Showing posts with label Cerita Perjuangan. Show all posts
Showing posts with label Cerita Perjuangan. Show all posts

Text Me, Please! By Annisa Berliana Dewi

Text Me, Please!
 
Text Me, Please!
Penulis: Annisa Berliana Dewi

Pernahkah kalian para kaum hawa, mengagumi seorang pria yang kalian idolakan? Memang, itu hal yang sangat wajar sekali, tapi tidak bagiku. Aku harus berjuang mati-matian dahulu untuk mendapatkannya, bahkan.. sangat kecil kemungkinan untuk bisa.

“Ocha! Aku sudah dapat informasi tentang si..” kata Cindy, yang tiba-tiba terpotong.
“Sssssst! Jangan keras-keras Cin!” kataku.
Aku dan Cindy memang sahabat dekat. Cindy, adalah sahabat yang selalu membantuku dalam susah maupun duka.
“Iya iya. Dia ulang tahunnya tanggal 12 September, Cha.” kata Cindy sambil membisikiku.
“Jeongmal? (Kata “sungguh” dalam bahasa korea) Ulang tahunnya sama kayak aku, Cin!” jawabku girang.
“Ciye-ciye.. jangan-jangan jodoh!” kata Cindy terkekeh.

Namanya Alvaro. Dia, kakak kelasku di kelas 12. Dia memang sangat keren! Tak sedikit adik kelas yang selalu bertingkah heboh kepadanya. Mungkin, hanya aku satu-satunya perempuan yang tidak bersikap seperti itu. Aku pemalu, lugu, mudah canggung. Mana mungkin Kak Varo bisa mengetahui perasaan gadis pemalu sepertiku? Aku hanya bisa mencari banyak informasi tentangnya, bersama Cindy. Aku ingin sekali sms-an dengan Kakak itu dan menanyakan keadaannya tiap hari. Oh iya, aku nggak pernah lupa menempelkan sebuah lollipop setiap Hari Sabtu di loker barangnya. Tak lupa kutuliska inisial “O” di lollipopnya. Aku senang sekali, Kak Varo selalu memakannya, tidak pernah tidak.

Kini, aku sedang berada dalam masa pencarian nomor hape Kak Varo. Haha, tapi aku selalu gagal. Kakak kelas sekelasnya tak pernah memberitahuku, saat aku bertanya. Huh! Pelit sekali, masa’ nomor Kak Varo di simpen sendiri? Aku pun mencari di situs sekolah, tapi hasilnya nihil.
“Sudahlah, Cha! Jangan terlalu sedih, aku pasti bantu kamu kok cari nomor sekolah, tentang data Kak Varo, tapi tak ketemu. Kak Varo! ;)” kata Cindy menghiburku.
“Thanks, Cin!” kataku sambil memeluknya. “Tapi, kenapa aku berharap setinggi itu? Kak Varo aja nggak kenal aku, Cin :'(” lanjutku.
“Tenang, aja!Habis gini pasti kenal!” kata Cindy.

Aku terus berusaha mencari nomor hape Kak Varo, dan akhirnya.. aku berhasil! Aku menemukan nomor Kak Varo di data kelas. Yay! Tapi.. percuma saja. Aku malu dan tak berani untuk sms Kak Varo. Dadaku terasa sesak karena perasaanku ini, yang selalu kupendam sejak kelas 10.

Suatu hari, Cindy menelponku. “Cha! Katanya, Kak Varo mau les di tempat les kamu!” katanya.
“Iya? Aduh, gimana ini Cin?” tanyaku panik, seneng banget sih aslinya, hehe.
“Aduh gimananya, Cha? Kamu kan seharusnya seneng!” kata Cindy.
“Ah.. gimana, ya? Pokoknya gitu deh. Makasih ya, Cin! I Love You..” kataku sambil menutup telpon dan segera mengambil hape di kasur.

Text Me, Please! By Annisa Berliana Dewi
Text Me, Please! By Annisa Berliana Dewi

‘Halo, Kak, Aku Ocha, Kelas 11-A. Gimana kabar Kakak?’ SMS itu berhasil terkirim, tapi entah kenapa tak ada jawaban dari Kak Varo.
Esoknya, akupun berangkat les. Ternyata, Kak Varo memang benar les di tempatku! Tapi, Kak Varo terlihat acuh dan sama sekali tak memandangku. Aku, jadi sedih dan kehilangan semangat untuk les. Sepulang dari les, aku segera menelpon Cindy dan curhat kepadanya.
“Cin.. Aku nyerah.” kataku sedih.
“Loh, nyerah kenapa, Cha?” kata Cindy bingung.
“Kak Varo.. Aku udah nggak kuat lagi, Cin. Bahkan, dia sama sekali tak menoleh kepadaku tadi.” kataku.
“Jangan putus asa gitu, dong Cha! Kamu udah 2 tahun suka sama Kak Varo, jadinya kayak gini?” kata Cindy.
Aku hanya bisa terdiam, dan tersenyum kembali.
“Oke.. Cin! Aku nggak bakal putus asa lagi! Promise you.. ^^” kataku sambil menutup telponnya.

Esoknya di sekolah, suasana kelas pun gaduh. “Ada apa sih?” kataku heran.
“Kak Varo udah punya pacar ternyata.” jawab Mia, temanku.
“Apa?” kataku. Dadaku sesak, mataku panas, nafasku seakan akan berhenti seketika saat mendengar perkataannya.
Tanpa sadar, akupun mulai menangis untuk sejenak. Cindy pun menghampiriku, dan memelukku.
Waktupun berjalan terus hingga senja datang. Akhir-akhir ini, aku tidak memperdulikan telpon dari Cindy, ataupun yang lain. Tiba-tiba, ponselku kembali berdering untuk ke sekian kalinya.
“Cindy Memanggil..” Aku masih merasa stress karena hal kemarin. Aku tidak mengangkat telpon dari Cindy hingga 5 kali.
“Cha! Jangan hiraukan Mia. Aku tau, Kak Varo hanya menyukaimu, nggak ada yang lain.” kata Cindy.
“Apa?” tanyaku sedih.
“Kak Varo, sering sekali menanyakan tentangmu kepadaku sejak kemarin. Aku yakin, itu pasti karena perasaannya sama kamu, Cha! Aku ingin bilang ke kamu, tapi kamu nggak pernah ngangkat telponku.” kata Cindy.
“Nggak mungkin. SMS ku saja nggak pernah dibalas.” kataku.
“Kak Varo masih nggak berani balas, Cha. Dia malu, dan merasa bersalah sama kamu.” kata Cindy.

Akupun segera mengirim sms ke Kak Varo. “Apa benar, Kakak sudah punya pacar?”
1 SMS dari Kak Varo pun masuk. “Belum, aku hanya ingin jadian dengan adik kelas yang selalu menempelkan lollipop di lokerku. Aku sangat mencintainya.”
Aku gembira sekali! Sejak malam itu, aku dan Kak Varo berpacaran. Kami selalu merayakan ulang tahun kami dengan penuh cinta. Life Happily Ever After!

SELESAI

Tentang Penulis:
Nama: Annisa Berliana Dewi
Hallo, kalian bisa menyapaku “Ica” atau “Annisa” atau “Berlin”, hehe. Hobiku menulis, makan, nge-game, dan membaca. Semoga kalian suka cerpenku ^_^ Oh iya, mohon kritik dan sarannya, yah ke:
fb:annisaberliana.nicha

Senyuman di Langit Awangga By Dwi Surya Ariyadi

Senyuman di Langit Awangga
Penulis: Dwi Surya Ariyadi

Awan mendung menggelayut langit Awangga. Angin dingin berhembus menerkam kebahagian. Semua berganti muram. Awangga telah lelah dipermainkan oleh alam. Dan saat ini negara itu telah jatuh dalam kemurungan. Kesedihan melanda seluruh istana.

Tangisan lirih menggema dari sudut ruangan besar di kaputren. Sebuah ranjang tergeletak dengan sesosok tubuh diatasnya. Terdengar suara isak tangis tertahan. Hari ini apa yang telah dikuatirkan oleh Dewi Surtikanti benar-benar terjadi.

Sejak semalaman kegelisahan dan kebimbangan hatinya terus hinggap, meskipun kata-kata penenang terucap dari Prabu Karna. Semalam adalah malam tersingkat dalam hidupnya. Ia merasa tidak ada lagi yang mampu menopang hidupnya kali ini. Semua telah pergi.



Orang yang dicintainya telah tiada untuk selamanya. Masih terngiang jelas di benaknya. Sentuhan lembut suami tercinta. Masih terasa di tangannya genggaman cinta yang diberikan oleh Prabu Karna. Masih terdengar suara menenangkan suaminya, ketika meminta ijin untuk pamit pergi kesokan hari. Masih tergambar roman muka penuh cinta yang ditampakkan oleh Prabu Karna kepadanya. Bahkan Dewi Surtikanti masih terbayang kecupan lembut di pipinya sebagai penghantar tidur pembuka pintu mimpi semalam.

Namun dari kesemuanya itu, tatapan terakhir Prabu Karnalah yang kuat menusuk hatinya. Tatapan terakhir di pagi buta sebelum meninggalkan istana Awangga. Terpancar di matanya rasa kasih yang selama ini telah menyiram hati Dewi Surtikanti hingga cinta itu takkan pernah terganti oleh siapapun.

Hatinya masih menjerit. Berita yang di bawa oleh pengawal kerajaan beberapa jam yang lalu masih tergeletak di meja. Dia tidak perlu membaca seluruhnya karena satu kalimat akhir telah membuktikan kegelisahannya. Ia tak sadarkan diri ketika mengetahui firasatnya benar-benar terbukti.

Gumpalan awan mendung yang selama ini jarang terlihat di Awangga membuktikan semuanya. Sang surya ikut bersedih karena di tinggal manusia tercintanya. Tidak ada lagi kehangatan sinar yang selalu menjadi kesenangan Dewi Surtikanti ketika sedang bercengkerama dengan suaminya. Semua pudar terganti suasana dingin.

Dewi Surtikanti bangkit dari pembaringan. Matanya merah. Entah sudah berapa banyak air mata yang dikeluarkan hari ini. ia menangis sampai matanya terasa kering karena tak ada lagi tetes air mata yang jatuh. Semua telah tercurahkan. Ia mengedipkan mata. Mencoba menghalau pikiran kalut yang terus hinggap.

Dewi Surtikanti meraih kertas yang ada di atas meja. Dibacanya kembali, kata demi kata. Agar ia yakin kembali. Ia menghela napas panjang. Mencoba menenangkan diri tapi jiwanya tertahan. Sebuah dinding beku telah medinginkan hatinya. Kesedihan telah menggerogoti jiwanya.

ia berusaha bangkit berdiri. Dengan sempoyongan, ia berjalan menuju pintu kamar. Ia ingin keluar dari kaputren untuk menuju istana. Ia ingin segera menjemput jasad suami tercinta. Hal terakhir yang ia inginkan adalah melihat suaminya terbaring tenang dalam menghadapi kehidupan di sisi lain dunia ini.

***

‘Kanda, aku ingin menceritakan suatu hal”, kata-kata lembut keluar dari mulut Dewi Surtikanti. Ia sedang melihat suaminya duduk di tepi ranjang. Prabu Karna segera menoleh. “Apa yang dinda ingin sampaikan?”, tanya Prabu Karna dengan sedikit penasaran. “Tadi malam dinda, bermimpi aneh dan menakutkan, Kanda, dinda bermimpi seekor ular menggigit kaki dinda, dinda panik dan sangat takut sekali. Dan akhirnya dinda terbangun. Saat dinda menoleh, kanda tak ada di samping dinda. Kemanakah kanda tadi malam?. Aku takut sekali”, Dewi Surtikanti menceritakan perihal mimpinya. Tersirat nada gelisah di dalamnya. “Sebuah firasat buruk mungkin saja akan terjadi sesuatu pada diri kanda atau negara Awangga”, ia meneruskan ceritanya.

Dengan lembut, Prabu Karna meraih tangan Dewi Surtikanti. “Tenangkan dirimu dinda, tidak akan terjadi apapun pada dirimu, aku berjanji akan terus disisimu”, ucapnya mesra. “Tapi kanda. aku takut sekali, mimpi itu benar-benar nyata, aku sepertinya masih merasakan sakitnya gigitan ular itu”, ujar Dewi Surtikanti sambil meraba pergelangan kakinya. Ia merasa kalau tadi malam itu bukan mimpi. Tapi entahlah antara sadar atau tidak, ketakutan masih membayanginya.

“Dinda, aku mohon pamit kalau besok akan berangkat pagi-pagi buta, kakang Prabu Duryudana memintaku memimpin langsung perang melawan Pandawa”, ucap Prabu Karna tiba-tiba. Kata-kata itu menghenyakkan seketika kesadaran Dewi Surtikanti. “Apa, kanda akan pergi, bukankan kemarin Eyang Bisma udah turun tangan langsung, kanda sendiri yang berkata kalau tak ada satupun panglima Pandawa yang mampu mengalahkannya, terus mengapa tiba-tiba kanda harus terjun langsung”, ceceran kata-kata Dewi Surtikanti berujung pada bertambah rasa takutnya yang semakin meningkat.
Senyuman di Langit Awangga ByDwi Surya Ariyadi
Senyuman di Langit Awangga ByDwi Surya Ariyadi
“Dinda, dengarkan kanda, ini adalah tugas negara. Kewajiban yang harus dipenuhi seorang abdi negara kepada negaranya. Astina sedang mengalami perang besar dan kanda sebagai bagian dari abdi astina harus bersedia berkorban jika diperlukan. Kanda berhutang budi banyak sekali kepada kakang prabu Duryudana. Astina lah yang telah memberikan kanda derajat dan jabatan. Orang-orang yang dulu meremehkan kanda kini telah berbalik menjadi segan kepada kanda. Semua itu karena jasa kakang prabu Duryudana dan Astina”, kata-kata prabu karna terhenti sejenak. Diraihnya segelas air yang terletak di meja. Diteguknya perlahan.

Prabu Karna menghela napas panjang. Ia berusaha melanjutkan kembali perkataannya kepada sang istri tercinta. “Dinda ingat, kalau tidak karena kakang Prabu Duryudana, aku mungkin tidak akan bisa menikahimu. Ada banyak hal yang harus aku bayar sebagai penebus hutang tersebut. Dinda harus mengerti kalau kanda adalah ksatria yang bertanggung jawab dan berpendirian teguh. Kanda akan membela negara yang telah memberikan banyak hal. Kanda adalah laki-laki yang tahu membalas budi”. Perkataan prabu karna terhenti ketika Dewi Surtikanti bangkit dan duduk didekatnya.

“Aku merasakan firasat buruk esok hari, kanda”. Dewi surtikanti berbicara lirih. Prabu Karna menangkap apa yang sedang dirasakan istrinya. Sebagai laki-laki sejatinya, sudah menjadi tanggung jawabnyalah untuk memberikan ketentraman belahan jiwanya. Dengan penuh sayang di tatap mata indah sang istri.

“Kanda sangat mencintai dinda, bagi kanda firasat yang kamu rasakan sebagai wujud cinta. Aku beruntung memilikimu. Kamu sempurna dimataku. Bagi kanda, tiada orang yang dapat menggantikanmu di hatiku”. Terucap kata-kata manis dan lembut dari bibir Prabu Karna. Dengan mesra didekapnya bahu Dewi Surtikanti. Ia berbisik di telinganya. “Anugerah sang surya telah memberiku jalan terang dalam kehidupan. Aku ingin kamu tetap tegar meskipun cobaan berat menimpamu. Mungkin dinda takut takkan bertemu kanda lagi untuk selamanya. Tapi kanda meyakinkan dinda kalau akan aku berikan senyuman indah ketika kita bertemu lagi esok”.

Malam semakin pekat. Suara jangkrik mulai menghilang. Sang bulan tersembunyi malu dibalik rindangnya awan. Entah siapa yang di lihat oleh bulan, tapi sebuah cahaya putih berkelebat menuju puncak menara Awangga. Semua tampak damai, semua terlihat tentram. Namun sebuah misteri terbungkus tabir siap terbuka dan mengejutkan banyak pihak. Alam telah belajar dari pengalamannya tentang kehidupan. Ketika yang tersurat terlaksana dan tersirat telah bermakna.

***

Tak ada teriakan kesakitan dari wajahnya. Hanya seutas senyum kecil tersungging kaku. Apakah yang tersirat di senyuman itu. Sebuah teka-teki beribu makna. Senyum kesenangan atau ejekan. Tidak ada yang tahu kecuali pemilik senyuman itu sendiri.

Suasana tiba-tiba hening. Matahari bersinar sangat terik. Seolah menunjukkan bahwa siapa pemilik kekuatan kehidupan sesungguhnya. Semua itu tak berlangsung lama. Keheningan telah berganti dengan cepat. Riuh rendah, orang-orang bersorak. Mereka meneriakkan suara kemenangan. Suara kemenangan menenggelamkan kegelisahan hati seseorang yang telah menghantarkan sebuah kehidupan ke sisi lain dunia ini.

Teringat apa yang terjadi ketika dirinya berjibaku menunjukkan siapa yang terpandai dalam olah kanuragan dan ketangkasan memanah. Dan juga peristiwa ketika bertarung memperebutkan sebuah senjata sakti ciptaan dewa dan akhirnya ia hanya mampu merebut sarung senjatanya saja. Bahkan ketika membela seorang puteri yang berujung pada kesalahpahaman hingga akhirnya ia sadar kalau orang yang selama ini menjadi musuh adalah saudaranya sendiri.

Nasihat sang ibu telah mengingatkannya, “anakku Arjuna, bujuklah Karna untuk membela Pandawa, sesungguhnya ia berada pada pihak yang salah, kau harus mengerti Krjuna, Karna tidak seperti yang kau kira. Ia tidak jahat seperti para Kurawa. Ia adalah ksatria sejati. Manusia agung titisan sang dewa”. Kata-kata itu kembali menghampiri pikirannya. “Apakah benar yang dikatakan ibu”, serunya dalam hati.

Ia masih menatap sosok tubuh yang tergeletak di depannya. Darah mengalir dari lehernya. Sebuah anak panah tertancap di sana. Namun wajah dengan senyuman aneh tertuju pada Arjuna. Mengapa kau tersenyum di saat ajal menjemputmu?, tanya Arjuna pada jasad tak bernyawa di depannya.

Karna telah gugur di medan perang. Ia terbunuh oleh arjuna. Apa yang selama ini ia takutkan terjadi. Kematian telah dia takdirkan sendiri jauh sebelum perang di mulai. Karna masih ingat hari sebelumnya, dirinya dibentak kasar oleh Eyang Bisma karena terlalu sombong dan ingin menjadi panglima pasukan Astina. Karna tak peduli kalau sang kusir keretanya adalah mertuanya sendiri. ayah dari sang istri tercinta. Tidak ada prasangka buruk sebelumnya. Namun ketika sebuah kecelakaan kecil menimpa roda belakang kereta, ia sadar kalau semua ilmu yang telah dipelajari tiba-tiba lenyap. Ia seperti domba di kepung kawanan serigala. Hingga akhirnya sebuah anak panah melesat dan menancap di lehernya. Menghilangkan dengan seketika jiwa kehidupannya.

***

Dewi Surtikanti memeluk jasad suaminya yang tersenyum. Ia masih tak percaya kalau sang suami benar-benar telah pergi. Tapi dalam kepergiannya, Prabu Karna ingat akan janjinya. Ia berjanji memberikan senyuman kepadanya ketika bertemu kembali. Dan janji itu benar-benar terlaksana.

Tangisnya tertahan. Ia masih belum bisa melepaskan pelukannya. Di balai besar istana Awangga, suasana berkabung menyelimuti seluruh penghuni istana. Mereka berkabung untuk junjungan yang menjadi panutannya. Prabu Karna tidak hanya adil dan tegas dalam memerintah tetapi juga murah hati dan dermawan. Tak peduli pejabat ataupun rakyat jelata, kalau ia menjumpai orang yang kesulitan selalu dibantunya.

Ketegasannya telah berujung pada ketentraman hidup para rakyat Awangga. Prabu karna tidak pilih kasih dalam menegakkan hukum. Semua sama dimatanya, jika bersalah harus di hukum. Tidak ada yang kebal karena kekuasaan.

Ssemuanya telah pergi. Perang besar telah merenggut nyawa sang ksatria agung. Ia gugur membela negara. Prabu Karna tahu kalau apa yang ia bela salah, dan rela namanya tertulis dalam sejarah sebagai penentang kebajikan. Untuk menegakkan kebaikan, dibutuhkan pengorbanan kebaikan itu sendiri. Dirinya telah memutuskan kalau Kurawa yang ia bela hanya dapat dihentikan dengan menunjukkan pengorbanan kebaikan.

Seseorang berjalan menghampiri Dewi Surtikanti. Ia mendekat lalu duduk bersimpuh. “Terimalah pemberian dari Dewi Kunti, ibu para Pandawa kepada Dewi Surtikanti sebagai ungkapan duka cita yang mendalam. Sebuah peti kayu diletakkan disamping Dewi Surtikanti. Perhatiannya teralihkan sejenak. Ia menatap kotak itu lalu membukanya. Matanya menyipit menghindari sinar putih yang datang dari dalam kotak. Namun itu hanya sementara. Ketika diraihnya secarik kertas yang di gulung rapi. Perlahan gulungan itu di buka dan ia membaca tulisan yang tertera disana.

‘Biarkan restu dan anugerah yang lahir bersama titisan surya tetap mengalir dalam kehidupan yang diciptakannya. Dia berhak diagungkan oleh pemberi cahaya hidup yang telah menggantikan anugerah surya yang hilang sementara. Dan sebuah cahaya akan terus menimbulkan pijar dalam kegelapan tanpa mengeluh terusik oleh kegelisahan’.

Suara tangis bayi menyadarkan Dewi Surtikanti. Rona kebahagian terselip diwajahnya. Sedikit menghapus noda sedih dari hati sejenak. Ia beranjak berdiri dan meninggalkan balai besar tersebut. Ia masuk ke dalam sebuah kamar besar. Didekatinya sumber tangisan itu. Ia menatap bayi mungil yang kini tersenyum riang karena sang ibu ada didekatnya. Ia menggendong bayi itu dan mendekapnya erat-erat. “Cepatlah besar anakku, agar kau memahami apa yang terjadi saat ini dan berjanjilah pada ibu kalau kau akan menegakkan kembali tanah Awangga”.

Cerita Perjuangan: Mencari Kota Yang Hilang By Ruli Hermawan

CERITA PERJUANGAN: MENCARI KOTA YANG HILANG
Penulis:  Ruli Hermawan

Tetesan embun masihlah membasahi rerumputan hijau dijalan yg kulalui. Dinginnya hembusan angin pagi membentur pohon pohon akbar nan rindang. Maka mereka menari tidak pasti arahnya. Masa ini benar-benar periode hujan,nyaris tiap-tiap hri hujan deras menerjang wilayah kekuasaanku. Tidak jarang tidak sedikit yg mati atas kejadian ini. 

Tiba tiba hujan deras menerjang,saking derasnya hingga banjir kira kira 30 centi meter. Serta-merta ku berlari ke satu buah bukit mungil di kanan jalan. Bukit itu benar-benar mungil cuma terdapat satu pohon disana. Namun pohon tersebut lumayan lebat buah & daunnya,lumayan utk sekedar berteduh & sarapan pagi. Waktu sedang asyik makan buah sambil melepas lelah terdengar nada isak tangis.nyata-nyatanya ada seseorang perawan di atas pohon. Tangis semakin jadi waktu kilat menyambar pohon yg di naiki sang perawan. Lantaran gugup saya cepat berlari ke bawah bukit. 

Hujan sudah reda, saya penasaran dgn si perawan malang itu. Alangkah terkejutnya saya dikala menengok ke atas pohon. Perawan itu sudah hilang tidak dengan jejak. Entah apa yg berlangsung dgn perawan tersebut. Lantaran keburu hujan datang lagi saya cepet serta-merta melanjutkan perjalananku ke kota yg hilang. 

Kira Kira 4 kilo meter berlalu saya konsisten tak menemukan tanda tanda kehidupan manusia. Ku tertunduk & terjatuh, kaki ku telah tidak kuat buat diajak berlangsung, nafasku tidak beraturan, rasanya seperti ingin pingsan, pebekalanku telah habis padahal kota itu tetap jauh di belahan bumi sana. Lantaran takut di makan serigala saya memutuskan utk terjadi pelan saja,namun apa boleh untuk,tubuhku terasa lemas & teramat lelah maka saya terjatuh & merasa jauh di dalam alam bawah sadarku.

Ku bermimpi berkenaan ayah & ibu yg berada jauh sekali di kota itu,kota yg belum sempat dikunjungi seseorang pula kecuali masyarakat aslinya sendiri. Berada jauh dgn ortu tidak dengan pengawasan & kasih sayang memang lah jadi aspek yg menyakitkan. Saya terpisah dari orang tuaku waktu saya masihlah mungil,kala rombongan kota tersebut pindah ke belahan bumi lainnya dikarenakan terdapat perang antar seluruhnya wilayah kecuali kotaku. Namun mereka melupakanku. Jauh & sendirian. Semuanya terasa nyata. 

Sebab terperanjat bersama mimpi tersebut saya terbangun. Saya sedang bingung lantaran tiba tiba berada di suatu kamar. Terdengar samar samar nada langkah kaki menghampiriku,semakin dekat semakin terang. Spontan saya serta-merta besembunyi di balik lemari sepuh yg telah dikonsumsi umur. Orang itu telah masuk ke kamar. Badannya tegap,tinggi,tapi agak kurus,sepertinya sih tetap belia,ditangannya ada secangkir minuman & selimut tebal. Orang itu tampaknya sedang mencari ku. Mulai Sejak dari bawah ranjang,sisi area di tengoknya hingga langit langit sekalipun! 

Orang itu kelihatan pasrah,sambil memandang ke arah lemari tempatku bersembunyi. Orang itu mengrenyitkan dahi sambil terjadi pelan ke belakang lemari. Saya gugup tetapi saya mengusahakan kalem & jangan sampai berprasangka jelek dahulu. Orang itu menarikku ke luar & menyeretku ke suatu kursi dulu dirinya tanya. 
“mau apa kau kesini? di luar sana amat berbahaya. Serigala mungkin saja memakanmu hidup hidup. Apabila saja saya tak melalui macam mana nasibmu nanti” 

Setelah Itu saya menuturkan nama,maksudku & maksud perjalananku ke kota tersebut. Orang itu cuma manggut manggut & kemudian beliau menceritakan perjalanannya berpetualang ke kota Oceania kota yg hilang ribuan th yg dulu. 
“namaku Tomas,menyukai bertemu denganmu Felix”katanya lembut. 

Tiba tiba datanglah 3 orang berbadan tinggi,dulu mereka menyapaku. Nyatanya mereka yakni sahabat tomas bernama Richard,Jack ,& yg paling sepuh Edison. 
Dikarenakan jalur perjalanan kami nyaris sama,Tomas memutuskan buat menyambung perjalanan dengan sama.& utk memulihkan keadaanku yg lemah,kami memutuskan utk menginap di hunian lanjut umur ini selagi seminggu. Saya teramat terhibur dgn sahabat baruku,nyatanya dirinya amat pandai memainkan suling,suaranya merdu sekali seperti nada burung berkicau.

Sudah seminggu, waktunya untuk meneruskan perjalanan. 
Hari ini sangat panas,namun aku merasa sangat gembira karena canda dan keunikan mereka masing masing. Karena jarak perjalanan cukup jauh Richard memutuskan untuk menyewa kuda,akhirnya Richard dan Edison bersedia mencari tempat penyewaan kuda yang katanya ada di kota kecil di balik bukit. Setelah seharian menunggu akhirnya Richard dan Edison datang membawa dua ekor kuda. Aku sangat senang karena kami tak perlu lagi capek capek berjalan dan mungkin bisa menghemat tenaga.

Di tengah perjalanan kami bertemu Alan, pelarian dari kota Cruelson. Dia meminta Edison menolongnya dari kejaran tentara Cruelson. Edison menurutinya dan memutuskan untuk melakukan perjalanan secara sembunyi sembunyi. Tetapi kami tak mau berpisah kapanpun karena kami sahabat,akhirnya kami memutuskan untuk menolong Alan meski hukuman untuk para pembantu pelarian sangatlah besar. Untuk tidak menaruh kecurigaan pada tentara cruelson,kami menyarankan Alan untuk menggunakan nama palsu,yaitu David Robinson. Alan pun menyutujuinya.

Tibalah kami di sell city,kota yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pedagang. Dengan sisa uang yang sedikit,kami membeli berapa potong keju dan roti. Setelah itu kami pergi mencari padang rumput untuk mendirikan tenda. Sementara itu Jack menjaga kawasan sekitar tenda dari kejaran tentara cruelson sedangkan Edison dan Alan menggali lubang untuk tempat persembunyian Alan. lubang sudah jadi,tenda jadi dan kondisi aman,tiba tiba Jack mengangkat satu tangannya yang berarti tentara cruelson sudah datang. Tomas segera menyembunyikan alan pada lubang di bawah tenda. Aku dan Edison pura pura merapikan tenda yang rusak karena dimasuki Alan. Jack mencoba meyakinkan bahwa Alan tidak bersama kami.

Setelah tentara tersebut pergi,aku menarik Alan keluar dan bertanya apa kesalahannya sampai dikejar oleh tentara cruelson. Alan menjawab dengan marah kalau dia dituduh menembak kepala polisi cruelson. Aku bingung,kenapa Alan dituduh dengan kejadian sedemikian rupa,aku tahu bahwa Alan sebenarnya tidak melakukan hal sekejam itu. Richard keluar dari tenda dan menyela pembicaraanku dengan Alan. Richard mengejek Alan,karena menurut Richard,Alan menjadi tanggungan berat dan menjadi penghalang perjalanan jauh kami. Tetapi aku menantang Richard dan bersumpah bahwa ucapan Richard tidak benar,Alan marah ia mendorongku dan langsung mengacungkan pedangnya ke Richard. Richard malah menatang Alan dan mengacungkan pedang panjangnya ke Alan sambil mengejek tentang tuduhan Alan tersebut. Alan membalas dengan serangan pedangnya tetapi berhasil ditangkis,aku tidak bisa melerai mereka berdua karena aku sangat takut kepada pedang. Tiba tiba Tomas dating dengan cepat merelai mereka berdua.

Setelah tentara tersebut pergi,aku menarik Alan keluar dan bertanya apa kesalahannya sampai dikejar oleh tentara cruelson. Alan menjawab dengan marah kalau dia dituduh menembak kepala polisi cruelson. Aku bingung,kenapa Alan dituduh dengan kejadian sedemikian rupa,aku tahu bahwa Alan sebenarnya tidak melakukan hal sekejam itu. Richard keluar dari tenda dan menyela pembicaraanku dengan Alan. Richard mengejek Alan karena menurut Richard,Alan menjadi tanggungan berat dan menjadi penghalang perjalanan jauh kami. Tetapi aku menantang Richard dan bersumpah bahwa ucapan Richard tidak benar,Alan marah ia mendorongku dan langsung mengacungkan pedangnya ke Richard. Richard malah menatang Alan dan mengacungkan pedang panjangnya ke Alan sambil mengejek tentang tuduhan Alan tersebut. Alan membalas dengan serangan pedangnya tetapi berhasil ditangkis,aku tidak bisa melerai mereka berdua karena aku sangat takut kepada pedang. Tiba tiba Tomas datang dengan cepat merelai mereka berdua.

Nafas mereka terengah engah,Tomas membanting pedang Richard dan Alan. aku panik karena pedang yang terlempar tersebut hampir mengenai kakiku. Tomas mendorong mereka berdua,lalu pergi. Tidak beberapa lama,Richard menyenggol bahu Alan sehingga terjatuh,dengan merasa tidak bersalah Richard pergi meninggalkan aku dan Alan.

Cerita Perjuangan: Mencari Kota Yang Hilang By Ruli Hermawan

Cerita Perjuangan Lainnya : Kumpulan Cerita Perjuangan

Pagi telah tiba,aku segera mempersiapkan barang barangku untuk perjalanan. Aku tahu kalau Richard masih marah dan berangkan terlebih dahulu dari pada kami. Alangkah terkejutnya aku ketika perbekalan uang dan makanan kami hilang,mungkin sudah diambil Richard,tapi kami memang sangat membutuhkannya. Ternyata peta perjalanan kami hilang! kami tak bisa melakukan apa apa,yang hanya bisa kami lakukan adalah terus berjalan lurus ke depan.

Tidak beberapa lama kami sampai di pesisir pantai,pantai tersebut mempunyai ombak yang sangat ganas dan tinggi. Hal itu membuat kami mengurungkan diri untuk pergi berlayar. Edison mengusulkan kami untuk kembali dan menemui paman dan bibi Edison,yaitu Nicolas Edison dan Mary Ribonson. Kami pun menyetujui usulan Edison,tapi tidak dengan Alan,Alan menolaknya. Aku tidak tahu sama sekali apa maksud Alan,tetapi apapun itu pasti ada maksudnya,semua masih dalam misteri. Edison memaksa Alan,tetapi apa boleh buat Alan tetap pada pendiriannya. Tiba tiba Tomas memainkan sulingnya,suara merdu suling Tomas membuat hati kami terasa tenang sehingga kami berhenti berdebat,dengan berat hati akhirnya Alan menyutujuinya.

Ketika sampai dirumah paman Nicolas,Alan tiba tiba bersembunyi,aku bingung apa maksud Alan sebenarnya,tetapi mungkin ada rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain. Paman Nicolas keluar dia tampak senang ketika keponakannya berkunjung,kami pun dipersilahkan masuk kecuali Alan,dia tampak masih bersembunyi untuk menghindari paman Nicolas. Setelah beberapa lama paman menunjukkan letak pelabuhan yang ada disudut kota,dan dengan baik hati dia memberikan mobil pick up nya. Kami sangat berterimakasih dengan kebaikan hati paman. Aku khawatir apakah Alan mengetahui bahwa kami akan pergi ? ketika mobil keluar dari pekarangan Paman Nicolas,Alan melompat ke belakang mobil,aku terkejut tapi Alan hanya tersenyum.

Setelah sampai ke pelabuhan,kami memutuskan untuk menjual beberapa barang. Apa boleh buat,uang kita sudah habis ya.. lumayan juga sih. Kapal sudah berangkat aku,Tomas,Jack,Alan dan Edison segera menuju ke bagian angkut penumpang. Dalam hati aku berpikir bagaimana nasib Richard nantinya,apakah Richard bisa menyebrang laut yang luas ini dengan kuda curiannya? Kurasa tidak mungkin.

Setelah berjamjam melalui perjalanan laut,kami sangat lapar dan lelah,pelabuhan menjadi tempat kami untuk berbisnis,bisnis ngemis. Bisnis kami tidak berjalan mulus,suling Tomas tersenggol tanganku hingga masuk ke laut,Tomas marah dia langsung mengacungkan pedangnya padaku. Orang orang disekitar berkerumun ingin tahu apa yang sedang terjadi. Alan berusaha menenangkan kami. Tomas benar benar tidak mau mengalah,dia memaksaku untuk mengambilnya kembali padahal ada sebuah kapal besar yang akan berlabuh. Tomas mendorongku,aku terjatuh ke dalam laut dan kepalaku membentur tiang jembatan. Kepalaku terasa sangat pusing,cairan merah mengucur dari dahiku dan aku tak bisa mengontrol diriku lagi, namun suling tersebut sudah di depan mata dengat sekuat tenaga aku meraihnya,lalu setelah itu aku tidak tahu apa apa lagi.

Suara gemuruh terdengar di sekitar telingaku,ku lihat suling Tomas sudah di atas meja. Aku terkejut kepalaku di balut perban,kulihat Alan menutup wajahnya di kursi. Aku berusaha memanggilnya. Dia lalu menceritakan semua yang terjadi pada hari itu,Tomas di penjara aku pun turut berduka ,sementara itu Edison lalu memberitahukan dokter karena aku sudah terbangun.Tomas telah dipenjara,ini semua salahku. Sekarang Tomas pasti sedih karena keinginannya ke kota oceania tidak cepat terwujud.
Seminggu dirumah sakit membuatku bosan,hingga aku memutuskan untuk kabur dari rumah sakit. Meskipun Alan,Edison,dan Jack telah melarangku,tapi aku terus memaksa mereka bertiga untuk melanjutkan perjalanan. Tapi usaha ku tersebut tak berjalan semulus dugaanku,dokter telah menyadarinya. Setelah Jack memberitahu semua yang terjadi dokter tersebut memberi kami peta,makanan,uang dan memperbolehkan kami pergi.

Sebelum aku pergi,aku mengalungi suling Tomas dan mengucapkan selamat tinggal pada dokter yang baik hati tersebut. Kami segera menaiki mobil,sebelum senja tiba kami harus membeli perbekalan lagi. Dari kejauhan kami lihat ada seseorang yang melambaikan tangannya,sepertinya orang itu akan menumpang,disebelahnya terdapat kuda yang terlihat keletihan dan lapar. Alangkah terkejutnya kami ketika melihat siapa orang itu. Ya dia Richard,orang yang telah menghianati kami. Richard tampak terkejut,tanpa basi basi Alan pun memperbolehkan Richard naik.

Tidak beberapa lama setelah itu Richard mendorong Jack yang sedang mengemudikan mobil,aku,Alan,dan Edison berusaha merebut kemudi mobil kami dan perbekalan yang baru saja diberi dokter beberapa kilometer yang lalu. Akan tetapi Richard malah menodongkan pistolnya pada kami,dengan hati hati kami pun mundur dan turun dari mobil. Dengat cepat Ricard pergi tanpa memperdulikan kami.

Senja telah tiba,kami kehabisan bekal apalagi uang. Jadi,kami memutuskan untuk menjual tas,topi dan sepatu apa boleh buat ;-( . Untung aku bertemu dengan Maichel ,yang bersedia membeli semua dagangan kami,kami sangat senang apalagi ia bersedia memberikan tumpangan ke oceania,kebetulan dia mau mengantar kucing kucing terlantar ke perternak kucing di Oceania.

Selama pejalanan aku sibuk bermain dan merawat kucing kucing lucu tersebut sedangkan Alan,Edison,dan Jack bertugas memberi makan dan menghitung kucing kucing yang ada. Kucing kucing tersebut sangat cute dan lucu,kami tak bosan bermain dengan kucing Maichel. Mungkin karena terlalu asyik bermain,tak terasa kami sudah berada di kota Mc justice. Kurang lebih 7 Km dari tempat kami bertemu Michel. Oceania sudah dekat,mungkin 1 atau 2 Km lagi sudah sampai,jujur aku kasihan pada Tomas.

Tibalah kami di persimpangan menuju kota Oceania dan kota yang hilang,yaitu kota Mc garden,kota kelahiranku. Karena arah kami tidak sama,aku terpaksa turun. Walau aku masih ingin bersama para sahabatku. Mereka meninggalkan ku sendirian,tapi tak apa,yang penting mereka selamat,begitu pula Alan. Sekarang aku sudah sampai di tempat tinggalku.. aku sangat kangen pada para sahabatku,aku masih ingat, tentang gadis yang kutemui di bukit. Ini masih menjadi misteri…..

And

Cerita Perjuangan: Besarnya Pejuangan Adik Ku Untuk Hidup By Haryaty

CERITA PERJUANGAN: BESARNYA PEJUANGAN ADIK KU UNTUK HIDUP 
Penulis: Haryaty

Pagi ini suasana sangat menyedihkan,dikala aku ingin tertawa, musibah dalam hatiku selalu datang bertubi"".
Gadis remaja yang tengah berusia 15 tahun yang tengah duduk di bangku SMA, dialah Rya angellia.
Dia sering disapa oleh tmn""nya Rya. Ya dialah anak bungsu dari 3 bersaudara, kakaknya yang bernama Ridwan Ari dialah kakak kedua dari ayah dan ibunya, dan kakak tertuanya yang bernama Retno Jumini, ayah dan ibunya bernama Nurhayaty dan sodik saputra. Ayahnya hanyalah seorang petani dan ibunya seorang ibu rumh tangga.
Dalam suatu ketika Rya berbicara kepada kakaknya.
Rya: kak, bentar lagi study tour, tapiiii.. Apakah aku harus ttp ikut, sedangkan uang buat pembayarannya azh belum terbayar semua.
Ari: iyya dedek bawel, kmu tenang azh kk bakl ngelunasin semuanya, terus uang saku kmuu buat jjn km ada kan, :)
Rya: ada kok.

Ya itulah kehidupan dari keluarganya, keluarga kecil disebuah desa lampung yang bernama Desa Karya Mulya Sari.
Rya bergerutu didlm kmrnya yg mungil.
Rya ""Mungkin lebih baik aku kgak ikut deh, bikin beban kakak azh, iyya sih padahal aku pengen banget,, h m hm, udah dah tdur ajh ke alam mimpi""

Lampu pun telah dimatikan olehnya, diluar sana terdengar suara petikan gitar yg ternyata dimainkan oleh Ari. Pemuda yang berusia 21 tahun itu adalah kakak yang paling mengerti Rya, sedangkan Retno dia kk tertua, tetapi dia telah lama pergi untuk merantau di negri orang, walaupun negri tetangga yaitu malaysa, tetapi itu pun terasa menyedih kan untuk keluarga kecil itu.
2 tahun yang lalu waktu Rya masih duduk di klz 3 MTS, tepatnya di MTS MA SINDANGSARI, sekolah terpencil di desanya, kakak sulungnya itu pergi merantau ke negri tetangga, dia berjanji akan pulang dengan cepatnya nanti. Tetapi setelah dua tahun berlalu retno tak kunjung"" pulang ke kampung.

Cerita Perjuangan: Besarnya Pejuangan Adik Ku Untuk Hidup By Haryaty

Cerita Perjuangan Lainnya: Kumpulan Cerita Perjuangan

Tanpa ia sadari waktu berjalan dengan waktunya, ketika ia kini tlah duduk di klz 2 SMA, nma sekolahnya Adalah SMA MA SINDANGSARI, dia mempunyai banyak teman tetapi dia takut untuk berteman dengan seorang laki"", karna dia takut jatuh cinta pada lki"" tersebut.
Waktu study tour pun tlah tiba,segerombolan anak kelz 2 Ips ituh berangkat ke Yogyakarta dengan menggunakan 2 bis besar. Mereka berangkat dan disana slama 1 minggu.
Setelah kembali dri yogya, Rya jatuh sakit, penyakitnya telah sampai di titik pling besar , penyakit Ginjalnya yng telah lama ia derita dan kinii ia dirwat Di RS. Telah lama ia koma selama 1 bulan, dan akhirnya titik yang tidak di harap oleh keluarganya, ""aku harap kalian bisa merelakan ku tuk pergi"" kata Rya, dengan tersedu""nya keluarga Rya dan Ari kakaknya menjawab ""bila ini yang terbaik untukmu, pergilah dengan tenang kami ihklas bila kau pergi dedek"". Rya pun tersenyum ""hanya 1 pinta ku padamu kakak, sampaikan rinduku pada kak retno,dan jaga bunda dan ayah""
sambil memegang tangan adiknya ia pun mengangguk. Lalu tangan tersebut lepas dengan sendirinya, ""dedek"" ari menjerit histeris. Pergilah dengan tenang, dengan mengecup kening adiknya.

1 minggu berlalu keluarga masih dlam keadaan berduka, Ari masuk ke kmr adiknya, dia melihat semuanya foto"" terakhir dia bersama adiknya. Dia mengingat sesuatu

""kakak, bila nanti aku pergi aku punya pesan buat kakak, :) carilah di buku deary ku""
lalu ia pun bergegas mencari dan membacanya.

Dear deary,
Kakak ku sayang., adek pamit yah, adek tau ini sakit buat kalian semua. Tapi relakan aku buat pergi untuk bertemu dengan tuhan, aku sayang kalian..
Kakak sesungguhnya aku telah membohongi kk dan keluarga, aku mengidap penyakit itu selama aku masih kelas 3 Mts, maaf bila aku tak membri tahu kepada kalian ,, tapi inilah jalan terbaik yang aku putuskan, kakak tolong yah jaga bunda dan ayah. Aku udh capek dengan hidup ini,penyakit ini, aku telah ptus asa untuk bangkit dari semuanya, aku berharap semoga tuhan cepat menyembuhkan ku, tetapi apa??? Aku tak sembuh"" malah sebaliknya aku semakin buruk engan keadaan penyakitku..
Tetapi aku ingin tetap tersenyum dan tertawa didepan kalian.
Terimaksih kakak, aku sayang kakak dan semua..

Semenjak itulah Ari menyadari betapa pedihnya derita adiknya yg dirasakan. 
""selamat jalan adek bawel ku""
sambil menatap bintang.. Dia tersenyum, dan kini mereka semua bahgia dlam keluarga kecilnya tanpa kehadiran gadis berusia 15 tahun itu..

Sekian.
Terima kasih :)

Cerita Perjuangan: The Magic of the Adventure By Ghaziyah Amanda Apdira

CERITA PERJUANGAN: THE MAGIC OF THE ADVENTURE 
Penulis: Ghaziyah Amanda Apdira

Malam ini malam yang melelahkan untuk Bella , Saat natal yang berbahagia ini , Bella harus tidak ikut berlibur di Paris Perancis , padahal semua keluarga besarnya berlibur di Paris Perancis .

Bella harus tinggal di rumah sendirian karena Deskripsi kuliah yang belum dia siapkan beberapa hari ini , Saat tengah malam dan kantuk yang datang , bella mencoba untuk menahannya .
BRUK... Suara besar membuat Bella takut , Bella awalnya tidak mau Memeriksa apa itu namun karena panasaran Bella pun memeriksanya . Perlahan-perlahan kaki Bella melangkah menuju gudang .

Sesampainya di gudang , Dia menemukan Buku .
Mungkin Buku ini yang jatuh akibat senggolan tikus pikir Bella .
Bella pun keluar dari gudang dan menuju kursi dan duduk .
Sebelum dia membuka buku itu , Dia mengusap debu yang ada pada buku itu 
The magic of the adventure yang merupakan judul pada buku itu .

Dia membuka lembar per lembar dari buku tua itu .
Tampaknya sudah ada lembaran yang robek dari buku ini kata Bella
dan Sampai halaman terakhir , Buku itu membuat Bella bingung , bagaimana ini bisa terjadi ? Oh Tuhan , gambar kalung yang ada dibuku ini mirip sekali punya ku dari Ibu pikir Bella
Kemudian Bella membaca keterangan kalung itu lalu dia menemukan bahwa kalung itu adalah Kalung Sihir dari keturunan Velosya , Tak lama timbul 2 orang dibelakangnya .

Hay kata seorang perempuan dengan suara mengerikan .
Ya kata Bella menoleh kebelakang
Ah .. Teriak Bella
maaf , membuatmu kaget kata Seorang laki-laki sebayanya

Cerita Perjuangan: The Magic of the Adventure By Ghaziyah Amanda Apdira

Cerita Perjuangan Lainnya: Kumpulan Cerita Perjuangan

Bella kemudian Menarik napas dalam- dalam dan menenangkan pikirannya sejenak .
Saya Jay dan ini kakakku Veila kata Jay
kali...an dari ma..na? Tanya Bella sedikit terbata-bata
jangan takut , Kami dari Planet Sihir membutuhkan kamu untuk menyelamatkan Planet kami kata Veila
bagaimana saya dapat membantu kalian ? , saya bukan siapa-siapa kata Bella
kamu bisa . Kamu mempunyai kalung dan buku magic ini kata Jay mengambil Kalung dari meja .
Sekarang ikut kami kata Veila
Aku tak mau jawab Bella dengan singkat
tolonglah kami , planet kami sedang ada Masalah kata Jay
beberapa menit ruangan terbisu tanpa ada suara .
Oke , aku mau tapi kalian harus menyiapkan Deskripsi ku dulu kata Bella
siap kata Veila .
Veila kemudian Menyihir Deskripsi Bella menjadi selesai .
Bella amat senang sekali , Deskiprisinya Telah selesai .
Tak lama Veila dan Jay membawa Bella ke Planet sihir dengan sekejap Bella sudah berada di planet Sihir , Veila menjelaskan tentang proses pada Planet Sihir dan penyihir jahat yang membuat planet sihir hitam kelam .

Bella bersedih mendengar Penjelasan Veila tentang Penderitaan Rakyat Planet Sihir namun kesedihannya berlangsung mulai Hilang saat Jay menghiburnya .
Mereka lalu berangkat ke istana kegelapan tempat penyihir itu berada .
Istana kegelapan itu sangat jauh dan banyak sekali Rintangan nya dan hampir pula Nyawa Bella melayang .

Hingga Akhirnya mereka bisa sampai dan mengalahkan Penyihir yang jahat dan kuat , Hingga Akhirnya planet itu kembali Damai dan Aman .
Bella terbangun dari cahaya mentari yang silau .
Ternyata mimpi kata Bella

Oh tidak Deskripsiku belum beres kata Bella langsung memeriksa Deskripsinya ternyata sudah siap membuat Bella amat terbingung , namun Bella hanya menyangka itu perasaanya saja .
Setelah itu Bella mandi dan menyiapkan hari natalnya .

Cerita Perjuangan: Merdeka By Yvan Irdan

CERITA PERJUANGAN: MERDEKA 
Penulis : Yvan Irdan

”Merdeka…merdeka…merdeka.”Kata itulah yang sering keluar dari guru PMP(Pendidikan Moral Pancasila) Praja,Pak Suwanto namanya.Beliau telah mengajar selama lebih dari 10 tahun di MTs Al-Mukmin.Walaupun kelihatan orangnya sederhana,tetapi jangan ditanya pengalaman apapun pasti bisa dijawabnya dengan rapih.Ya,seperti biasa,setelah pelajaran PMP berakhir murid-murid kelas 3 MTs Al-Mukmin bergegas pulang.Seperti halnya dengan Praja,bocah berusia 14 tahun ini langsung pulang ke rumah untuk melakukan tugas utamanya yang tidak lain adalah menggembalakan kambing dan sapi milik tetangganya,ya nambah-nambah uang untuk menyambung hidup bersama kedua orang tuanya yang pekerjaan bapaknya hanyalah petani dan ibunya yang bekerja sebagai penjahit rumahan.

“Pak,aku mau gembalain sapi dan kambinge pak To dulu”.kata Praja.”Yo uwes gembalain sana gih,mumpung matahari masih agak redup sinarnya,hati-hati ya nak”balas ayahnya.”Ya Pak,Assalamualaikum”.ungkap Praja.”Waalaikumsalam”Sambung ayahnya.Praja pun bergegas ke padang rumput yang terletak tidak jauh dari rumahnya sambil membawa sapi dan kambingnya Pak To.Setelah sesampainya disana hamparan hijaunya rumput telah menyambut kedatangan Praja.Lantas Praja langsung membiarkan kambing dan sapinya memakan hijaunya rumput tersebut.Sambil menggembalakan hewannya Praja baring-baring di bawah pohon yang terletak di padang rumput itu.Tak lama setelah menggembalakan kambing dan sapinya,tiba-tiba terdengar suara ledakan yang cukup dahsyat berasal tak jauh dari tempat menggembalakan hewannya.Praja lalu bergegas ke sumber ledakan tadi yang ternyata berasal dari 3 desa dari desa tempat ia tinggal.Dan disana telah ada beberapa kerumunan warga yang melihat-lihat apa yang terjadi.Disitu pun pula ada teman Praja yang bernama Gasan.”Gas ada apa ya ini?”Tanya Praja”aku ora ngerti juga e.”jawab Gasan.”Yuk kita lihat yuk.”ajak Praja.”Ayo.”balas Gasan.Mereka pun menembus kerumunan warga yang melihat peristiwa itu.Tak lama kemudian rumah-rumah telah hancur berserakan dan hangus terbakar.”Wah kenapa ini,rumah kok sudah hancur seperti ini”tanggap Gasan.”Iya –iya ckckckck”sambung Praja.

Tiba-tiba setelah mereka melihat peristiwa itu,ada sekompi tentara Belanda yang masuk ke desa dan menangkap warga desa tersebut.Untung Gasan dan Praja lari dengan sekuat-kuatnya meninggalkan tempat tadi dan langsung menuju ke padang rumput tempat Praja menggembalakan hewannya.”huh huh huh huh”suara capeknya mereka berdua terdengar kencang.”Ja untung kita tadi cepat larinya,kalau tidak kita pasti sudah tertangkap sama tentara-tentara itu”kata Gasan.”iya,pasti mereka mau menjadikan kita budak-budak mereka”jawab Praja.”kasihan ya mereka yang ditangkap disiksa dan dikejami tanpa ampun,andai aku bisa mengusir tentara-tentara itu dari tanahku Indonesia ini”kata Praja.”Ia aku juga ingin sepertimu”balas Gasan.Setelah kejadian itu mereka berdua lalu pulang ke desa mereka dan menceritakan kejadian itu kepada warga desa.

Cerita Perjuangan: Merdeka By Yvan Irdan
Cerita Perjuangan Lainnya : KUMPULAN CERITA PERJUANGAN

Kemudian mereka lalu mengumpulkan warga desa untuk diberi pengarahan untuk mengungsi karena agar tidak terjadi korban kebiadaban Belanda lagi.”Assalamualaikum,warga desa sekalian tadi,saya dengan kawanku Gasan telah melihat peristiwa yang mengiris batin.warga desa yang terletak dari 3 desa dari desa kita telah diserang oleh tentara Belanda dan disiksa tanpa ampun,dan saya yakin mereka akan menyerang desa kita ini oleh karena itu kita harus mengungsi ke tempat yang aman.”Kata Praja.”ah tidak mungkin itu hanya khayalanmu aja”kata salah satu warga.”ia ia itu hanya mimpi kali”tambah yang lain.”Salah itu benar-benar terjadi”.jawab Praja”ah bohong itu,ayo udah ngapain kita dengar suara anak kecil tidak penting ini”Kata yang lain.”Tapi……”kata Gasan.Belum sempat ngomong,warga desa pun bubar dan kembali melakukan aktivitas mereka masing-masing.Dengan berat hati Praja dan Gasan menerima kenyataan itu.Tetapi mereka berdua tetap yakin bahwa tentara-tentara Belanda itu akan menyerang desa ini.Mereka berdua pun pulang ke rumah masing-masing,Praja lalu mengembalikan hewan gembalaannya kepada Pak To.Dan mendapat upah atas jasanya tersebut.

Malam harinya Praja menceritakan kejadian tadi siang kepada kedua orangtuanya.”Pak,tadi siang Praja lihat desa seberang tak jauh cuma 3 desa dari kita diserang oleh Belanda”
“Ah le..le.. kamu ini bicara opo to,gak enek to Belanda nyerang kita,wong Negara kita ni dah merdeka”jawab Ayahnya.”Memang Pak udah merdeka tapi siapa tahu mereka mau menjajah Negara ini kembali.”tangkis Praja.”Lah lah le..le.. masih kecil pikiranmu wes luas koyok ngono”kata Ayahnya.”he.he.he.tapi ini bisa jadi gawat pak bagaimana kalau mereka nyerang desa kita ini.?”Ulas Praja.”Le..le.. wes malam ini turu sana gih”jawab Ayahnya”Ya Pak”Balas Praja.Praja pun tidur dengan ditemani lampu neon dan gemericik suara jangkrik di malam hari.

Keesokan harinya, Praja bangun dari tempat tidur yang terbuat dari tikar dengan wajah malas.Maklum hari ini hari minggu jadi,sekolah libur.Praja pun bergegas mandi dan membantu ibunya membereskan rumah.Setelah itu Praja pamit ke orangtuanya untuk bermain bersama Gasan.”Pak,Bu aku dolanan karo Gasan desek”Kata Praja.”io hati-hati yo”balas ayahnya.Sesampainya di rumah Gasan.Praja mengajak Gasan untuk bermain di sungai dan dia ingin mencurahkan sebuah ide yang didapatnya kepada sahabat karibnya itu.Sesampainya di sungai,Praja mengutarakan idenya tersebut kepada Gasan.”San aku punya ide nih tentang tentara Belanda itu”kata Praja.”ide apa Ja”jawab Gasan.”nih,dengarkan baik-baik,aku punya ide bagaimana kalau kita membuat sebuah pondok untuk kita jadikan markas.”terang Praja “Markas apaan?”Tanya Gasan.”Itu markas kita untuk melawan tentara Belanda”jawab Praja”boleh juga tuh”kata Gasan”Ya udah kalau kamu setuju kita buat aja sekarang”ulas Praja.”ayo”kata Gasan.

Mereka pun membuat pondok dengan bahan kayu jati yang mereka tebang dan letak pondok itu cukup strategis yaitu di rerimbunan sebelah desa mereka.Setelah setengah hari bekerja,pondok mungil mereka pun jadi dan mereka menamakannya “Pondok Garuda”.”Terus di pondok ini kita mau ngapain ya?”kata Gasan.”Di pondok inilah kita membuat perlengkapan untuk melawan tentara-tentara itu,seperti bambu runcing .”jawab Praja.”okelah kalu begitu”kata Gasan.

Setiap hari,setelah pulang sekolah mereka mampir ke pondok untuk membuat senjata seadanya yaitu bambu runcing.Secara terus-menerus mereka membuat bambu runcing,sehingga sampai-sampai terbuat 50 bambu runcing.Pada suatu hari,ketika mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang ke rumah,tiba-tiba mereka melihat dari balik semak-semak.Tentara-tentara Belanda menyerbu desa mereka,jika ada yang melawan, mereka akan menembaknya tak terkecuali Ayahanda Gasan tercinta beliau ditembak bertubi-tubi oleh tentara Belanda karena ingin melawan mereka dengan senjata hanya sebilah clurit.Gasan pun tak sanggup menahan air mata yang jatuh membasahi pipinya.”Sabar San yang sabar”Praja menenangkanya.Kemudian yang lain ditangkap dan dijadikan budak-budak mereka.Bendera Merah Putih yang berkibar di depan rumah Pak Kades diambil,disobek-sobek lalu dibakar dengan kejam.Hati Praja seakan teriris dengan kejadian itu.Keluarga Praja juga menjadi korban keganasan Belanda tersebut,ayah dan ibunya menjadi budak suruhan Belanda. 

Sesaat setelah kejadian itu Praja dan Gasan kembali ke pondok untuk bersenbunyi dari Tentara-tentara Belanda.Saat itu pula kekejaman Belanda terdengar sampai ke markas TNI yang berada di kota tersebut.TNI pun berencana untuk menyerbu tentara-tentara Belanda.

Gasan dan Praja lalu bermalam di pondok mereka dan untuk menyiapkan bekal yang rencananya akan melawan tentara Belanda.Keesokan harinya,mereka mempersiapkan peralatan yang mereka butuhkan untuk melawan penjajah negeri ini.Tak disangka pula ternyata ada tentara-tentara Indonesia yang cepat tanggap terhadap peristiwa kemarin.Mereka membentuk suatu kompi dan bersembunyi di dekat desa Praja dan Gasan untuk menyergap musuh pada malam hari.Gasan dan Praja lalu mengintip para tentara ini dari pondok mereka.Lalu, Gasan mempunyai ide.”Ja aku punya ide nih,bagaimana kalau kita diam-diam menyerbu Belanda bersama tentara-tentara kita,jadi pada saat mereka menyerbu Belanda kita ngikut dari belakang tanpa diketahui sama tentara kita agar kita bisa ikut berperang melawan Belanda.”kata Gasan.”Oke komandan”jawab Praja dengan sigap.

Malam harinya,mereka bersiaga untuk melihat-lihat apakah tentara Indonesia sudah melakukan penyerbuan atau belum.Sebelum mereka berperang,Gasan berdoa kepada tuhan dan dia merelakan kematian ayahnya dan dia berjanji akan melawan Belanda hingga titik darah penghabisan demi Indonesia ini.Janji yang sama pun dipegang oleh Praja.Dengan memakai ikat kepala Merah Putih di kepala mereka,mereka siap mati untuk Bumi Pertiwi.Dan saat yang ditunggu tiba,TNI mulai menyerbu dan menyerang tentara Belanda,dibelakang mereka muncul 2 sosok anak muda dengan mambawa bambu runcing berlari kearah tentara Belanda dan mulai menusuk bambu runcing ke tubuh mereka,satu persatu tentara Belanda jatuh terkena hantaman peluru dan tusukan bambu milik mereka.Pada saat itu Praja membebaskan kedua orangtuanya yang dikurung di gudang kantor Desa.Dan Gasan masih tetap berjuang melawan Belanda,dengan gigih Gasan maju kea rah tentara Belanda dan mulai mengibarkan bendera Merah Putih yang dia ikat di bambu runcing tersebut.Praja pun tak mau kalah Merah Putih pun berkibar di ujung bambu runcing Praja.Namun,peristiwa yang mengejutkan terjadi seorang tentara Belanda mengambil senapan caliber dan mulai menembakkan senjatanya tersebut ke arah pembawa bendera Merah Putih yang paling depan yaitu Gasan.Dengan tubuh kecilnya,ia terjatuh dan tersungkur di tanah dengan darah yang tumpah kemana-mana karena diberondong peluru di bagian dada.Praja pun berlari ke-arah Gasan lalu mengambil bendera yang jatuh bersama Gasan.Kemudian Praja berlari kearah penembak tersebut.Tak sampai di penembak itu, Praja pun jatuh ke tanah tetapi ia berhasil melemparkan bambu runcing bersama bendera Merah Putih kearah penembak itu,Dan penembak itu pun mati.Praja jatuh ke tanah dengan berlumuran darah di sekitar pakaiannya.

Tak lama kemudian kedua bocah tersebut gugur dalam mengibarkan bendera Merah Putih.Dan tentara Belanda pun kalah.Akhirnya cita-cita mereka berdua terkabul dengan tetesan dan tumpahan darah hingga nyawa mereka melayang.Desa mereka dan bahkan Indonesia akan tetap merdeka untuk selamanya.

Tentang Penulis:
Haloo,, nama saya Yvan Irdan,, saya berasal Sorong, Papua Barat,, semoga anda menikmati cerita perjuangan ini ya

Lagu Untuk Matahari By Murni Oktarina

LAGU UNTUK MATAHARI
Penulis : Murni Oktarina

Ayolah, Fania! Coba dulu, lama-lama kamu akan terbiasa!” bujuk Anto padaku dengan setengah memaksa.
Aku menggeleng kuat-kuat. “Aku tak mau! Itu tidak halal, Anto!” seruku lalu pergi meninggalkannya.
“Ah, sok suci kamu. Anak jalanan seperti kita ini tidak usah lagi memikirkan halal atau haram!” jerit Anto keras dengan wajah kesal.

Dengan hati miris, kulangkahkan kaki menyusuri jalanan beraspal di pinggiran Pasar Cinde. Aku menyesali sikap Anto, temanku itu. Ya, dia kini menambah penghasilannya yang biasa mengamen menjadi tukang copet. Entah dari siapa dia belajar, yang pasti aku tak akan mau menjadi pencopet seperti dirinya. Biarlah aku tetap seperti ini, mengamen di bus kota dan mobil-mobil yang berhenti di lampu merah. Walau hasilnya terkadang tak cukup, aku lebih bahagia karena uang yang kudapat merupakan uang halal. Aku tak akan menambah kehinaan diriku yang sudah menjadi anak jalanan dengan predikat sebagai tukang copet.

Sesampainya di lampu merah simpang Rumah Sakit Charitas, langsung kuhampiri sebuah Avanza hitam. Dengan riang kunyanyikan sebuah lagu kesukaanku.

“…. Di sudut jalan ini
Di bawah lampu merah
Bermandi peluh, membasah tubuh
Demi sekolahku….”
(Selamat Tinggal Lampu Merah – Fadly)

Ibu setengah baya di dalam mobil itu memberi selembar uang berwarna coklat. Aku tersenyum senang dan mengucapkan terima kasih. Lampu telah berganti hijau dan kuseret langkahku menuju pinggiran jalan dan duduk di bawah pohon besar. Baru beberapa menit aku bernyanyi tadi, panas matahari sangat terasa menusuk kulitku. Saat ini Kota Palembang memang sedang musim panas, wajar saja matahari tidak terlalu bersahabat.

Dua jam sudah aku berjuang di antara debu dan kebisingan kendaraan. Kini kuputuskan untuk beristirahat, duduk di pinggiran toko sambil memainkan alat musik sederhana yang kubuat dari beberapa tutup botol yang direkatkan pada kayu berukuran 25 cm. Tanpa sengaja, dari kejauhan kulihat Anto sedang menghitung isi dompet yang berada di tangannya. Ah, dia kembali berhasil melakukan perbuatan jahat itu. Aku pura-pura tak melihat Anto saat ia menoleh ke arahku.

Beberapa menit kunikmati istirahatku sambil memandang ke langit nan biru. Matahari memancarkan cahaya teriknya sembari seolah tersenyum padaku. Ya, satu-satunya teman yang paling setia padaku adalah sang matahari. Ketika aku mengamen untuk mencari sesuap nasi, hanya matahari yang masih memberikan perhatiannya untukku. Merasakan panasnya juga senyumannya membuatku bersemangat. Dan dengan riang, aku pun menendangkan lagu, bernyanyi untuk matahari.

Baru saja berdendang, seketika tubuhku gemetar dan jantungku seakan meloncat keluar. Laki-laki gendut dengan kepala botak dan kumis yang cukup tebal, sedang berjalan di pinggiran toko-toko dan sebentar lagi melintas ke arah tempat diriku yang sedang duduk melepas lelah. Aku berlari kencang ke kiri dan bersembunyi di balik pagar yang menurutku aman. Aku duduk berjongkok dan membenamkan wajahku di kaki. Airmata mengalir membasahi pipiku dengan tiba-tiba tanpa kuhendaki. Dalam tangis, kembali kuteringat kejadian buruk yang membawaku menjadi seorang anak jalanan.
***

Lagu Untuk Matahari By Murni Oktarina

“Bu, Fania tidak mau berpisah dengan teman-teman di sini, juga berpisah dengan Ibu!” teriakku dengan airmata bercucuran.
“Fania akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada di panti ini, jika ikut bersama Bapak itu,” bujuk Bu Amira padaku sambil menunjuk ke arah laki-laki yang berkumis dan kepalanya ditutupi sebuah topi yang kebesaran.

Aku menggeleng dan langsung memeluk Bu Amira. Laki-laki yang ditunjukkan Bu Amira padaku tadi bernama Pak Arman. Dia hendak mengadopsiku menjadi anaknya. Dengan lembut Pak Arman berkata padaku, “Tenang saja, Bapak akan membiayai semua kebutuhan Fania. Bapak akan menyekolahkan Fania di SMP yang terbaik di Palembang,”

Setengah jam kemudian, aku sudah berdiri di dekat pintu mobil Pak Arman. Teman-teman dan para pengurus panti memandangku dengan wajah sedih karena sebentar lagi kami akan berpisah. Bu Amira tersenyum padaku namun tangis sedihnya tak dapat ia sembunyikan. Di Panti Asuhan Suara Hati ini, aku adalah anak kesayangan Bu Amira. Aku tahu ia sangat berat melepasku, namun demi kebaikanku dia merelakan diriku untuk diadopsi Pak Arman.

Mobil melaju dari Kota Kayuagung ke Kota Palembang dengan cukup cepat. Selama di perjalanan aku tertidur dan saat terbangun kami sudah sampai. Aku turun dari mobil dengan menggandeng tas biru berisi sedikit pakaianku. Tadi Pak Arman bilang tak perlu membawa banyak-banyak pakaian karena ia akan membelikan pakaian baru untukku.

Di hadapanku kini berdiri sebuah rumah kecil nan kumuh, berdinding kayu dan berlantai semen. Rumah sederhana itu tak seperti di panti dan sangat jauh dari kesan bersih apalagi indah, Dalam hati aku bertanya-tanya, kenapa aku malah di bawah ke sini. Kulihat Pak Arman memberikan beberapa lembar uang pada sopir mobil yang membawa kami tadi. Setelah menerima uang dari Pak Arman, sopir itu langsung membawa mobil, pergi entah ke mana.
“Ayo, masuk!” kata Pak Arman padaku yang hanya terpaku keheranan.
“Iya, Pak.” jawabku sembari menganggukkan kepala.
Lagi-lagi aku keheranan. Ternyata ada beberapa anak di dalam rumah ini yang sedang duduk berkeliling membentuk lingkaran. Mereka masih kecil-kecil dan ada dua orang yang sepertinya seusia denganku. Aku disuruh duduk di sebelah anak laki-laki berambut ikal dan berkulit hitam. Rata-rata semua anak di sini memang berkulit hitam dan dekil.
“Perkenalkan teman baru kalian! Namanya Fania berusia 15 tahun. Ia baru saja tamat SMP dan berencana akan melanjutkan ke SMA. Lucu sekali, bukan? Hahaha…!” suara Pak Arman yang tertawa membahana, terdengar bergema di dalam rumah kecil yang amat kotor ini.

Aku tersenyum pada sebelas anak yang memandangku dengan wajah sedih. Aku kebingungan dengan sikap mereka. Pak Arman keluar rumah setelah menyuruhku berganti pakaian yang diberikannya. Pakaian yang bau dan kotor.
“Kamu akan menyesal karena sudah ditipu lelaki brengsek itu. Ayo, cepatlah berganti pakaian! Kita harus bekerja!” ujar anak perempuan yang seusia denganku.

Dan di sinilah semua penderitaan menderaku. Ternyata aku diadopsi bukan untuk dirawat dengan baik. Akan tetapi, aku dijadikan sebagai budak pencari nafkah untuk Pak Arman. Aku harus mengamen, mengemis, bahkan bila perlu menjadi seorang pencopet. “Asalkan dapat uang, semua cara harus dilakukan!” kata Pak Arman dengan keras.
“Jangan hanya menangis! Tak perlu lagi menyesal karena kamu sudah jauh dari panti. Sekarang cepat cari uang atau aku tak akan memberimu makan!” Pak Arman berteriak penuh emosi setiap kali aku hanya berdiri mematung di pinggiran jalan, dekat lampu merah Simpang Jakabaring.

Setelah dua minggu hidup bersama teman-teman baruku dan Pak Arman, aku mulai terbiasa walau Pak Arman berkali-kali memarahiku dengan kata-kata kasarnya. Bahkan Pak Arman beberapa kali memukul tubuhku hingga meninggalkan bekas luka. Namun aku tetap bersyukur pada Tuhan yang masih memberikan kesempatan hidup untukku.

Kini, aku bukan lagi anak yang bersih dan sehat, aku sudah menjadi dekil dan kurus seperti mereka, anak-anak malang yang nasibnya sama sepertiku saat ini. Ternyata Pak Arman sudah berkali-kali melakukan penipuan dengan berpura-pura akan menjadi orangtua asuh, tapi nyatanya malah menjadikan anak yang diadopsinya sebagai budak pencari nafkah demi kepentingan pribadinya dan kelakuan buruknya. Pak Arman adalah seorang penjudi, pemabuk dan seorang pencopet yang pernah masuk penjara. Tapi dirinya tak pernah sadar dari perbuatannya
“Fania, sebenarnya kami sangat kasihan padamu. Kami selalu berdoa agar tak ada lagi anak malang yang dibawa Pak Arman ke sini. Tapi ternyata Pak Arman masih saja melakukan perbuatan jahatnya. Kamu harus berhati-hati pada Pak Arman, jangan sampai mengalami hal buruk seperti yang terjadi pada kami!” ujar Septi sungguh-sungguh di tengah malam saat aku belum bisa tidur.
“Memangnya hal buruk apa itu, Sep?” tanyaku dengan bingung sambil memandang lekat pada wajah Septi.
“Aku tak bisa mengatakannya, Fan.” jawab Septi yang kemudian mulai memejamkan matanya.

Aku dan teman-temanku selalu tidur di lantai yang dingin karena tak memiliki alas apa-apa. Sedangkan Pak Arman sudah terlelap di kamarnya yang memiliki kasur dan selimut. Ah, beginilah nasibku sekarang. Mau tidak mau, aku harus menjalani sulitnya hidup dalam kekangan lelaki jahat yang tak memiliki belas kasihan pada anak-anak seperti kami.
Hari ini, di bawah langit siang dengan cahaya matahari yang terasa sangat menyengat kulit, aku mendendangkan lagu yang kupelajari dari Septi. Lagu yang menjadi favoritku itu kunyanyikan dengan senang hati untuk mencari recehan dari tangan-tangan orang yang kasihan melihatku.

Jika aku menyanyikan lagu ini di saat matahari bersinar terik, aku seakan bisa melihat senyuman matahari di atas langit sana. Di sudut lampu merah adalah tempat keseharianku mengais uang sedikit demi sedikit. Pekerjaanku hanyalah mengamen, karena menurutku mengamen adalah satu-satunya pekerjaan terbaik yang ditawarkan Pak Arman padaku daripada mengemis atau mencopet.

Aku pulang ketika langit sudah sangat gelap dan kendaraan sudah mulai sedikit berlalu lalang. Jika pulang, kami belum diperbolehkan tidur oleh Pak Arman sebelum dia pulang ke rumah. Pak Arman pulang ke rumah di atas pukul satu malam. Jadi kami hanya memiliki waktu kurang lebih selama empat jam untuk tidur, karena pukul lima pagi kami sudah harus berada di jalanan untuk bekerja.

Pak Arman masuk dengan mendobrak pintu dengan sangat keras. Kami yang sedang berguling-guling langsung bangun karena terkejut. “Hey, kamu ke kamar sekarang!” perintah Pak Arman beringas sambil menunjuk ke arahku

Segera kuikuti Pak Arman menuju kamarnya. Tangan Septi sempat menarik tanganku untuk mencegah namun segera kulepaskan karena takut akan kemarahan Pak Arman jika aku terlambat sedikit saja menuruti perintahnya.

Aku ditarik dengan kasar dan direbahkan di atas kasur usang tanpa seprai. Aku kebingungan atas perbuatan Pak Arman. Kupandangi wajahnya yang hitam dan kotor. Kepalanya yang botak makin menambah keburukan di wajahnya.

Airmataku jatuh perlahan saat Pak Arman membuka celananya dengan tergesa dan memdekatiku. Ia menyibakkan rok yang kupakai.
“Jangan, Pak!” jeritku histeris sembari berusaha melepaskan diri dari dekapan Pak Arman yang sangat kuat.
“Diam!” perintah Pak Arman. Ia menciumi tubuhku dengan kesetanan.

Aku menangis dan merintih ketakutan atas perbuatan bejat Pak Arman. Dengan penuh kesadaran, aku menendang tepat pada selangkangannya dan berhasil. Pak Arman melepaskanku dan terduduk sambil merintih karena merasakan sakit akibat tendanganku. Aku segera keluar dari kamar. Teman-teman memandang iba padaku. Aku mengambil tas yang berisi pakaianku dan segera melarikan diri dari rumah ini.
***

Kuusap airmata yang terus berjatuhan dengan derasnya membasahi kedua belah pipiku. Napasku tak teratur karena begitu takutnya melihat Pak Arman tadi. Aku keluar dari persembunyian dan mengamati jalanan untuk memastikan laki-laki botak yang tadi kulihat sudah tak ada di sini. Aku menarik napas lega dan menuju ke tengah jalan untuk mengamen lagi.

Masih jelas terbayang kejadian pahit yang kualami seminggu yang lalu saat masih di rumah Pak Arman. Aku sangat berharap tidak akan bertemu lagi dengan lelaki bejat itu. Aku sudah cukup puas hidup di jalanan sekarang, walau tanpa rumah aku bisa bebas dari kekejaman Pak Arman.

Namun harapanku sepertinya tak dikabulkan, karena Pak Arman turun dari bus kota tepat di sampingku yang sedang bernyanyi. Dia mencengkeram tubuhku dan menusukkan pisau tajam ke bagian dadaku. Seketika darah mengucur deras dan aku terjatuh ke jalanan. Masih sempat kulihat Pak Arman melarikan diri karena beberapa orang berteriak ngeri melihat darah yang keluar dari tubuhku. Setelah itu, aku tak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya.

Tubuhku terasa ringan dan melayang. Aku mulai sadar jika aku tak mampu lagi menikmati kehidupan. Nyawaku harus berakhir di sudut lampu merah ini, di bawah guyuran air hujan yang deras dan dingin. “Matahari, maafkan aku karena tak bisa lagi menyanyikan sebuah lagu untukmu. Selamat tinggal!” kataku berbisik di antara napas terakhir.

SELESAI

FANSPAGE