Showing posts with label Cerita Ayah. Show all posts
Showing posts with label Cerita Ayah. Show all posts

Cerita Keluarga: Bunda, Itukah Ayah By Jessica Aprillia Putri Gumilar

CERITA KELUARGA: BUNDA, ITUKAH AYAH?
Penulis: Jessica Aprillia Putri Gumilar

Cilla masih merasakan sesak yang sama. Cilla tahu ia bukan perempuan yang tegar menghadapi kerinduan dan kepedihan. Namun, sekuat tenaga ia berusaha menghindari air mata. Pikirannya melayang, membayangkan sebuah senyuman dan pelukan hangat menyelimuti harinya. Bukan dari seorang kekasih, bukan sahabat, bukan juga teman. Ayah. Iya, sosok ayah yang dirindukannya saat ini. Pikirannya terus melayang, menembus bayang 8 tahun lalu. Diam. Hening.
“Muka kamu kok layu sih? Belum sarapan?”

Cilla menggelengkan kepalanya. Bukan karena malas menjawab, mungkin karena suasana hatinya yang kelabu. Kelam.
“Lalu? Tentang ayahmu lagi?”
Cilla mengangguk lemah. Kini, ia yang harus mengalah pada air mata. Basah. Membuat hatinya semakin kelabu saja.
“Sudahlah, jangan menangis…” 

Jemari Riri menyapa air mata Cilla. Menghapusnya lembut.
“Kan kamu yang selalu berkata, Ayahmu selalu hidup dihatimu. Biarkan ia tenang disana, aku yakin, beliau tak akan pernah suka melihat ada air mata. Tersenyumlah..”
Cilla tersenyum dan menatap sahabatnya, Riri. Pandangan matanya masih sayu, wajahnya juga masih layu. Ia menarik nafas dalam-dalam, mencoba melapangkan dadanya yang sedari tadi dipenuhi sesak kerinduan.
“Terima kasih. Kamu memang sahabatku”
Riri hanya mengangguk dan tersenyum. Perasaan Cilla sedikit lega, walaupun rindu masih menyusup dan menusuk perasaannya. Cilla lebih sering menghabiskan waktunya di perpustakaan. Menuliskan biografi ayahnya. Sekalipun ia tahu, ia hanya mengenal beliau selama 3 tahun. Tidak lebih. Namun baginya, sosok sang ayah tak pernah gugur dalam hatinya.
***

Awan kelabu menyelimuti cakrawala siang ini dan menyembunyikan sang raja siang dari pandangan Cilla. Setetes demi setetes titik air jatuh berirama dan bersama-sama. Semakin lama, semakin menjadi saja. Deras. Cilla terjebak di sekolah, mencoba untuk menerjang tirai hujan.
Ia berlari menuju gerbang sekolah, menerjang tirai hujan bersama anak-anak lainnya. Basah. Ia memeluk dirinya sendiri. Hawa dingin merasuk menyelimuti tubuhnya. Beruntung, mobil jemputannya telah siap beberapa lama kemudian. Cilla berlari kecil dan segera memasuki mobilnya.
“Bunda…?”

Sang bunda membalas panggilan Cilla dengan sesimpul senyum.
“Ini, bunda bawakan handuk dan jaket untukmu. Bunda tahu kamu pasti kedinginan.”
“Terima kasih, bunda. Bunda habis dari mana? Tak biasanya Bunda ikut menjemput Cilla.”
“Bunda hanya ingin menjemput kamu, sayang... Boleh kan?”
“Pasti boleh dong… Bunda, Cilla kangen ayah…”

Sang Bunda hanya terdiam dan memandangi putri semata wayangnya itu. Terhenyak dengan ucapan putrinya itu, segera saja sang Bunda menarik Cilla ke pelukannya. Belaian lembut sang Bunda membuat Cilla sedikit tenang. Tak terasa bulir air mata mulai mengalir perlahan.
“Iya sayang, bunda mengerti…”
“Bunda, boleh Cilla mendengar cerita masa kecil Cilla saat terakhir bersama Ayah? Cilla ingin mendengarnya lagi.”
“Boleh sayang… Begini ceritanya…”
“8 tahun lalu Cilla masih belum mengerti banyak hal. Hingga sore itu, menjadi hari terindah sekaligus hari terakhir kita bersama Ayah.” Sang Bunda memulai ceritanya. “Sore itu, Cilla sedang bermain bersama Ayah dan Bunda di sebuah taman kota. Udaranya begitu sejuk, di bawah pohon nan rindang, Cilla bermanja-manja pada ayah dan bunda.

Tiba-tiba sebuah burung merpati berbulu putih bersih hinggap di depan kita. Merpati tersebut mematuk remah-remah roti yang di buang Cilla. Cilla termenung sambil tersenyum memperhatikan merpati tersebut. Tiba-tiba, Bunda membelai lembut rambutnya dan berkata “Cilla sedang memperhatikan apa sayang?” Cilla yang polos pun menjawab “Cilla sedang memperhatikan burung itu bunda, burungnya cantik”. Sang Bunda hanya tersenyum melihat tingkah polos anaknya tersebut. Lalu, kembali duduk di tepi pohon.

Cilla menghadap belakang, Cilla lalu bertanya pada Ayah. “Ayah, itu burung apa?” sambil menunjuk ke arah burung merpati tersebut. Ayah tersenyum, lalu menjawab “Itu namanya burung merpati sayang”. Semakin lama, merpati itu tambah banyak. Remah-remah roti pun hampir habis. Cilla berlari ke arah ayah dan bunda.
“Ayah, Bunda.. Cilla ingin meminta rotinya, namun jangan pakai selai ya? Hanya rotinya saja” Ucap Cilla malu-malu sembari menekuk kedua tangannya ke belakang dan menggoyang-goyangkan badannya. “Untuk apa sayang? Bukannya Cilla lebih suka makan roti pakai selai” Bundanya menatap heran. “Itu…” Jawab Cilla polos dan menunjuk ke arah kerumunan merpati-merpati putih.

Bunda mengerti dan memberikan sehelai roti tawar pada Cilla, tak lupa juga dengan remah-remahnya. “Terima kasih, Bunda..” Cilla mencium pipi Bunda lalu berlari ke arah kerumunan merpati putih tersebut. Para merpati tak merasa terganggu dengan kedatangan Cilla, malah disambut senang. Cukup lama Cilla memperhatikan merpati-merpati tersebut, hingga senja menjelang.
Ayah lalu menghampirinya dan membelai lembut rambutnya sembari berkata “Cilla, sudah sore sayang.. Ayo pulang”. “Baiklah , ayah.” Sambil merajuk manja pada Ayah. Ayah lalu menggendong kamu. Sebelum terlalu jauh, Cilla melambaikan tangannya pada merpati-merpati tersebut. “Dadaaa…” Terucap sebuah kata perpisahan dari mulut Cilla. Cilla tertidur di gendongan Ayah.” Sang Bunda bercerita sambil sesekali membelai kepala Cilla lembut.
“Pagi menjemput, embun menebarkan bau basah. Cilla terbangun lalu tersenyum, jendela kamarnya berhadapan langsung dengan sinar sang mentari. Ia segera turun dari ranjang dan menuju ke jendela tersebut, ia melambaikan tangannya kepada sang mentari. Seolah-olah mengatakan “selamat pagi” untuk dunia.

Seperti biasa, Cilla langsung menuju ke kamar Ayah dan Bunda. Namun, pagi itu Cilla hanya menemukan Bunda sibuk merapikan pakaian Ayah dan tak melihat Ayah. Cilla bertanya pada Bunda, “Bunda, Ayah dimana?”. Bunda menjawab dengan tenang, “Cilla sayang, sekarang Cilla mandi dan bersiap ya sayang? Nanti kita akan bertemu Ayah”. Cilla mengangguk tanda mengerti.

Beberapa menit kemudian, Cilla telah siap dan menghampiri Bunda yang sibuk merapikan koper ke dalam bagasi mobil. “Cilla, sekarang Cilla makan ya? Nanti Bunda menyusul” Bunda tersenyum sembari menutup pintu bagasi mobil. “Iya, Bunda” Cilla menjawab dengan polosnya.
Seusai makan, kita segera berangkat. Cilla yang mulai mengerti sudah memasang sabuk pengaman sendiri sedari tadi. Cilla memeluk boneka kesayangan Cilla. Tanpa Cilla ketahui, kita sedang menuju ke rumah sakit tempat Ayah di rawat, Serangan jantung mendadak menyerang ayahmu hari itu.” Sang Bunda berhenti sejenak dan menghela nafas. Lalu, melanjutkan ceritanya kembali.
“Kita menuju ke kamar tempat Ayah dirawat, Cilla melihat infus yang menancap di tangan Ayah tersebut, lalu bertanya pada Bunda, “Bunda, mengapa tangan ayah di masukkan air dan di tusuk jarum? Bukankah itu sakit” menatap ke arah bunda. “Itu obat sayang, biar Ayah cepat sembuh” Bunda membelai kepalamu.

Dengan polosnya, Cilla menghampiri ayah lalu mencium kening Ayah tersebut sambil berkata “Ayah, cepat sembuh ya?”. Cilla tersenyum melihat ayah. Cilla duduk di sofa yang ada sembari mewarnai buku gambar yang sudah kamu bawa dari rumah. Berjam-jam ia ada di ruangan tersebut, mungkin karena merasa bosan Cilla melihat ke luar ruangan. Yang Bunda tahu, Cilla melihat sebuah bunga cantik yang ada di taman Rumah Sakit tersebut.
“Bunda, Cilla bosan. Bolehkah Cilla berjalan-jalan sebentar?” Tanya Cilla pada Bunda. “Boleh sayang.. Jangan lama-lama ya sayang” Jawab Bunda sembari tersenyum. Cilla pun berjalan keluar, ia menuju ke taman tersebut. Ternyata banyak sekali kupu-kupu yang menari-nari. Cilla bermain bersama kupu-kupu tersebut. Tanpa disadarinya ia terlalu lama berada di taman tersebut. Ketika akan kembali, Cilla memetik sebuah bunga untuk Ayahnya.

Kamu berjalan riang menuju ke ruangan tempat Ayah dirawat. Namun, sesampainya disana, ia melihat pintu ruangan di tutup dan Bunda menangis. Cilla terkejut, bunganya terjatuh dan segera menghampiri Bunda. Bunda mencoba tenang dan tak membuatmu khawatir. “Bunda, kenapa menangis? Ayah dimana Bunda?” Ucap Cilla polos dan menghapus air mata Bunda.

Bunda menarik Cilla ke pangkuannya dan menjawab pertanyaan Cilla “Ayah ada di dalam kok sayang.. Bunda tidak apa-apa”. Di dalam ruangan, tim dokter sedang berusaha mengembalikan detak jantung Ayahmu. Namun, Tuhan berkata lain, Ia sangat menyayangi Ayah dan memanggilnya lebih dulu. Tim dokter menyampaikan keadaannya dengan berat hati, Cilla yang masih sangat kecil masih belum mengerti. Bunda sangat terpukul dengan keadaan yang ada. Hingga tiba pemakaman Ayah.

Cerita Keluarga: Bunda, Itukah Ayah By Jessica Aprillia Putri Gumilar

Cerita Keluarga Lainnya: Kumpulan Cerita Keluarga

Saat jasad Ayah di baringkan di tanah, Cilla yang melihat bertanya pada sang Bunda, “Bunda, kok ayah tidur di tanah? Kasian Bunda, kan dingin”. Sang Bunda yang tersentak dengan pertanyaan anaknya, mencoba menjawab pertanyaan anaknya dengan tenang “Ayah hanya tidur sebentar kok sayang”. Pemakaman pun berlangsung dengan hikmat, sebelum pulang sang Bunda mencium nisan Ayahnya.” Tanpa disadari setetes air mata mengalir di pipi sang Bunda. 

Cilla menyadari jika ada air mata yang mengalir, lalu mengubah posisinya dan menatap bundanya.
“Bunda menangis? Maafkan Cilla, bunda…”
“Tak apa sayang… Bunda lanjutkan ceritanya ya?”
“2 tahun pun berlalu, Cilla yang bertingkah laku polos saat itu mulai mengerti, kala itu Cilla mengenyam pendidikan di kelas 1 SD. Hingga saat Cilla bermain di taman yang sama seperti 2 tahun lalu, Cilla bertanya pada Bunda, “Bunda, mengapa Ayah belum pulang juga? Apa Ayah marah sama Cilla?”. Bunda kembali tersentak dengan pertanyaanmu, pertanyaan yang mirip dengan 2 tahun lalu. “Ayah sekarang ada di sebuah tempat sayang.. Tempatnya indah sekali, Ayah selalu melihat kita dari sana sayang..” Jawab Bunda sambil menarik Cilla ke pangkuannya.
“Dimana itu, Bunda?” Cilla menatap Bunda. Bunda pun menjawab kembali “Di surga sayang..” Cilla mengangguk, kala itu Cilla mengerti. Cilla mengerti karena saat itu Cilla telah mengenal dengan baik surga dan neraka. Cilla lalu menatap langit, berharap bintang pertama segera muncul. Tak lama kemudian, bintang pertama muncul. Cilla lalu mengucapkan sebuah kalimat tanya yang membuat Bunda terkejut “Bunda, itukah Ayah?” sambil menunjuk ke arah bintang pertama tersebut. Sang Bunda menjawab “Iya sayang.. Itu Ayah”. Tak henti-hentinya mata bening Cilla menatap ke arah bintang pertama tersebut dan tanpa disadari mulut kecilmu mengucapkan “Ayah, Cilla sayang Ayah..” Bunda masih ingat jelas saat itu. Bunda mengerti bila Cilla sering merindukan Ayah.” Sang bunda mengecup kening putrinya.

“Bunda, Cilla memang rindu ayah.. Tapi, Cilla bersyukur masih memiliki bunda…”
Cilla memeluk bundanya dan tersenyum. Sejenak, kepedihan yang dirasakannya hilang. Dicobanya untuk menepis segala pedih di wajahnya, Cilla tak ingin hati Bundanya teriris. Sekalipun, ia begitu merindukan sosok Ayah di sampingnya.
Tak terasa, lima belas menit digunakannya untuk mendengarkan cerita sang Bunda tentang masa terakhirnya bersama sang Ayah. Rumah Cilla memang melewati tempat peristirahatan terakhir sang Ayah. Saat melewati makam tersebut Cilla meminta untuk berhenti dan sekedar melepas rindu serta mendoakan sang Ayah. Ia berlari kecil menuju ke makam sang ayah dengan seragam sekolah yang mulai mengering.

Ia berlutut disamping nisan sang Ayah. Berdoa dengan sepenuh hati untuk sang Ayah. Dalam doanya, Cilla menangis. Kerinduan yang membuat hatinya pedih. Cilla memeluk nisan sang Ayah dan berkata, “Ayah, Cilla rindu ayah…”

Tentang Penulis:
Hai, namaku Jessica Aprillia P. G. Biasa dipanggil Chica. Lahir di Ciamis, 17 April 1999, tapi tinggal di Jepara, Jawa Tengah. Sekarang duduk di bangku SMA kelas X. Entah ini cerpen keberapa yang udah aku tulis. Masih banyak cerpen yang lain, tapi nggak semuanya aku publikasikan. Wanna know more about me? Contact me in:
Twitter : @jessicaprilliaa
Fb : Jessica Aprillia

Ayah Ku Telah Pergi By Oktaviani

AYAH KU TELAH PERGI 
Penulis : Oktaviani

Ayah memang seglanya bagiku,ayah rela kerja banting tulang agar aku bisa menikmati hidup yang indah ini,akuingin ayah selalu ada di sini aku ingin ayah selalu mundampingiku dalam sedih,suka,duka,maupun senang ,aku ingin ayah meliatku tumbuh besar dan bisa melihat aku sukses nanti .

Saat itu aku dan ayah sedang nonton televisi tepatnya hari kamis ,aku dan ayah setiap malam sering kali menonton tv di malam hari itung itung melepaskan rasa lelah,aku dan ayah memang paling dekat dibandingkan kakak & adik,saat televisi berjalan tiba-tiba ayah berbicara seperti ini”ta kalau ayah sudah meninggal nanti kamu jangan lupa doain ayah ya supaya ayah tenang di sana,dan kamu jangan nakal sama mama ,kamu harus jaga adik kamu dan meskipun kamu adik dari teteh kamu kamu harus jaga teteh kamu juga “kata ayah”ayah ngomong appan sih aku gak ngerti maksud ayah!”kata aku sambil sedikit membentak ayah 

Keesokan harinya tepatnya malam jumat ,aku pergi kesekolah disekolah aku dan teman-teman ku senang sekali entah kenapa hari ini aku sangat senang sekali dan rasanya ingin ketawa terbahak-bahak karna aku sedang bercanda dengan temanku 
Seterusnya seperti itu dan begitu seterusnya sampe bel pulang sekolah berbunyi dan aku pulang dengan wajah senang dan tersenyum tapi dibalik senyuman itu kok perasaan ku tidak enak dan aku pun bergegas pulang 

Ayah Ku Telah Pergi By Oktaviani

Sesampaainya di rumah tiba-tiba dirumah banyak orang dan ada orang yg menangis di rumah ku ,dan aku belum sempat turun dari motor ,pas aku masih di motor tiba-tiba ada salah satu orang yg mangatakan “ta cepetan masuk itu ayah kamu lagi,,,,”terpotong ,karena aku langsung pergi
akupun tak berpikir panjang aku langsung menggubrakan motorku di depan rumahku , aku langsung bergegas ke dalam rumah dan aku membantingkan tas yg masih menggendong di punggungku ,akupun langsung masuk kekamar tiba-tiba mamah,adiku menagis di depan ayah ,aku tak di kasih tau sama siapa siapa banyak dokter dan para kiayi mereka memeriksa ayah dan tidak lama kemudian tiba-tiba ayah ku meninggal dunia aku tidak menyangka ayah ku bisa pergi secepat ini padahal aku dan ayah semalem abis mengobrol,andai waktu bisa diputar kembali aku ingin menghabiskan waktu bersama ayah selama mugkin :’( ,aku menagis sekencang mungkin ,tapi percuma tangisanku takan bisa membangunkan ayahku kembali dan akupun berdoa dalam hati “ya allah tolong ampuni dosa-dosa ayah,tempatkanlah ayah disisimu,karna ayah adalah orang yg beriman kepadamu dan dia adalah sosok ayah yang baik yg selalu mengajarkan aku untuk beriman kepadamu ya allah ,yaallah tolong masukanlah dia kedalam surgamu ya allah AMIN,,,”

Hari-hari yang aku jalani kian sepi dan sepertinya aku tidak semangat untuk menjalankan hidup ini tapi mamah yang selalu mengajarkan ku untuk hidup jangan berputus asa,,,
dan aku sedikit kepikiran kata-kata aayah waktu mau meninggal semalamnya ,ayah kan metitipkan pesan kepadaku untuk menjaga adik dan tetehku.

Bismilah aku mulai mengikhlaskan ayah mungkin ini jalan yang terbaik untuk ayah,manusia tidak bisa lari dari takdir yang allah berikan kepada kita dan semenjak kepergian ayah kami belajar hidup hemat yang tadinya boros sekarang belajar untuk hemat dan membantu mamah kerja 
semenjak kepergian ayah mamah rajin mengaji setiap salat pardu dan mamah sering bersedekah atas nama ayah,.sungguh luar biasa ayah meninggalkan kami dengan banyak peninggalan yang berharga.

Selamat jalan ayah kebaikan mu dan pengorbananmu akan selalu ku kenang sepanjang hidupku terimakasih ayah semoga ayah tenang di alam sana .

Tentang Penulis:Nama aku nur oktaviani,aku baru kelas 9, sebenarnya Cerita Ayah ini sudah aku buat sejak kepergian ayahku. Aku tinggal di daerah kuningan jawa barat,dan aku sekolah di SMP Negeri 1 Kalimangis, aku baru umur 14tahun. Mohon do’anya untuk ayahku... SELAMAT MEMBACA!!!

Ayah By Choirur Rodhini

AYAH
Penulis : Choirur Rodhini

Waktu begitu cepat berlalu seiring langkah dalam cerita, terbayang wajahmu dalam hatiku. Kau adalah kisah yang terindah, dalam lelahmu masih kau tersenyum, dalam duka kau belai aku, dalam senyum mu ajarkan aku tegar. Allah selalu bersamamu, Allah selalu bersamamu. Ayah-ayah terimakasih kau beri aku Cinta, ayah-ayah terimakasih ajarkan aku hidup. Alunan musik Opick ft Adiba menemani diriku yang sedang melamun, terbayang-bayang wajahnya dalam otakku. Ingin rasanya aku memeluknya. Rindu, ya...aku rindu sekali padanya ,ku tatapi potretmu berulang kali, ku renungkan kalimat yang diberi.
  
Tuhan yang Esa ampuni dosanya ! tempatkanlah dia di antara kekasih-kekasih-Mu Amiiinnn...
Air mataku berlinang  begitu saja, tanpa sadar membasahi jilbabku. Seketika ku hapus air bening di pipiku, begitu teringat kata-kata ibu "Jangan menangis ! jika kau menangisi orang yang sudah tidak ada, maka dia akan merasa tersiksa !"
itulah pesanya, terpaksa aku menahan tangis, hatiku terasa ada suatu ganjalan. Aku masih ingat, waktu itu ayah berkata "Jadilah anak yang baik,turuti apa kata orang tua sekalipun kamu harus terjun kesumur !" apalagi sa'at aku hendak berangkat sekolah, ia bilang "Sekolah yang pintar!" maksudnya, jadilah anak yang pandai di sekolah. Rasanya aku ingin menangis , aku takut tidak bisa menjadi anak yang baik , apalagi semester kemarin rangking ku menurun. "ayah maafkan aku, aku belum bisa menuruti kata-kata mu!" gumamku dalam hati.

Aku kesepian dirumah sendiri, hanya menatap ruang tamu yang kosong melompong ini sendirian, ibu dan kakakku pergi, sedangkan adikku bermain dirumah temanya. padahal tahun lalu aku jarang dirumah sendiri,dulu aku selalu menghabiskan waktu menonton TV dengan Ayah jika ibu pergi. Atau mendengarkan cerita-cerita masa lalu ayah.
Sa'at itu ayah lahir tahun 1951 dan ibu baru lahir tahun1961, dan mereka yang masih muda sudah dijodohkan oleh kakek dan nenek.
"Hahaha...!" aku tertawa lepas dalam hati, kalau aku sih tidak mungkin mau.
  
Minggu pagi, mulai Minggu ini aku mengikuti kegiatan Language English Training di sekolah, dengan kurun waktu 2 Minggu. Setelah beberapa hari mengikuti English Training aku mulai akrab dengan teman-teman baruku. Waktu sholat Dhuhur berjama'ah telah tiba, kebetulan aku dan ke-6 temanku tidak sholat saat itu. Waktupun kita gunakan untuk makan bersama dan main game untuk bergiliran cerita tentang kehidupan masing-masing, tibalah giliranku untuk bercerita. temanku ingin mendengar cerita tentang Ayahku,karena mereka ingin tahu bagaiman rasanya dan perasa'anku saat itu. 
Kami mulai memebuat lingkaran kecil dan khusuk mendengar ceritaku "Tepat pada bulan Ramadhan, saat itu masih tersisa 3 hari menuju Fitri,setelah sholat tarawih aku belum bisa tidur sama sekali,entah mengapa ? memang aku tidak tahu kenapa hatiku merasa gelisah sekali. Selalu teringat ucapanya saat sakit waktu lalu, saat itu aku dan adikku menemaninya di kamar, dan dia berkata 'panggil seluruh kakak-kakakmu ! suruh mereka semua kesini untuk menjaga ayah !' aku hanya bisa menangis menatap mata sendu seorang ayah yang sudah rentang tua dan lemah,yang kini terbaring di atas kasur. Aku mencoba  menahan air mataku, aku tidak mau ayah melihat aku menangis lalu aku pergi meninggalkan ayah dan menangis, ku kecilkan suaraku agar tidak ada yang tahu bahwa aku menangis. Kudatangi kakakku kusuruh dia menelfon seluruh saudara. Karena ayah berkata seperti itu, tetapi jawabanya hanya singkat 'beritahu ayah, mereka sibuk!' hanya itu.

Ayah By Choirur Rodhini

Dadaku semakin sakit rasanya seperti di cabik-cabik.Dan malamnyalah baru aku sadar bahwa itu adalah tanda bahwa ayah ingin berpamitan dan memeberitahu kepada anak-anaknya,tapi mereka tidak menggubris sama sekali , karena aku tidak bisa menhubungi mereka . Ibu juga pernah bilang padaku bahwa ia pernah bermimpi sandalnya hilang satu dan tinggal sebelah saja,dan menurut arti mimpi itu adalah kehilangan harta atau pasangannya. ibu menceritakan semua itu pada ayah sambil menangis tersedu-sedu,ayah hanya bisa tersenyum pasrah Kepada Takdir Allah.

Pukul 23.00 nafasnya mulai tidak teratur,kedua kakinya sedikit-demi sedikit mulai dingin,kemudian ke lutut,tangan dan hingga ke kepala. Setelah semua keluarga ku berkumpul, kami bersama-sama memebaca surat Yaasiin.
Pukul 12.00 malam lebih ayah menghembuskan nafas terakhir. Aku menjerit tidak bisa menerima kenyataan, tapi apalah daya, ibu bilang jangan menanggis nanti ayahmu akan merasa semakin tersiksa, tahan tangisan mu itu!. Airmatalah  yang mengalir dan mengadu,biarlah air mata yang menjadi saksi pilunya hatiku."

Setelah mendengarkan semua ceritaku teman-temanku ikut menangis terbawa suasana dengan ku,mungkin hati mereka merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Aku mulai bercanda agar mereka tertawa kembali,agar mereka tidak ikut larut dalam kesedihanku.

Pukul 05.00 sore aku baru sampai dirumah,kegiatan disekolah yang padat membuatku lelah. Tak lama kemudian aku sadar, besok adalah hari ulang tahun ayahku, tanggal 7 januari 2013 kutulis dalam agendaku bahwa besok pagi aku harus pergi ke makam untuk memberi kado surat al-fatihah dan Yaasiin untuk ayahku dan menaburkan bungah, mungkin itu yang terbaik untuk sekarang.

Senin pagi, hendak berangkat ke sekolah aku mampir ke tempat makam ayah , kuberikan do'a-do'a kepadanya karena hanya itulah yang bisa aku berikan untuknya. "Happy Anniversary Ayah !...semoga kau bahagia disisi-Nya...Amiiin".

Aku berpesan kepada teman-temanku  bahwa "Jangan pernah kalian sia-siakan orang tua yaitu Ayah dan Ibu, karena tanpa mereka tiadalah kita,karena merekalah kita bisa menjadi seperti sekarang ini. Mereka yang memebimbing dan menjaga kita sejak kecil, berikan mereka senyuman sebagai tanda terimakasih kita kepadanya. Hanya itu yang mampu kita berikan saat ini, sebab merekalah penyemangat kita dan harapan kita. Ayah dan ibu adalah segalanya bagi kita! ." teman-teman mengangguk setuju dan mulai memelukku. Aku tersenyum atas itu dan senang akhirnya mereka Mengerti.

Terimakasih Ayah......kau segalanya bagiku.

One Word for my Mom and Dad
"Everything"

*SELESAI*

Tentang Penulis:Nama : Choirur Rodhini
Alamat : Mojopuro Gede Bungah Gresik
akun Facebook : Dhiniy Choirur ( Pretty Cure Black )

FANSPAGE