karena dejarat ibu yang luar biasa, Baca Selengkapnya...............

Suatu ketika, ada seorang anak wanita bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk,, Baca Selengkapnya...............

Andri Firmansyah, pria lulusan Universitas Airlangga tahun 2008 mulai bisnis tambal ban sejak 1,5 tahun lalu. Terus apa yang membuat omset usaha tambal ban miliknya ini bisa sampe 1 MILYAR yah? Baca Selengkapnya...............

Semoga setelah membacanya dapat menambah motivasi lewat cerita inspiratif ini untuk hidup sahabat, dan menjadi acuan untuk tetap berusaha dan berfikir positif dalam menjalani kehidupan ini, untuk hidup kita yang lebih baik, lebih baik dan lebih baik kedepannya.

Kami akan selalu update cerita inspiratif terbaru, baca juga kisah inspiratif dan certia motivasi di situs cerita dejavu.

FANSPAGE